Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Selamat Hari Raya Nyepi! Pelajari Makna, Budaya dan Tradisi Perayaan Nyepi Berikut Ini!

Selamat Tahun Baru Saka 1944!

Hari Raya Nyepi menjadi momen sakral bagi umat Hindu di Indonesia yang dirayakan setiap tahun baru Saka. Penanggalannya mengacu pada kalender Saka yang diadopsi dari India dan dimulai pada tahun 78 Masehi. Dengan begitu, ada selisih 78 tahun antara tahun Saka dengan Masehi.

Sesuai dengan namanya, Nyepi mengacu pada kata sepi, sunyi atau senyap. Karena itu, saat hari raya Nyepi tiba, umat Hindu tidak akan beraktivitas selama 24 jam. Mereka lebih memilih untuk berdiam diri di rumah sambil beribadah tanpa ada aktivitas lain termasuk keluar rumah.

Meski penanggalannya merupakan adopsi dari India, ritual nyepi atau “Hari Hening” hanya berlaku di Indonesia. Hari raya Nyepi juga merupakan bagian dari serangkaian ritual adat dan tradisi keagamaan yang sarat makna dan budaya. Yuk pelajari lebih lanjut perihal makna, budaya dan tradisi perayaan Nyepi ini!

Budaya Masyarakat Bali

via travel.tempo.co

Kendati dirayakan oleh seluruh umat Hindu di Indonesia, hari raya Nyepi memang identik dengan budaya masyarakat Bali. Hal ini tentu tidak mengherankan mengingat Bali menjadi satu-satunya pulau di Indonesia dengan mayoritas penduduk pemeluk agama Hindu.

Saat hari raya ini tiba, umat Hindu khususnya masyarakat Bali menjalani serangkaian upacara adat yang sudah dimulai beberapa hari sebelumnya.  Salah satunya adalah catur bratha penyepian. Ritual ini menjadi momen khusus untuk refleksi diri, meditasi dan mendekatkan diri kepada Tuhan lewat doa dalam keheningan total.

Melalui ritual ini, masyarakat Bali menghentikan seluruh aktivitas mereka sehingga Pulau Dewara pun berbalut kesunyian selama 24 jam. Mereka menahan diri untuk tidak keluar rumah, bekerja, menghidupkan perapian hingga mengucapkan kalimat-kalimat tertentu.

Kendati menjadi tulang punggung ekonomi, sektor pariwisata tidak membuat masyrakat mengorbankan tradisi dan budaya mereka. Sebaliknya, para turis justru turut menghormati budaya tersebut.

Lembaga-lembaga keagamaan pun turut serta menjaga budaya ini dengan mengeluarkan sejumlah ketentuan agar kekhusyukkan makin terjaga, seperti:

  • Mematikan aliran listrik
  • Larangan operasi transportasi darat laut dan udara
  • Menonaktifkan saluran televisi dan radio, akses internet, dan jaringan ATM
  • Penutupan sarana umum seperti tempat makan, toko suvenir, pusat perbelanjaan dan sebagainya (kecuali rumah sakit yang tetap berjalan seperti biasa)
  • Larangan paket hiburan oleh hotel dan penyedia jasa lain

Dari sudut pandang kapitalis, kerugian akibat larangan tersebut memang besar meski hanya dalam kurun 24 jam saja. Namun, masyarakat Bali tentu tidak ambil pusing. Walau bagaimanapun, mereka memiliki semesta nilai dan makna yang sudah mengakar kuat dan keramat. Momen hari raya Nyepi ini justru mengurangi dampak pemanasan global dengan tidak adanya listrik hingga sumbangan polusi asap kendaraan dalam 24 jam.

Hari Raya Nyepi, Momen Penuh Makna

Hari raya Nyepi menjadi momen khusus untuk memohon pada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk penyucian diri manusia (bhuana alit) dan alam semesta (bhuana agung). Hal ini berkaitan dengan penjelasan sebelumnya yang berkaitan dengan pembatasan aktivitas dalam 24 jam.

Dengan tidak adanya kegiatan, suasana sunyi sepi pun tercipta. Diri manusia dan alam sementa pun tersucikan baik dari hiruk pikuk kehidupan maunpun nafsu dan keserakahan manusia. Agar ritual berjalan lancar, masyarakat telah melakukan rangkaian upacara dan upakara sebelum hari raya Nyepi tiba.

Perayaan ini juga tidak terlepas dari sejarah kemenangan suku Saka di bawah pimpinan Raja Kanishka I. Kemenangan tersebut berlangsung pada bulan Maret tahun 78 Masehi di India yang kerap terlibat pertikaian antar suku dalam memperbutkan kekuasaan.

Karena itu, perngatan hari raya Nyepi pun memiliki makna sebagai hari pembaharuan, kebangkitan, toleransi, kebersamaan (kesatuan dann persatuan), pembaharuan, kedamaian sekaligus kerukunan nasional.


