Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Menguak Sisi Gelap Kemanusiaan: Review The Devil All the Time yang Dibintangi Tom Holland

Sisi kelam dan suram kemanusiaan dan agama

Bobobox.co.id — Tom Holland bisa dibilang sebagai salah satu aktor muda yang tengah menikmati popularitas yang sedang menanjak. Hal ini ia rasakan setelah ia memerankan sosok Spider-Man di Marvel Cinematic Universe.

Setelahnya, ia pun rajin tampil di berbagai film box office. Salah satunya adalah The Devill All the Time yang akan bob ulas. Review The Devil All the Time ini bisa saja meyakinkanmu apakah film ini worth it atau tidak untuk ditonton.

Film ini sendiri dirilis pada 16 September 2020 yang lalu. Mengusung genre psychological thriller, film satu ini bisa dikategorikan sebagai film yang masih satu rumpun dengan film macam The Shining.

Bagi kamu yang penasaran soal review The Devil All the Time, tak usah berlama-lama, simak ulasan singkat mengenai film yang sudah bisa kamu saksikan di Netflix berikut ini. Apakah sesuai dengan ekspektasimu?

Menguak Sisi Gelap Kemanusiaan

Tema yang diusung oleh film yang sudah dipersiapkan Campos selama lima tahun ini sebenarnya cukup berat. Bertemakan kemanusiaan yang menyerempet juga soal agama di sepanjang jalan filmnya.

Tone yang disuguhkan cenderung terasa begitu suram, pelan, namun akan ‘membakar’mu di setengah hingga akhir filmnya. Sisi gelap inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dari film berdurasi 2 jam 18 menit ini.

Sisi gelap kemanusiaan yang berusaha digali pun semakin lengkap dan mampu membuatmu semakin tertarik untuk mengikutinya. Pasalnya, kamu akan kesulitan dalam menentukan siapa antagonis dan protagonisnya.

Tak seperti film pada umumnya, review The Devil All the Time ini menawarkan dua sisi baik buruknya tiap karakter. Jadi, tidak ada yang benar-benar terlihat baik juga yang benar-benar melakukan kejahatan sepanjang film.

Sisi baik buruknya tiap karakter sendiri ini salah satunya ditunjukkan dalam cara pandang mereka terhadap agama. Hal inilah yang berusaha digali dari tiap karakternya yang justru dapat memberikan pesan untuk penonton.

via somagnews.com

Cerita yang Dikemas secara Apik

Review The Devil All the Time berikutnya terkait alur cerita yang diambil. Film ini sendiri mengusung konsep alur maju mundur yang digunakan oleh sang sutradara untuk menampilkan kisah nonlinear dari karakternya.

Walaupun mengusung konsep alur maju-mundur, kamu tetap bisa menikmati dan memahami alur ceritanya kok. Salah satu yang menarik adalah narator yang muncul di film ini merupakan penulis novel The Devil All the Time.

Konsep narator inilah yang akan menuntunmu agar tidak kebingungan dalam memahami akur ceritanya. Tak hanya membantu alur ceritanya, narator pun menjelaskan apa yang sedang dipikirkan oleh seorang karakter.

Untuk pace filmnya, review The Devil All the Time ini memulai filmnya dengan relatif lambat. Sedikit demi sedikit, pace dan tensi film akan semakin meningkat. Bisa dibilang film ini termasuk film yang slow-burn.

Bagi kamu yang belum tahu, film slow-burn sendiri merupakan film yang membangun ketakutan serta teror secara perlahan. Jadi, filmnya tidak langsung ‘menancapkan’ tensi tingginya di awal film.

via collider.com

Poin Minus The Devil All the Time

Review The Devil All the Time ini pun tak luput melihat film tersebut dari poin minusnya. Poin minusnya sendiri berkaitan dengan salah satu poin yang sudah sebelumnya Bob singgung di atas.

Poin tersebut adalah terkait perpindahan karakter. Walaupun sebenarnya sudah cukup terbantu dengan adanya narasi, terkadang perpindahan karakter yang begitu cepat di bagian awal akan sedikit membingungkan.

