Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Waspada! Ini Dia 5 Efek Jangka Panjang Covid-19 Pada Pasien yang Telah Sembuh

Kelelahan hingga depresi

Hampir setahun berlalu sejak kasus pertama, COVID-19 kini telah menyebar ke banyak negara dan menginfeksi hingga 60 jutaan orang. Sejauh ini, Amerika Serikat masih menduduki peringkat pertama dengan kasus terbanyak mencapai sekitar 13,2 juta kasus lalu disusul oleh India dengan 9,3 juta kasus dan Brazil dengan 6,24 juta kasus.

Banyak yang meregang nyawa akibat penyakit satu ini, namun tidak sedikit pula yang berhasil sembuh dan kembali menjalani hidup di tengah pandemi. Penelitian pun gencar dilakukan dengan harapan bisa segera menaklukan penyakit tersebut sehingga pandemi cepat berakhir dan segalanya kembali normal.

Dari sekian penelitian yang dilakukan, salah satu temuan menunjukkan bahwa sebagian pasien yang sudah sembuh masih merasakan gejala-gejala COVID-19 lebih dari dua minggu bahkan hingga berbulan-bulan meskipun telah dinyatakan negatif dari COVID-19. Orang-orang yang mengalami masalah ini kerap disebut ‘long hauler’ sementara kondisinya dinamai sindrom pasca COVID-19 atau ‘long COVID-19’.

Dengan kata lain, kondisi tersebut bisa dibilang merupakan efek jangka panjang COVID-19 pada para penderita yang sudah dinyatakan sembuh. Lansia dan pasien dengan banyak masalah kesehatan mungkin lebih rentan mengalami efek jangka panjang COVID-19.

Meski begitu, dalam beberapa kasus, efek jangka panjang COVID-19 justru dialami oleh mereka yang lebih muda (antara 20- 40 tahun) dan sehat dengan kategori kasus COVID-19 ringan atau sedang. Kendati merupakan penyakit baru dan masih dalam proses penelitian, para peneliti belum yakin tentang efek yang ditimbulkan penyakit ini berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah pertama kali terjangkit.

Mereka pun masih mencoba memahami cara terbaik untuk merawat para long hauler. Herd immunity yang sempat dicetuskan untuk meredakan pandemi ini pun sangat tidak dianjurkan mengingat vaksin belum tersedia. Karenanya, yang paling ampuh tentunya mencegah diri sendiri untuk tidak terjangkit COVID-19 sejak awal dengan melakukan berbagai protokol kesehatan yang sudah diterapkan. Dengan begitu, jumlah kasus long COVID-19 pun bisa ditekan.

Lalu, apa saja sih efek jangka panjang COVID-19 ini?

Kelelahan

@entersge via Unsplash

Efek jangka panjang COVID-19 yang dialami setiap orang bisa berbeda-beda. Namun, kelelahan berlebih dianggap seagai efek jangka panjang COVID-19 yang paling sering dialami oleh para long hauler. Akibat rasa lelah tersebut, mereka harus berusaha keras hanya untuk bangun tidur, berjalan beberapa langkah, dan bekerja untuk beberapa menit sampai beberapa jam saja. Menurut para peneliti, rasa lelah tersebut biasanya menyerang akibat aktivitas fisik maupun mental dan tidak bisa diatasi dengan sekadar beristirahat.

Kerusakan pada Paru-Paru, Jantung dan Otak

@wavebreakmedia via Freepik

Dari sekian banyak gejala yang ditimbulkan oleh COVID-19, kamu bisa menarik kesimpulan bahwa penyakit ini pada dasarnya menyerang organ pernapasa. Namun, efek jangka panjang COVID-19 mungkin berdampak tidak hanya pada paru-paru saja, melainkan jantung dan otak juga.

Dalam penelitian pada bulan Agustus lalu, beberapa orang dengan kasus COVID-19 parah seringkali pulang dengan tanda-tanda fibrosis paru, jaringan parut pada paru-paru sehingga mempersulit tugas organ tersebut untuk mengoksidasi darah. Bagi sebagian orang, gangguan tersebut bisa menyebabkan kesulitan bernapas jangka panjang. Kesulitan bernapas ini juga merupakan salah satu efek jangka panjang COVID-19 yang paling sering dialami long hauler.

Penelitian lainnya mendapati sejumlah orang yang terkena COVID-19 menunjukkan tanda-tanda bahwa penyakit tersebut memengaruhi otot jantung mereka. Para peneliti berasumsi bahwa hal ini bisa saja menyebabkan peradangan pada otot tersebut (miokarditis) atau bahkan gagal jantung karena kurangnya oksigen.

