Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Singkirkan Kebiasaan Menggunakan Sedotan Plastik dari Sekarang, Yuk!

“Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit”. Mungkin itulah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan keadaan bumi yang telah dikotori oleh gunungan sampah sedotan plastik. Penggunaan sedotan sekali pakai di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia yaitu mencapai angka 93.244.847 batang tiap harinya. Angka tersebut berkontribusi besar terhadap masalah limbah plastik yang kian mengancam kelangsungan bumi dan perairan global.

Oleh karena itu, saat ini tengah gencar digalakkan upaya untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, salah satunya adalah sedotan plastik. Bahkan, di beberapa negara seperti Taiwan, Belize, Inggris, dan beberapa kota di Amerika Serikat telah melarang penggunaan sedotan plastik. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Mengubah kebiasaan masyarakat untuk tidak menggunakan sedotan plastik ternyata tidak semudah yang dibayangkan, terutama di Indonesia. Perlu usaha ekstra agar masyrakakatnya sadar terhadap efek negatif yang ditimbulkan oleh hal-hal kecil seperti memakai sedotan plastik terhadap lingkungan. Padahal saat ini sudah ada sedotan yang terbuat dari logam, bambu, kaca, akrilik, bahkan dari kertas yang lebih ramah lingkungan untuk mengganti kebiasaan memakai sedotan plastik.

Sedotan logam

Diantara semua sedotan non-plastik, sedotan logam adalah jenis sedotan yang paling digandrungi, terutama oleh kaum millenial. Sedotan logam bersifat ramah lingkungan karena sangat awet dan dapat digunakan berkali-kali. Sedotan ini terbuat dari ragam bahan logam, mulai dari alumunium, stainless steel, sampai dengan titanium. Meskipun dibuat dari logam, namun tetap aman kok, sebab rata-rata produk sedotan logam sudah dilapisi anti karat.

Sedotan bambu

Salah satu material alami yang lebih bersifat reusable pengganti sedotan plastik adalah sedotan yang terbuat dari bambu. Selain alami dan bisa digunakan berkali-kali, sedotan bambu juga ramah lingkungan karena mudah terurai. Dilihat dari segi bobot, sedotan bambu memiliki bobot yang lebih ringan jika dibandingkan dengan sedotan logam maupun kaca.

Sedotan kaca

Satu lagi, sedotan yang dapat dipakai berkali-kali adalah sedotan kaca. Sedotan ini memiliki tampilan yang bening sehingga memudahkan proses pembersihan. Keunggulan lain dari bahan kaca adalah tahan panas. Tetapi, karena terbuat dari bahan kaca, sedotan ini tidak disarankan untuk digunakan oleh anak-anak serta dibawa secara mobile karena rawan pecah. Sebaiknya, kamu menggunakan jenis sedotan ini untuk di rumah, atau pada saat akan digunakan di luar, lebih berhati-hati, ya!

Sedotan kertas

Salah satu jenis sedotan yang digadang-gadang akan menjadi pengganti sedotan plastik yang efektif di masa depan. Sedotan dari bahan kertas jauh mudah terurai ketimbang sedotan plastik sehingga ramah lingkungan. Misalnya saja biodegradable paper straw yang dapat hancur dalam waktu 40-90 hari. Sedotan ini juga memiliki desain dan warna yang beragam dan pastinya sangat cantik dan menggemaskan. namun, kelemahan sedotan jenis ini adalah mudah robek jika tercelup dalam waktu yang lama.

Sedotan silicon

Salah satu keunggulan dari sedotan jenis ini adalah teksturnya yang elastis sehingga mudah dilipat dan dibawa kemanapun kamu pergi. Ukuranya pun relative besar sehingga mudah sangat cocok digunakan untuk menyedot minuman yang mengandung jelly. Cara membersihkan sedotan jenis ini juga terbilang mudah lho, kamu cukup rebus sedotan dengan air mendidih agar tetap steril.

Sedotan akrilik

Sedotan dari bahan akrilik juga bisa menjadi pilihan sedotan yang bisa dipakai ulang dengan warna yang menarik. Meskipun demikian, bahan akrilik mirip dengan bahan kaca, bisa retak bila terjatuh atau dicuci berulang-ulang, jadi bila tidak hati-hati masa pemakaiannya pun tak terlalu lama.

Nah, dari banyaknya alternatif sedotan plastik yang di atas, kenapa masih banyak orang memilih untuk menggunakan sedotan plastik? Nih, Bob jelasin!

Ketidakpedulian masyarakat

Banyak masyarakat yang seolah tidak peduli dengan efek yang ditimbulkan dari sedotan plastik sekali pakai terhadap lingkungan. Biasanya jika ditanya rata-rata beralibi “satu sedotan nggak akan berdampak signifikan kok”.  Padahal, jika satu keluarga, satu kampung, satu kecamatan, satu kota, bahkan satu negara memiliki pola pikir yang sama, bisa dibayangkan sepertinya permasalahan ini tidak aka nada ujungnya, ya.

Menganggap sedotan non-plastik itu tidak praktis

Ingin serba praktis nampaknya memang karakteristik para milenial, ya. Maunya serba praktis dan anti ribet. Banyak yang menganggap bahwa sedotan non-plastik itu sangat ribet untuk dibawa kemana-mana. Padahal, saat membeli sedotan non-plastik seperti sedotan logam, kamu sudah mendapatkan wadahnya secara cuma-cuma, tentunya bisa memudahkan kamu untuk membawanya saat makan di luar.

Malas mencuci

Salah satu factor yang membuat sedotan plastik lebih digandrungi daripada sedotan jenis lainnya adalah karena sifatnya yang sekali pakai. Setelah dipakai, penggunanya tinggal membuang sedotan ke tempat sampah. Berbeda halnya dengan sedotan non-plastik yang harus dicuci setelah digunakan agar tetap steril. Meskipun begitu, sedotan jenis ini lebih aman dibandingkan dengan sedotan plastik yang beresiko penyakit karena mengandung senyawa kimia berbahaya.

Beberapa kafe/resto masih menyediakan sedotan plastik

Saat ini, beberapa restoran cepat saji dan kefe sudah mulai menghentikan penggunaan sedotan plastik. Namun, jumlahnya masih sedikit. Masih banyak restoran, kafe bahkan warung di luar sana yang masih menggunakan sedotan plastik dan tentu menjadi salah satu fakto kenapa masyarakat masih susah untuk move on dari sedotan plastik.

Pada kenyataannya, mengubah kebiasaan masyarakat untuk berhenti menggunakan sedotan plastik memang tidak mudah. Tetapi, cobalah mulai dari diri sendiri. Dengan begitu kamu bisa menularkannya kepada yang lainnya. Yuk mulai biasakan hidup tanpa sedotan plastik dari sekarang! Masa kalah sama Bob sih 😊

Comments
Loading...