Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Mengenal OTG atau Orang Tanpa Gejala di Wabah COVID-19

Waspada terhadap COVID-19 tanpa gejala

Di tengah pandemi global COVID-19 ini, banyak bermunculan istilah-istilah seperti ODP, PDP, kasus positif, hingga COVID-19 tanpa gejala. Istilah-istilah tersebut digunakan untuk memudahkan pendataan, pemantauan, serta pengelompokkan pasien atau orang-orang yang terkait dengan penularan COVID-19.

Untuk istilah positif kamu mungkin sudah bisa menerka bahwa istilah itu merujuk pada orang-orang yang sudah terbukti dan dinyatakan positif terinfeksi virus corona jenis baru tersebut. Per tanggal 20 April sendiri, kasus positif COVID-19 sudah mencapai 6.760 dengan kematian sebanyak 590 orang dan angka kesembuhan mencapai 747.

Selanjutnya, ada juga istilah ODP (orang dalam pemantauan) dan PDP (pasien dalam pengawasan). Kedua status tersebut belum dinyatakan sebagai pasien positif terinfeksi corona, namun harus tetap diwaspadai karena kemungkinan dapat menjadi pasien positif dan jumlahnya pun terus meningkat. Sejauh ini, ODP sudah mencapai angka lebih dari 178.883 ribu orang sementara PDP berada di angka 15.646.

Nah, yang terbaru adalah COVID-19 tanpa gejala atau istilahnya adalah OTG (orang tanpa gejala). Sebenarnya apa sih COVID-19 tanpa gejala ini? Yuk simak penjelasan berikut ini!

Apa itu COVID-19 Tanpa Gejala

Unsplash @fifthperspective

Juru bicara pemerintah, Achmad Yurianto, mengungkapkan bahwa penularan dan sebaran kasus COVID-19 di beberapa daerah di Indonesia disebabkan oleh orang dengan COVID-19 tanpa gejala yang memiliki mobilisasi ke berbagai wilayah. Istilah yang digunakan untuk orang tersebut adalah OTG atau orang tanpa gejala (OTG).

COVID-19 tanpa gejala menunjukkan bahwa orang tersebut sudah positif terinfeksi COVID-19 namun memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat sehingga virus corona dapat ditekan. Virus corona tersebut sudah ada di dalam tubuh mereka, berkembang biak lalu menyebar ke sekitarnya dengan cara yang sama yaitu melalui percikan ludah pada saat berbicara, bersin, ataupun batuk.

Seseorang yang yang termasuk ke dalam kategori OTG bisa jadi sudah tertular dari orang yang terkonfirmasi positif COVID-19. Dengan kata lain, OTG adalah kontak erat dengan kasus COVID-19 terkonfirmasi.

Kontak erat sendiri mengacu pada orang yang melakukan kontak fisik, mengunjungi atau berada dalam ruangan dalam radius satu meter dengan kasus PDP maupun terkonfirmasi, dalam dua hari sebelum pasien tersebut timbul gejala, hingga 14 hari setelah pasien timbul gejala.

Lalu, siapa saja yang bisa disebut kontak erat? Salah satu di antaranya adalah petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar, hingga membersihkan ruangan di tempat perawatan kasus pasien tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar .

Kontak erat juga merupakan orang-orang yang pernah berada dalam satu ruangan dengan pasien positif corona misal orang dekat pasien seperti keluarga dan kerabat. Kontak bisa terjadi di tempat kerja, ruang kelas, rumah, hingga acara-acara besar.

Selain itu, kontak erat juga bisa terjadi saat melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum, misal untuk mudik ke kampung halaman. Jika dalam kendaraan tersebut terdapat penumpang yang selanjutnya dikonfirmasi positif terkena COVID-19, maka penumpang lain dikategorikan sebagai kontak erat.

Untuk memastikan apakah OTG benar-benar positif teinfeksi COVID-19, mereka harus menjalani pemeriksaan swab atau tes PCR (Polymerase Chain Reaction).

Pencegahan Penyebaran akibat COVID-19 Tanpa Gejala

netralnews.com

Orang-orang dengan COVID-19 tanpa gejala biasanya berasal dari wilayah yang memiliki kasus positif virus corona tinggi. Umumnya, mereka melakukan perjalanan ke luar kota kemudian menularkan virus tersebut kepada orang lain di daerah yang dia datangi.

Daerah dengan kasus positif cukup tinggi biasanya adalah kota-kota besar yang menjadi pusat sebaran lalu menularkan virus ke daerah-daerah lain di sekitar kota tersebut. Karena statusnya COVID-19 tanpa gejala, maka cukup sulit untuk mengidentifikasi dan menandai orang dengan status ini.

