Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Yuk Kenali Lebih Dekat Penyakit Skizofrenia!

Ayo tingkatkan awareness kita terhadap penyakit ini!

Trimester awal 2020 diwarnai dengan cukup banyak kejadian yang mengejutkan. Dari beberapa bencana alam hingga kepergian publik figur ternama, ada banyak hal yang bikin kita sedih, takut, dan kesal. Yang lebih baru, mewabahnya virus COVID-19 atau corona membuat geger banyak orang. Pasalnya, virus ini menyebar ke seluruh dunia dan memakan korban yang tidak sedikit. Bencana alam, kematian, dan wabah? Being optimist might seem so hard, ya.

Namun, terlepas dari kondisi yang ada saat ini, kita harus tetap menjaga kesehatan diri. Kita bisa mengambil beberapa langkah untuk mencegah penyakit sejak awal. Ya, kamu pasti pernah dengar dong pepatah “Lebih baik mencegah daripada mengobati.” Dari rajin mencuci tangan hingga mengonsumsi vitamin dan makanan bergizi seimbang, ada banyak tindakan preventif yang bisa dilakukan. Selain itu, dengan mencegah penyakit sejak awal, tentunya kita bisa terhindar dari biaya kunjungan dokter atau perawatan di rumah sakit. Good for your wallet!

penyakit corona
Photo credit: Michael Amadeus

Eh, tapi bukan hanya kondisi fisik, lho, yang perlu diwaspadai. Kondisi mental juga perlu kamu hindari. Nah, karena terlalu terpaku dengan penyakit fisik, terkadang gangguan yang siap menggerogoti mentalmu terabaikan. Padahal, kesehatan mentalmu sama pentingnya dengan kesehatan badanmu. What’s worse, stigma sosial mengenai gangguan mental sering kali menghambat proses penyembuhan para penderitanya, seperti dilansir dari Tirto. Duh!

Nah, gangguan mental sendiri memiliki beragam jenis. Namun, salah satu yang cukup “populer” adalah skizofrenia. Mungkin gangguan ini bukan hal yang asing di telingamu. Namun, apakah kamu sudah mengenal lebih jauh gangguan tersebut? Belum? Don’t worry. Pada artikel kali ini, Bob akan mengajak kalian mengenal lebih jauh skizofrenia. Kita akan membahas faktor penyebab, gejala, dan penanganannya. Let’s go!

Apa Itu Skizofrenia?

Nama skizofrenia mungkin sudah pernah kamu dengar, tetapi penyakit ini belum dipahami secara mendalam. Dikutip dari Procaffenation, skizofrenia bisa digambarkan sebagai gangguan yang membuat penderitanya tidak bisa berpikir dan bersikap dengan jelas. Jim dan Shitij, dalam artikel seminar mereka (2009) secara lebih teperinci mendeskripsikan gangguan ini. Skizofrenia ditandai oleh delusi aneh, gejala negatif, dan beberapa gejala afektif yang terjadi dalam jangka panjang. Nah? Apa sih yang termasuk ke dalam gejala negatif dan gejala afektif ini?

penyakit skizofrenia
Photo credit: Fabio Neo Amato

Gejala negatif mengacu kepada perubahan dorongan dan kemauan. Ini artinya penderita skizofrenia bisa kehilangan motivasi. Bahkan, penderitanya juga mungkin enggan berbicara dan justru menarik diri dari orang lain. Sementara itu, gejala afektif mengacu kepada ketidakseimbangan afektif yang dapat mendorong munculnya tanda-tanda depresi atau bipolar. Waduh! Gejala skizofrenia ini sangat serius, ya!

Selain itu, Alodokter menyebutkan bahwa beberapa gejala skizofrenia merupakan gejala psikosis. Apa sih psikosis itu? Menurut National Institute of Mental Health, psikosis mengacu pada kondisi pikiran yang “hilang kontak” dengan realita. Sejalan dengan pendapat Jim dan Shitji yang Bob bilang sebelumnya, penderita skizofrenia bisa mengalami delusi. Lebih tepatnya, penderita bisa mengalami delusi dan halusinasi. Ia juga kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan.

