Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Pusat Mangrove Graha Indah di Kalimantan Timur

Tempat wisata yang dekat dengan pusat kota

Hutan mangrove berperan penting bagi keseimbangan lingkungan di daerah pesisir pantai. Maka dari itu, keberadaan wisata mangrove di Indonesi sangat membantu untuk memberikan kesadaran kepada masayarakat tentang petingnya mangrove bagi kehidupan manusia.

Indonesia sendiri merupakan negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia, melebihi Brazil, Nigeria, dan Australia.

Degan banyaknya hutan mangrove yang tersebar di banyak pesisir pantai di Indonesia, hutan mangrove pun dijadikan sebagai tempat wisata.

Selain sebagai media edukasi untuk masyarakat, wisata mangrove pun cukup menarik minat pengunjung karena kawasannya yang sejuk dan indah serta menjadi tempat untuk wisata hijau yang menyejukkan mata.

Apalagi, kalau lokasi wisata mangrovenya tidak jauh dari pusat kota, para pengunjung pun akan dibuat lega karena tidak harus menempuh perjalanan panjang untuk mencapainya.

Salah satu wisata mangrove yang letaknya tidak jauh dari pusat kota adalah Hutan Mangrove Center yang berada di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Mau tahu informasi lebih lanjut tentang wisata mangrove yang satu ini? Yuk simak informasninya baik-baik.

@mangrove_center_bpn

Lokasi dan Tiket Masuk

Hutan Mangrove Center ada sebuah tempat wisata mangrove yang letaknya tidak jauh dari kota, kurang lebih 30 menit dari pusat kota.

Menariknya, lokasi Mangrove Center ini berada di pinggiran sebuah kompleks perumahan, lebih tepatnya di Graha Indah, Gang Mangrove VI, Batu Ampar, Balikpapan Utara, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Untuk memasuki Hutan Mangrove Center, kamu akan dikenakan biaya sebesar Rp15.000,00. Tempat wisata ini sudah dibuka sejak pukul 06.00 dan tutup pukul 18.00.

@gus.bei

Berdirinya Hutan Mangrove Center

Hutan Mangrove Center didirikan dan dikelola secara swadaya oleh warga yang tinggal dalam kompleks perumahan Graha Indah, yaitu Agus Bei.

Pada mulanya, Hutan Magrove Center ini didirikan karena kekhawatiran Agus terhadap hembusan angin serta pasang surut air di depan rumahnya di Graha Indah.

Kedua kondisi tersebut menjadi alasan Agus untuk mulai menanam mangrove yang dia tekuni sejak tahun 2001 silam.

Dia melakukannya secara otodidak sampai akhirnya Hutan Mangrove Center berdiri. Usahanya selama sekitar 18 tahun tidaklah sia-sia karena luas Mangrove Center sekarang ini sudah mencapai 150 hektare.

Kawasan wisata mangrove tersebut mencakup bagian utara Teluk Balikpapan yang memanjang dari barat ke timur di Sungai Somber.

Saat ini, sudah ada 20 komunitas yang bergabung dengan Hutan Mangrove Center, yang masing-masing memiliki sekitar 10 anggota.

Ketekunan Agus dalam melestarikan mangrove tentu berdampak sangat baik terhadap lingkungan dan menjadikan Hutan Mangrove Center ini sebagai ikon wisata baru di kota Balikpapan.

Awalnya, hanya ada satu sampai dua pengunjung yang mengunjungi tempat ini setiap harinya. Namun, sekarang pengunjung bisa mencapai 200 orang per bulannya, baik dari dalam maupun luar negeri (terbanyak dari Prancis dan Belanda).

Akhirnya pada tahun 2017 lalu, berkat kegigihannya dalam melestraikan mangrove, Agus Bei pun dianugerahi penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yakni Kalpataru.

Bagi Agus Bei, penghargaan itu diharapkan dapat meningkatkan semangatnya beserta tim di Hutan Mangrove Center.

@gus.bei

Harapan Terhadap Pemerintah

Pencapaian yang diraih Agus Bei dengan mengelola Mangrove Center dengan biaya sendiri ini tentu memiliki hambatannya tersendiri dan Agus berharap pemerintah dapat memberikan perhatian dan bantuan untuk tempat wisata mangrove ini.

Biaya penanaman mangrove per hektare kira-kira bisa mencapai Rp100.000.000,00 dan itu belum termasuk biaya operasional per harinya.

Agus juga berharap agar pemerintah dapat membebaskan lahan warga dalam kawasan Hutan Mangrove Center karena awalnya beliau berpikir bahwa lahan yang ditanami mangrove adalah milik pemerintah. Maka dari itu, Agus mengharapkan adanya pembebasan lahan agar lahan tersebut tidak dialihfungsikan.