Sementara itu, efek jangka panjang COVID-19 pada otak bisa menyebabkan stroke, kejang hingga sindrom Guillan-Barre (kondisi yang menyebabkan kelumpuhan sementara). Selain itu, COVID-19 juga mungkin dapat meningkatkan risiko berkembangnya penyakit Parkinson dan Alzheimer.

Pembekuan Darah

@rashevskymedia via Freepik

COVID-19 diyakini dapat menyebabkan sel darah menggumpal. Stroke dan serangan jantung umumnya terjadi akibat gumpalan darah yang besar. Namun, dalam kasus COVID-19, kerusakan pada jantung kebanyakan diakibatkan oleh gumpalan-gumpalan kecil yang menyumbat pembuluh darah kecil pada otot jantung. Selain berpengaruh pada jantung, pembekuan darah tersebut juga bisa berdampak pada kaki, hati hingga ginjal.

Selain pembekuan darah, COVID-19 juga berpotensi melemahkan pembuluh darah dan membuatnya bocor. Hal ini kemudian berisiko menyebabkan masalah jangka panjang pada hati dan ginjal.

Kabut Otak

@pch.vector via Freepik

Efek jangka panjang COVID-19 bisa saja berbeda atau sama pada setiap orangnya. Selain kelelahan dan kesulitasn bernapasa yang kerap paling sering dialami long hauler, sebagian juga merasaka sesuatu yang disebut brain fog atau kabut otak.

Secara garis besar, gangguan ini dapat menyebabkan seseorang kehilangan ingatan, kebingungan dan sulit berkonsentrasi. Beberapa orang mengungkap mereka melupakan sesuatu seolah-olah ada kabut di alam otak mereka sehingga melemahkan kemampuan kognitif mereka.

Mereka merasa susah mengingat kata-kata atau mengungkapkan apa yang ingin diucapkan, dan lupa apa yang baru saja didengarnya. Ada juga kasus long hauler yang lupa tempat menyimpan obat atau kunci, nomor telepon yang sebelumnya sangat dia ingat, bahkan peraturan lalu lintas.Selain itu, kegiatan multitasking dirasa sangat tidak mungkin dilakukan karena mereka membutuhkan waktu lebih banyak untuk melakukan sesuatu.

Para peneliti belum bisa memastikan mengapa para pasien tersebut mengalami kabut otak. Beberapa berpendapat hal tersebut mungkin berkaitan dengan sindrom kelelahan pasca infeksi. Karena itu, meskipun terdengar cukup mengerikan, efek jangka panjang COVID-19 ini bukanlah hal yang tidak biasa mengingat sejumlah pasien harus terisolasi cukup lama di rumah sakit dan bergantung pada alat-alat medis seperti ventilator.

Mood Swing

@benwhitephotography via Unsplash

Efek jangka panjang COVID-19 lainnya tidak melulu dirasakan secara fisik. Orang-orang yang terjangkit COVID-19, setelah terkurung lama di dalam rumah sakit bisa saja mengalami gangguan kecemasan, stres hingga depresi.

Setelah dinyatakan sembuh, mereka tidak serta merta merasa tenang. Mereka kerap kali dihantui rasa takut apakah merekan sudah benar-benar sembuh atau justru dapat tertular lagi di kemudian hari. Selain itu, efek jangka panjang COVID-19 secara fisik juga semakin memperburuk suasana hati mereka, terlebih efek tersebut bisa datang tanpa diduga dan menghambat aktivitas mereka.

Pandemi COVID-19 bisa berpengaruh pada kesehatan mental banyak orang karena berbagai faktor. Salah satunya adalah isolasi yang menyebabkan banyak orang tertahan di rumah masing-masing dan membuat mereka merasa jenuh hingga kesepian.

Kalau kamu termasuk yang merasa jenuh dengan suasan rumah kamu, kamu bisa mencari suasana baru namun tetap melakukan protokol kesehatan. Caranya, menginap saja di Bobobox!

Di era pandemi ini, Bobobox telah menerapkan sejumlah aturan yang akan membuat kamu tetap aman dan nyaman. Aturan tersebut meliputi:

Pengecekan suhu tubuh oleh host

Kewajiban menggunakan masker untuk semua pihak

Kebiasaan mencuci tangan atau membersihkannya dengan hand sanitize

Physical distancing

Kewajiban membawa alat makan dan alat salat pribadi

Selain aturan-aturan tersebut, Bobobox juga menyediakan tim cleaner yang senantiasa menjaga kebersihan seluruh area Bobobox. Penyemprotan disinfektan serta penggantian linen dalam pod akan dilakukan secara berkala demi kenyamanan dan kemanan kamu. Selain itu, tersedia juga obat-obatan standar yang bisa kamu gunakan agar tubuh kamu tetap sehat dan fit.

Tertarik mencoba? Yuk unduh aplikasi Bobobox di Play Store  dan App Store dan pesan kamar yang kamu mau!

You might also like