Lebih jauh lagi, Peter F. Buckley et al. dalam artikel mereka (2009) menyebutkan kemungkinan adanya penyakit atau gangguan mental lain yang dialami penderita skizofrenia. Para penderita skizofrenia memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan. Nah, gangguan ini sendiri mencakup PTSD (post-trauma stress disorder), OCD (obsessive-compulsive disorder), dan gangguan kecemasan sosial. Ini artinya skizofrenia adalah kondisi yang sangat serius dan membutuhkan penanganan yang tentunya tidak boleh sembarangan.

Apa Saja Penyebab Skizofrenia?

Seperti halnya penyakit fisik, gangguan mental juga memiliki penyebabnya, tidak terkecuali skizofrenia. Halodoc secara umum menyebutkan 3 faktor penyebab skizofrenia: genetik, komplikasi kehamilan, dan kimia. Faktor pertama, sesuai namanya, berkaitan dengan gen individu. National Institute of Mental Health menyebutkan bahwa skizofrenia bisa diturunkan dari generasi ke generasi dalam keluarga. Ini artinya riwayat kondisi mental keluarga memiliki peran penting.

penyakit mental skizofrenia
Photo credit: Ehimetalor Unuabona

Selain faktor genetik, kondisi kehamilan ibu juga menjadi salah satu faktor penyebab skizofrenia. Sebuah artikel di Pop Mama membahas kaitan gen dan masa kehamilan ibu. Komplikasi yang dialami oleh ibu hamil bisa mengaktifkan gen pembawa skizofrenia pada janin. Nah, “kekuatan” gen ini meningkat jika sang ibu mengalami stres pada masa kehamilannya. Oleh karena itu, untuk kalian para perempuan, pastikan pada masa kehamilan nanti kondisimu selalu terjaga, ya! Konsumsi makanan bergizi dan hindari pemicu stres. Ibu sehat, janin juga sehat!

Faktor pemicu skizofrenia berikutnya adalah faktor kimia. Faktor ini berkaitan dengan keseimbangan kadar zat kimia pada otak kita. Dilansir dari Halodoc, skizofrenia bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan kadar dopamin dan serotonin otak. Selain itu, penyakit ini juga berhubungan dengan struktur otak. Picchioni dan Murray, dalam artikel mereka (2007) mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa penderita skizofrenia memiliki volume otak yang lebih kecil. Selain itu, para penderita juga memiliki ventrikel lateral yang lebih besar.

Oh, ya! Faktor eksternal juga bisa memicu penyakit ini. NHS menyebutkan bahwa penggunaan obat-obatan terlarang adalah salah satu pemicu skizofrenia. Individu dengan faktor risiko bisa mengalami skizofrenia jika mengonsumsi beberapa jenis obat, terutama kokain dan LSD. Duh! Jauh-jauh deh dari penyalahgunaan obat-obatan! National Institute of Mental Health juga menyebutkan bahwa paparan terhadap virus dan faktor-faktor psikososial bisa memicu skizofrenia.

Penanganan Skizofrenia

Setelah membaca dan mempelajari gejala dan penyebabnya, kita paham kalau skizofrenia merupakan penyakit yang serius. Bahkan, sebuah artikel penelitian di NCBI menunjukkan bahwa pada tahun 2015, skizofrenia telah merenggut sekitar 17.000 orang. That’s a big number! Skizofrenia itu sendiri tidak selalu menyebabkan kematian, tetapi perilaku berbahaya pada episode “kumat” bisa menjadi membunuh penderitanya.

Kitabisa menyebutkan 2 tipe penanganan yang bisa diberikan untuk penderita skizofrenia. Penderita bisa menjalani pengobatan atau terapi. Namun, pengobatan yang diberikan tidak langsung menghilangkan skizofrenia itu sendiri. Dilansir dari Halodoc, obat antipsikotik dengan dosis rendah bisa diresepkan untuk meredakan gejala seperti halusinasi dan delusi. Jadi, secara umum pengobatan ini diberikan untuk mengurangi atau mengendalikan gejala skizofrenia.

penyakit skizofrenia parasite
Sumber foto: Kurio

Untuk terapi, MSN menyebutkan bahwa psikoterapi bisa diberikan sebagai pelengkap pengobatan. Beberapa jenis psikoterapi yang bisa diikuti mencakup terapi perilaku kognitif,  individual, dan elektrokonvulsif. Selain itu, Psychiatry Advisor menunjukkan bahwa terapi seni juga bisa diberikan sebagai intervensi gejala-gejala psikosis. Kalau kamu pernah nonton Parasite, mungkin kamu ingat adegan saat Jessica (Ki-jeong) menjadi terapis seni untuk Da-song, anak bungsu keluarga Park. Ternyata, terapi seni memang bisa diberikan untuk penderita skizofrenia.