Perlu diingat, seseorang yang yang termasuk ke dalam kategori OTG memiliki risiko tinggi untuk menularkan virus corona kepada orang lain meskipun dia tidak merasa sakit atau menunjukkan gejala-gejala tertentu.

Hal ini dianggap lebih berbahaya jika menginfeksi orang-orang dengan kekebalan tubuh yang lemah, misalnya orang-orang dengan penyakit jantung, diabetes, ginjal, gangguan pernapasan kronis, dan hipertensi.

Karena itulah, pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk melakukan physical distancing atau jaga jarak fisik setidaknya dua meter, untuk menghindari risiko penularan.

Selain itu, kamu juga dianjurkan untuk menggunakan masker saat keluar rumah meskipun kamu tidak memiliki keluhan atau menunjukkan gejala-gejala COVID-19.

Imbauan ini direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan RI juga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Jenis masker yang dianjurkan untuk digunakan adalah masker kain meskipun kemampuan penyaringannya tidak sebaik masker bedah dan masker N95. Salah satu alasan penggunaan masker kain adalah karena masker bedah dan N95 lebih diprioritaskan untuk para petugas medis atau mereka yang sedang sakit.

Bagaimanapun, penggunaan masker kain lebih baik daripada tidak memakai masker sama sekali, sehingga diharapkan tidak tertular juga tidak menularkan. Masker kain dinilai mampu menyaring 70% partikel dan tentunya bisa dipakai kembali setelah dicuci pakai sabun. Kamu bisa menggunakan masker kain maksimal selama empat jam dalam sehari kemudian kamu harus mencucinya dengan menggunakan sabun.

Namun, upaya terbaik untuk mencegah penularan COVID-19 adalah dengan tetap berada di rumah dan menghindari perjalanan ke manapun, misal untuk mudik, mengunjungi saudara atau ke tempat-tempat lainnya.

Perbedaannya dengan Status Lain

Unsplash @anniespratt

Biar kamu tidak bingung dengan status pasien lainnya yaitu ODP dan PDP, Bob akan memberikan sedikit penjelasan tentang kedua status tersebut.

Seperti yang Bob bilang sebelumnya, OTG adalah orang dengan COVID-19 tanpa gejala sama sekali sehingga sulit untuk dideteksi. Sementara itu, ODP adalah orang yang mengalami atau memiliki riwayat demam di atas 38 derajat Celsius. Selain demam, orang yang mengalami gejala seperti pilek, batuk dan sakit tenggorokan juga dapat dikategorikan sebagai ODP.

Lalu, secara klinis, gejala-gejala yang dirasakan ODP tidak memiliki penyebab lain yang meyakinkan. Seseorang juga dianggap ODP bila memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara atau wilayah yang terjangkit COVID-19 atau memiliki kontak dengan orang positif COVID-19 14 hari terakhir sebelum timbul gejala. Selanjutnya, para ODP diwajibkan melakukan karantina mandiri guna memperkecil kemungkinan penyebaran COVID-19.

Lalu, apa itu PDP? PDP adalah orang-orang yang menunjukkan gejala demam serta gangguan saluran pernapasan ringan atau berat. Gejala tersebut berupa batuk, sesak napas, hingga sakit tenggorokan. PDP juga sudah pernah melakukan perjalanan ke atau tinggal di wilayah yang telah terjangkit COVID-19. Selain itu, PDP juga diketahui pernah melakukan kontak dengan kasus terkonfirmasi COVID-19 atau yang kemungkinan terkena COVID-19.

Pasien dengan status PDP akan dirawat di rumah sakit agar perkembangan kasusnya dapat ditinjau dan dipantau lebih lanjut. Mereka akan menjalani proses observasi melalui cek laboratorium yang hasilnya kemudian akan dilaporkan kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI.

Long Stay Bersama Bobobox

Di tengah pandemi global COVID-19, kamu baiknya di rumah saja. Namun, bagaimana kalau pekerjaan kamu mengharuskan kamu untuk melakukan perjalanan dan tidak bisa work from home.

Coba long stay di Bobobox aja yuk! Fasilitasnya sudah tentu terjamin nyaman dan bersih serta dengan harga yang terjangkau.

Agar pengalaman kerja kamu tetap maksimal, Bobobox sudah menyediakan compact working space yang bisa kamu pakai sebagai tempat kerja personal.

Asyik bukan? Yuk segera unduh aplikasinya dan mulai #workfrombobobox!

You might also like