Baca Juga: 10 Tradisi Unik Indonesia Yang Tak Akan Bisa Ditemui Di Negara Lain


Rangkaian Tradisi Hari Raya Nyepi

via news.detik.com

Melalui hari raya Nyepi, umat Hidu khususnya masyarakat Bali biasanya menggelar serangkaian ritual yang secara keseluruhan berlangsung kurang lebih selama lima hari. Ritual tersebut meliputi:

Upacara  Melasti

Dua atau tiga hari sebelum ritual hari raya Nyepi, masyarakat terlebih dulu melaksanakan upacara Melasti atau Mekiis. Tujuannya adalah penyucian alam manusia (bhuana alit) dan alam semesta (bhuana agung). Ritual ini biasanya berlangsung di laut, danau, sungai atau sumber mata air.

Sebelum menuju laut, mereka terlebih dulu berkeliling dengan mengusung pralingga atau pratima ida bathara. Pratima ini merupakan pengganti arca di pura dan biasanya terbuat dari kertas, kayu atau batu. Tujuannya adalah untuk menyucikan desa berdasarkan kesucian pratima.

Tawur Agung

Sehari sebelum hari raya Nyepi, ada ritual tawur agung, tawur kesanga atau pangrupukan yang memiliki tujuan untuk menjaga keseimbangan. Keseimbangan yang dimaksud adalah keseimbangan alam semesta dan diri manusia dari gangguan Bhuta Kala.

Masyarakat pun akan melakukan pengusiran Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan dan lingkungan sekitar. Caranya adalah dengan menyebar nasi tawur, mengobor-obori rumah dan pekarangan serta menyemburi rumah dan memukul kentongan sampai gaduh.

Di momen inilah kamu bisa menjumpai Ogoh-ogoh yang biasanya berwujud seperti raksasa dengan mata melotot dan mulut menganga. Ogoh-ogoh ini menjadi bentuk kreativitas budaya sekaligus simbol perwujudan Bhuta Kala. Warga akan mengaraknya dari satu banjar ke banjar lain hingga menjelang matahari terbit.

Selanjutnya, Ogoh-ogoh dibakar sebagai perwujudan bahwa unsur kegelapan telah kembali ke tempatnya. Setelah itu, tibalah puncak hari Raya Nyepi yang kemudian dijalani dalam bentuk ritual catur brata penyepian.


Baca Juga: Tidak Hanya Indah, Ini Dia Tarian-Tarian Tradisional Yang Sarat Akan Unsur Mistis


Nyepi

Saat hari raya Nyepi berlangsung, umat Hindu di Bali menjalani ritual catur bratha penyepian mulai pukul 05.00 hingga pukul 05.00 pagi berikutnya. Ritual ini memliki empat pantangan, yaitu Amati:

  • Karya (tidak bekerja)
  • Geni (tidak menyalakan api dan lampu atau mengobarkan hawa nafsu yang disimbolkan oleh nyala api)
  • Lelungan (tidak bepergian atau melakukan perjalanan keluar rumah dan juga bermakna pikiran yang tidak mengkhayal ke mana-mana)
  • Lelanguan (tidak foya-foya atau bersenang-senang)

Pelaksanaan catur brata penyepian ini juga disertai dengan puasa (upawasa), tidak berbicara (mona), dan tidak tidur (jagra) bagi yang mampu.

Ngembak Geni

Ngembak Geni menjadi tahapan terakhir setelah hari raya Nyepi berlangsung. Ritual ini mungkin mengingatkan kamu pada tradisi Idul Fitri sebab masyarakat akan saling mengunjungi keluarga, kerabata, teman dekat, rekan seprofesi dan lainnya. Tujuannya adalah untuk saling memaafkan atas segala kesalahan.


Baca Juga: Berpetualang Melewati Lorong Waktu! Desa Tradisional Tenganan Pegringsingan Bali Yang Menawan


Secara keseluruhan, hari raya Nyepi ini memang merupakan momen sakral yang meliputi refleksi diri, kontemplasi hingga meditasi. Meski bertitel pergantian tahun, hari raya Nyepi justru jauh dari kegemerlapan, foya-foya, hura-hura, pesta-pesta dan semacamnya.

Saat hari libur tiba dan bingung harus ke mana, pintu Bobobox terbuka lebar untuk memberi kamu pengalaman menginap yang asyik dan menyenangkan. Masalah kenyamanan, tidak perlu kamu ragukan lagi.

Interior podnya cukup luas dengan kasur empuk yang dijamin bikin kamu betah. Nggak hanya itu, Bobobox juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang seperti Bluetooth speaker, Wi-Fi, moodlamp, pantry, shared bathroom, musala, communal space hingga vending machine yang siap memenuhi kebutuhan camilan kamu.

Harganya juga terjangkau. Kamu bahkan bisa mendapatkan kesempatan menginap dengan harga promo lewat aplikasi Bobobox! Yuk unduh aplikasinya untuk informasi lebih lanjut!

You might also like