Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Ini Dia Miskonsepsi Tentang Kesehatan Mental yang Diromantisasikan Media dan Budaya Pop

Apakah hal ini merupakan representasi yang baik atau justru malah membahayakan?

Trigger warning: Artikel ini mengandung konten yang mungkin tidak nyaman dan dapat mentrigger beberapa orang karena akan membahas hal seputar kesehatan mental, self-harm dan lainnya.

Meskipun diskusi terkait kesehatan mental makin sini makin meningkat, perdebatan dan miskonsepsi terhadap hal yang sama pun makin simpang siur. Media dan kultur budaya pop yang niatnya mencoba untuk merepresentasikan kesehatan mental dan membuka obrolan tentang topik ini pun malah banyak yang melewatkan hal-hal penting, seperti empati dan cara mereka menggambarkan kesehatan mental tersebut. Alhasil, representasi mereka ini malah berbuah menjadi miskonsepsi dan jatuh kepada jurang romantisasi toksik.

 

Romantisasi toksik kesehatan mental

Christoper Ott via Unsplash

Dalam sepuluh tahun belakangan ini, pembahasan tentang kesehatan mental mulai meluas. Kesadaran orang-orang terhadap kesehatan mental pun makin meningkat. Dari yang awalnya menganggap topik ini sebagai sesuatu yang tabu, kita sebagai kolektif sudah mulai menyadari pentingnya kesehatan mental. Meskipun begitu, bukan berarti maraknya topik tentang kesehatan mental ini tidak datang tanpa masalah-masalah lain.

Alis via We Heart It

Romantiasi toksik terhadap kesehatan mental mulai bisa dilihat pada awal-awal era digital. Kanal media sosial seperti Tumblr pada sekitar tahun 2012 bisa dibilang tombak awal munculnya budaya romantisasi toksik ini. Foto-foto dengan tone warna yang gelap atau hitam putih yang menampilkan orang-orang murung, penyalahgunaan minuman keras dan rokok dengan dibubuhi quotes-quotes pun mulai menyebar.

Salah satu pesan problematik romantisasi toksik yang sering disampaikan berbunyi seperti “Mungkin orang-orang yang ingin bunuh diri hanyalah malaikat yang ingin pulang.”. Meskipun penting untuk meningkatkan kesadaran orang lain terhadap masalah bunuh diri, glorifikasi dan romantisasi toksik seperti itu justru malah memperparah kondisi.

Sampai sekarang, tagar #selfharm atau #depression di berbagai media sosial pun dipenuhi oleh konten-konten yang triggering tapi dikemas sedemikian rupa. Romantisasi toksik ini membuat seakan-akan kesehatan mental yang buruk merupakan sesuatu yang ‘indah’. Belum lagi, karya-karya seni seperti musik yang niatnya mencoba untuk memberikan representasi terhadap masalah kesehatan mental malah disalah kaprahkan menjadi sebuah glorifikasi dan romantisasi toksik, apalagi untuk orang-orang di bawah umur.

 

Representasi kesehatan mental pada budaya populer yang menuai miskonsepsi dan berujung menjadi romantisasi toksik

13 Reasons Why via Entertainment Factor

Maraknya pembahasan tentang kesehatan mental mulai menjadi sebuah peluang bagi industri-industri budaya populer seperti film dan musik untuk merepresentasikan kesehatan mental lewat romantisasi toksik. Salah satu budaya populer yang terkenal akan topiknya yang sensitif ini adalah serial buatan Netflix. Serial ini berjudul 13 Reasons Why. Perilisan ini menuai kontroversi karena selain membuka ruang untuk diskusi terkait kesehatan mental, pengemasan mereka malah menjadi romantisasi toksik dengan menglorifikasikan bunuh diri.

Pada serial tersebut, adegan pemeran utamanya bunuh diri ditontonkan secara gamblang dan graphic. Hal ini tentu sangat berbahaya, terutama untuk sebuah tontonan dengan target market remaja yang kondisi emosionalnya saja masih belum stabil. Selain itu, gagasan serial ini yang malah membuat bunuh diri sebagai cara untuk balas dendam amat sangat problematik dan merupakan romantisasi toksik.

13 Reasons Why via Entertainment Factor

Akibatnya, sebuah riset di Amerika oleh Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry mengatakan bahwa tingkat bunuh diri pada remaja umur 10 sampai 17 meningkat drastis setelah sebulan perilisan serial tersebut. Hal ini menunjukan bahwa glorifikasi dan romantisasi toksik kesehatan mental yang buruk punya dampak yang sangat besar untuk masyarakat, khususnya remaja.

Joker via Batman News

Selain Netflix, film-film blockbuster yang semestinya memberikan representasi terhadap kesehatan mental malah jatuh ke jurang romantisasi toksik yang sama seperti Joker. Gagasan ‘orang jahat adalah orang baik yang terlukai‘ justru malah menjadi gagasan yang berbahaya dan menginvalidasi orang-orang dengan gangguan mental karena menganggap bahwa pelaku kekerasan melakukannya karena gangguan mental.