Dengan banyaknya karakter yang berusaha ditampilkan pada review The Devil All actthe Time, screentime yang minim untuk beberapa karakter dan ada juga karakter yang dirasa terlalu panjang untuk screentimenya.

Misalkan saja, latar belakang Bodecker yang mungkin bisa dipotong banyak karena tak terlalu memberikan efek pada filmnya dan juga Preston yang justru layak mendapatkan screentime lebih karena adanya relevansi pada ceritanya.

via 4ye.co.uk

Pembuktian Seorang Tom Holland

Sebagai salah satu film yang bertabur bintang, film The Devil All the Time tentu memikul beban ekspektasi yang relatif berat. Sama halnya dengan aktor-aktor yang bermain di film besutan Antonio Campos ini.

Salah satunya adalah Tom Holland. Image Spider-Man yang sudah melekat erat dengan aktor kelahiran London ini tentu dipertanyakan saat memerankan film di luar karakter superhero yang diangkat dari komik Marvel tersebut.

Nah, sosok Tom Holland yang lugu nan jenaka saat menjadi sosok Peter Parker tak akan kamu lihat pada film ini. Pada review The Devil All the Time kali ini, Tom Holland mampu menampilkan sosok yang begitu berbeda.

Aksi brutalnya saat memerankan Arvin Russell pada film ini menunjukkan bahwa ia bisa lepas dari sosok Peter Parker yang mempopulerkan namanya. Rasanya acungan dua jempol patut diberikan kepada aktor Inggris ini.

review the devil all the time tom holland
via collider.com

Sosok Robert Pattinson yang Kembali Unjuk Gigi

Selain Tom Holland, kredit tersendiri rasanya harus disematkan kepada sosok Robert Pattinson pada review The Devil All the Time kali ini. Pasalnya, aktingnya kali ini mengukuhkannya sebagai salah satu aktor berbakat.

Image Robert Pattinson yang tampil sebagai Edward Cullen pada lima seri film Twilight seringkali membuat banyak yang mempertanyakan kemampuannya. Padahal, ia termasuk aktor yang mampu tampil maksimal di setiap filmnya.

Mulai dari The Good Time, The Lighthouse, hingga terakhir The Devil All the Time, Robert Pattinson mampu menunjukkan sosok yang sesuai dengan filmnya. Pada review The Devil All the Time, karakternya termasuk menyebalkan.

Untuk mengetahui seberapa menyebalkan karakter Reverend Preston Teagardin yang diperankannya, kamu harus menonton langsung film ini. Film ini sendiri tersedia di layanan streaming film, Netflix.

via decider.com

Rating versi Bob

Review The Devill All the Time Bob tutup dengan rating untuk film satu ini. Dengan alur cerita yang slow-burn, rasanya film ini akan cocok bagi kamu yang senang dengan alur cerita yang tensinya naik secara perlahan.

Oleh karenanya, jika kamu termasuk yang tak terlalu senang dengan film slow-burn, film ini akan membuatmu terkantuk. Pasalnya, awal ceritanya yang relatif lambat bisa dipastikan membuat bosan dalam menonton filmnya.

Walaupun begitu, secara overall, The Devil All the Time mampu menyuguhkan cerita soal kemanusiaan yang dibalut dengan berbagai intrik yang begitu menarik untuk diikuti kelanjutannya hingga habis.

Dengan berbagai ulasan singkat terkait film yang juga bisa dikategorikan sebagai film crime thriller, Bob memberi nilai 8 dari 10 untuk review The Devil All the Time. Bisa dibilang worth it bagi kamu yang sedang mencari tontonan film.

via digit.in

Menginap sambil Menonton The Devill All The Time? Ya di Bobobox Tempatnya

Jika kamu sedang ingin menonton film The Devil All the Time tanpa ada gangguan, Bobobox menjadi tempat yang bisa menjamin hal tersebut.

Ditambah dengan lampu led yang bisa diubah sesuka hati dan pengeras suara Bluetooth, pengalaman menonton di hotel kapsul ini akan semakin ciamik.

Informasi lebih lanjut soal pemesanan, kamu bisa mendapatkannya melalui aplikasi Bobobox yang bisa diunduh di sini. dan untuk melihat langsung interior Bobobox melalui virtual tour dengan klik link ini.

You might also like