Selain mengelola Hutan Mangrove Center, Agus Bei pun berencana untuk mendirikan kampung Inggris untuk sarana edukasi di Mangrove Center.

Kampung Iggris ini ditujukan untuk pelatihan bahasa Inggris sehingga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sana.

Salah satu upaya yang dilakukan Agus untuk memperoleh dukungan adalah dengan melakukan sosialisasi tentang hasil kerja Mangrove Center di media sosial.

@mangrove_center_bpn

Flora dan Fauna di Hutan Mangrove Center

Hutan Mangrove Center memiliki sekitar 40 jenis mangrove yang didominasi oleh jenis Rhyzopora mucronata.

Jenis mangrove lainnya yang dapat kamu temukan di sana adalah Bruguiera dan api-api hitam atau Avicennia alba yang buahnya merupakan favorit para bekantan.

Selain itu, beragam vegetasi lain juga tumbuh di sini, misalnya pohon nipah (Nypa fruitcans), pidada (Sonneratia caseolaris), bintaro (Cerbera spp.), dan lain-lain.

Sementara itu, selain tumbuhan hijau yang menyejukkan, kamu pun dapat menjumpai hewan endemik khas Kalimantan, yakni bekantan yang jumlahnya mencapai sekitar 400 ekor. Kalau kamu belum terbayang seperti apa hewan ini, ingat-ingat saja maskot Dunia Fantasi Ancol.

Selain bekantan, ada juga monyet, burung-burung khas Kalimantan, buaya, bahkan pesut (sejenis lumba-lumba air tawar) kalau kamu beruntung.

@info_balikpapan

Menyusuri Sungai Somber

Karena Wilayah Hutan Mangrove Center ini cukup luas, kamu bisa menyusurinya dengan menggunakan perahu mesin yang berkapasitas 10 orang dengan harga Rp 300.000,00 untuk satu kali trip.

Hal ini cukup berbeda dengan kebanyakan wisata mangrove yang mengutamakan penggunaan jembatan kayu bagi para pengunjung untuk mengitari hutan mangrovenya.

Saat yang tepat untuk melakukan perjalan dengan perahu adalah di pagi hari atau siang hari sekitar pukul 14.00 sampai 17.00.

Waktu-waktu tersebut adalah saat air sedang pasang. Karena kamu akan berkeliling dengan menggunakan perahu, kamu akan membutuhkan air pasang untuk bisa memasuki anak-anak sungai.

Pasang surut biasanya terjadi sekitar pukul 11.00 sampai 13.00, dan pada saat itu perahu tidak dapat digunakan.

Selain itu, pagi hari, sekitar pukul 07.00 adalah waktu yang tepat untuk melihat bekantan. Karena semakin siang matahari semakin terik, bekantan akan enggan keluar untuk menghindari panasnya matahari.

Perjalanan dengan perahu rata-rata ditempuh selama sekitar satu jam dan akan membawa kamu menuju hilir di bawah naungan kanopi hutan mangrove.

Perjalanan ini akan memberi kamu sensasi seperti menyusuri Sungai Amazon dilengkapi dengan pemandangan hijaunya mangrove di kanan kiri kamu.

Kamu akan menyusuri sungai dari dermaga menuju hilir sungai sambil sesekali melihat hewan bekantan yang melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.

Jika kamu menyusuri sungai di sore hari, kamu bisa memanfaatkan momen ini untuk menikmati sunset di atas perahu. Ini tentu akan jadi pengalaman indah yang tak terlupakan.

Bobobox

Kamu berencana mau staycation tapi masih bingung mau menginap di mana? Cobain menginap di Bobobox yuk!

Bobobox sendiri adalah sebuah hotel kapsul yang memiliki konsep minimalis, futuristik, dan nyaman namun tetap menawarkan harga yang terjangkau.

Selain itu Bobobox juga memberikan kemudahan dalam proses booking hingga check-out hanya dengan satu sentuhan di ponsel kamu.

Dengan aplikasi Bobobox yang sudah terinstall di ponsel kamu, kamu bisa melakukan booking  kemudian memperoleh QR code yang dapat kamu pakai untuk masuk ke dalam pod kamu. Jadi kamu tidak usah ribet bawa-bawa kunci.

Selain itu, kamu pun bisa mengakses Bluetooth speaker dan mengatur pencahayaan dalam kamar kamu sesuai dengan mood kamu. Asyik kan?

Yuk segera unduh aplikasinya dan langsung meluncur ke Bobobox, si hotel kapsul berlogo koala!

You might also like