Apa Bantuan yang Bisa Kita Berikan?

Bebas dari penyakit fisik dan mental tentunya sebuah anugrah dari Tuhan yang tidak boleh disia-siakan. Untuk kalian dengan anggota keluarga dan teman yang menderita skizofrenia, adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu mereka. Hellosehat merangkum beberapa langkah yang bisa diambil. Pertama, kamu harus mempelajari lebih jauh tentang penyakit ini. Tanpa pengetahuan yang mumpuni, kamu tentunya nggak bisa mengambil langkah yang tepat.

Selain itu, penting bagi kamu untuk selalu mendampingi penderita. Saat imajinasinya mulai “kumat”, kamu bisa mengarahkan penderita supaya bisa membedakan realita dan khayalan. Dorong juga penderita untuk menjalani pengobatan atau terapi demi kebaikannya. Seperti dikatakan Tisyrin Naufalty dalam artikelnya di Bisnis.com, penderita skizofrenia berkesempatan memegang peran dalam masyarakat jika mendapatkan dukungan dan pengobatan yang tepat.

Kesimpulan

Skizofrenia adalah salah satu penyakit yang harus mendapatkan perhatian banyak orang. Meskipun tidak bisa begitu saja sembuh total, dengan dukungan dan penanganan tepat, penderitanya bisa menjalani kehidupan normal. Nah, inilah tugas kita semua untuk meningkatkan kesadaran mengenai skizofrenia dan gangguan mental lainnya! Yuk bersama-sama kita bantu para penderita skizofrenia dan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk semuanya!

Meskipun kamu tidak menderita skizofrenia, perlu diingat bahwa kondisi mentalmu tetap harus dirawat. Ya, kondisi yang satu ini sering kali terbengkalai akibat kesibukan sehari-hari. Padahal, dampak kesehatan mental yang memburuk bisa mengganggu kondisi fisik juga, lho! Tubuh dan pikiranmu sama-sama butuh istirahat dan dimanjakan. Mungkin kamu bisa mengambil cuti dan berlibur buat melepaskan penat dan stres yang dirasakan.

Bicara soal liburan, Bob punya rekomendasi akomodasi berkualitas dengan harga terjangkau yang nggak akan bikin kamu stres! Bingung memilih tempat untuk menginap saat berlibur? Bobobox aja!

Apa Itu Bobobox?

Bobobox adalah hotel kapsul bergaya futuristik yang mengintegrasikan teknologi en-capsule dengan aplikasi ponsel. Di era modern seperti sekarang, integrasi seperti ini tentunya dibutuhkan. untuk memudahkan keseharianmu. Lewat satu aplikasi saja, kamu bisa mengatur pencahayaan kapsul dan mengakses pod. Selain itu, pod yang tersedia pun berukuran luas dan bisa memuat 2 orang dewasa plus 1 anak-anak. Happy family vacation? Checked!

Selain pod yang Insta-worthy, Bobobox dilengkapi fasilitas umum seperti shared bathroom, pantry, musala, dan communal space. Ada vending machine juga supaya kamu bisa membeli minuman tanpa meninggalkan hotel. Oh, ya! Di dalam pod juga tersedia Bluetooth speaker, lho! Jadi, kamu bisa mendengarkan musik kesayangan sambil beristirahat. Seru, ‘kan?

Dari mana sih dapat aplikasi Bobobox? Aplikasi ini bisa kamu unduh dari Google Play Store dan App Store. Gratis? Definitely! Lewat aplikasi ini, kamu bisa melakukan reservasi pod secara langsung. Kamu juga dapat mendapatkan notifikasi promo menarik. Metode pembayaran yang tersedia pun beragam untuk memudahkan proses transaksi. So, usir stres jauh-jauh dengan liburan dan pesan pod-mu di Bobobox sekarang, ya!

You might also like