 

Mengapa romantisasi toksik kesehatan mental berbahaya dan malah memperparah stigma

Anh Nguyen via Unsplash

Romantisasi toksik terhadap kesehatan mental buruk ini berbahaya, baik untuk mereka yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya ataupun orang lain. Ketika kita membuat romantisasi toksik terhadap gangguan kesehatan mental, kita malah mengambil fokus dari orang-orang yang memang sedang berjuang dan struggling dengan gangguan kesehatan mental.

Mereka yang melakukan self-harm menjadi lebih susah untuk mendapatkan pertolongan dari keluarga atau orang-orang terdekatnya karena dianggap hanya mengikuti ‘tren’ dari romantisasi toksik ini. Kultur-kultur bekerja keras tanpa istirahat malah menjadi romantisasi toksik oleh banyaknya institusi pendidikan dan perusahaan yang mengesampingkan dampaknya untuk kesehatan mental. Katanya sih, no pain, no gain. Padahal, beristirahat untuk memelihara kesehatan mental lah yang harusnya dinormalisasi.

 

Framing media terhadap kesehatan mental dan dampaknya

Bruno Bučar via Unsplash

Karena banyaknya romantisasi toksik terhadap kesehatan mental yang beserbaran di media sosial, orang-orang yang sedang bergelut dengan masalah kesehatan mental pun kena imbasnya karena kembali diberi stigma. Framing oleh media malah seakan-akan membuat pejuang gangguan kesehatan mental ini hanyalah orang-orang yang cari perhatian. Belum lagi, masih banyak pemberitaan yang tidak punya perspektif empati ketika memuat masalah-masalah terkait gangguan kesehatan mental dan bunuh diri.

Dampaknya, kesadaran orang-orang terhadap kesehatan mental dan bunuh diri jadi makin tersendat. Hal ini makin merugikan pejuang kesehatan mental karena stigma yang makin kuat dari masyarakat. Perjuangan-perjuangan mereka jadi direduksi hanya sebatas ‘orang-orang yang kurang beribadah’ atau ‘nggak punya kemauan untuk sembuh’. Padahal melupakan bahwa akar masalahnya di sini adalah romantisasi toksik kesehatan mental serta akses bantuan profesional yang tidak merata.

 

Bagaimana kita bisa merepresentasikan kesehatan mental dengan lebih baik tanpa romantisasi toksik

Rosie Fraser via Unsplash

Meskipun posisi kita sekarang jauh lebih baik dari belasan dan puluhan tahun yang lalu ketika berbicara soal kesehatan mental, stigma terhadapnya pun masih melekat. Semua diskusi dan bahasan terkait masalah romantisasi toksik kesehatan mental pun perlu disampaikan dengan empati. Dengan hanya mereduksi orang yang membutuhkan bantuan sebagai orang yang cari perhatian, hal tersebut justru malah menginvalidasi pergelutan yang dialami pejuang gangguan kesehatan mental.

Kita masih punya PR yang panjang untuk menghentikan romantisasi toksik terhadap kesehatan mental dan meningkatkan kesadaran terhadap topik yang sama. Namun, semua bisa dimulai dengan cara yang paling sederhana. Mulailah mendengarkan dan mengerti terhadap satu sama lain. Perlu diingat pula bahwa semua orang melewati perjuangan yang berbeda-beda, jadi, jangan pernah berhenti untuk bersikap baik kepada orang lain ya!

 

Beristirahat di Bobobox

Aktivitas dan rutinitas sehari-hari yang padat bisa membuatmu menjadi stres dan kecapean. Untuk itu, boleh nih dicoba untuk sejenak beristirahat dengan staycation singkat di Bobobox. Masih penasaran? Yuk download aplikasinya dan dapatkan promo menarik lainnya!

Kamu juga bisa keliling-keliling pods Bobobox dari rumah, lho! Klik di sini untuk memulai virtual tour.

 

Disclaimer

Dan Meyers via Unsplash

Jika Anda memiliki pemikiran untuk melakukan bunuh diri, jangan sungkan untuk menghubungi orang terdekat maupun menghubungi lembaga-lembaga yang menyediakan pertolongan profesional. Bagi Anda yang merasa bahwa teman-teman Anda membutuhkan pertolongan profesional, jangan ragu untuk merujuk mereka dan hadir untuk mereka. Kita tidak sedang hanya membicarakan tentang mereka yang berisiko bunuh diri tetapi kita juga sedang membicarakan masa depan anak bangsa.

Daftar Lembaga Rujukan:

Yayasan Pulih | (021) 78842580

Jl. Tlk. Peleng No.63A, RT.5/RW.8, 8,

Ps. Minggu, Jakarta Selatan,

Kota Jakarta Selatan,

Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12520

E-mail: pulihfoundation@gmail.com

 

Into the Light

intothelight@gmail.com

pendampingan.itl@gmail.com

 

LSM IMAJI (Inti Mata Jiwa) | (0274) 2840227

mail@imaji.or.id

 

LSM Jangan Bunuh Diri | (021) 96969293

janganbunuhdiri@yahoo.com

You might also like