Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Mengenal Badai Sitokin dan Kaitannya dengan COVID-19

Badai sitokin, bahayakah?

Badai sitokin atau respon sistem kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap virus disinyalir menjadi penyebab meninggalnya banyak pasien yang terinfeksi virus corona COVID-19. COVID-19 sendiri kini sudah menginfeksi lebih dari tiga juta orang di seluruh dunia dan mengakibatkan kematian dengan angka 238.730.

Infeksi COVID-19 umumnya lebih berdampak pada mereka yang sudah lanjut usia dan memiliki penyakit bawaan seperti diabtetes, penyakit jantung, dan penyakit paru-paru. Meski begitu, tidak sedikit pula yang melaporkan kematian pada pasien berusia muda sekitar 20 sampai 30an.

Kematian tersebut diduga kuat berkaitan dengan badai sitokin, salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh manusia. Sitokin ini seharusnya bekerja untuk melindungi tubuh dari infeksi virus. Namun, dalam kondisi tertentu, sitokin justru membahayakan tubuh manusia.

Badai sitokin sebenarnya tidak hanya terjadi pada COVID-19. Hal ini juga dapat terjadi pada flu serta penyakit pernapasan lain yang disebabkan oleh virus corona seperti SARS dan MERS. Selain itu, badai sitokin juga bisa terkait dengan penyakit non-infeksi seperti multiple sclerosis dan pankreatitis.

Lalu, apa sebenarnya sitokin itu dan bagaimana kaitan badai sitokin dengan pandemi COVID-19? Yuk simak penjelasan berikut ini!

Apa itu Sitokin

sinobilogical.com

Sebelum membahas tentang badai sitokin, ada baiknya kamu mengetahui terlebih dulu tentang sitokin. Kata sitokin berasal dari bahasa Yunani yaitu cyto untuk sel dan kinos untuk gerakan. Sitokin ini memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh manusia.

Sistem kekebalan tubuh sendiri terdiri dari banyak komponen seperti sel darah putih, antibodi, sistem limfatik, sistem komplemen, timus, dan sumsum tulang belakang. Setiap komponen tersebut bekerja sama untuk mengenali patogen, lalu membunuhnya, dan membentuk pertahanan tubuh jangka panjang.

Nah, agar komponen-komponen tersebut berfungsi dengan baik, diperlukanlah komunikasi antar satu sama lain yang diperankan oleh sitokin. Sitokin merupakan protein kecil yang berfungsi membawa pesan antar sel apabila tubuh kamu mengalami infeksi atau peradangan.

Sitokin sendiri terdiri dari empat macam, berdasarkan jenis sel yang memproduksinya atau cara kerja dalam tubuh. Keempatnya meliputi limfokin, monokin, kemokin dan interleukin. Seperti namanya, limfokin diproduksi oleh sel limfosit-T dan berfungsi untuk mengatur respons sistem imun menuju lokasi yang terinfeksi.

Selajutnya, monokin diproduksi oleh sel monosit dan berfungsi untuk mengatur sel-sel neutrofil untuk melawan penyebab infeksi tersebut. Lalu, kemokin dihasilkan oleh sistem imun dan berfungsi untuk memicu perpindahan sel ke lokasi infeksi.

Sementara itu, interleukin diproduksi oleh sel darah putih dan memiliki fungsi untuk mengatur pergerakan sistem imun dalam reaksi infeksi. Saat tubuh terinfeksi virus, sistem kekebalan tubuh akan melawan dan terjadilah peradangan  yang mengakibatkan gejala nyeri pada lokasi yang terinfeksi seperti nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, dan pegal-pegal.

Semakin luas peradangan pada jaringan tubuh, maka semakin banyak sel yang rusak. Lalu, peradangan yang meluas tersebut akan mengakibatkan produksi sitokin dalam jumlah banyak. Nah, produksi sitokin yang sangat besar tersebut kemudian memicu terjadinya badai sitokin.

Badai Sitokin

nursingcenter.com

COVID-19 yang diduga pertama kali merebak di kota Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019 lalu sudah menyebar ke banyak negara sehingga kini sudah menjadi pandemi yang belum juga kunjung mereda. Orang-orang yang terinfeksi virus ini umumnya mengalami gejala-gejala seperti demam tinggi, batuk kering, hingga sesak napas.

Tak hanya menginfeksi banyak orang, virus ini pun sudah mengakibatkan kematian pada pasien-pasien yang terinfeksi. Banyaknya kematian akibat COVID-19 tersebut bisa terjadi karena adanya badai sitokin yaitu reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh manusia terhadap virus.

Seperti yang Bob bilang sebelumnya, saat terjadi infeksi virus, sistem kekebalan tubuh akan melawan dengan melepaskan banyak sitokin. Akibat terlalu banyak sitokin yang dihasilkan, peradangan pun menjadi semakin besar. Bukannya melawan sumber infeksi, sel-sel yang mengalami peradangan malah merusak sel-sel yang sehat.

Kondisi respon tubuh yang terlalu berlebihan inilah yang dinamakan badai sitokin dan tentu sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kegagalan organ bahkan kematian. Dalam kasus COVID-19, pasien menunjukkan gejala ringan dan berangsur membaik selama menjalani perawatan dalam beberapa minggu.

Namun, tiba-tiba gejalanya memburuk dengan sangat cepat dalam waktu sekitar tujuh hari akibat badai sitokin. Maka dari itu, gejala berat yang dirasakan pasien COVID-19 umumnya disebabkan oleh peradangan berlebih karena adanya badai sitokin.

Badai Sitokin dan COVID-19

pennmedicine.org

Saat virus corona memasuki paru-paru dan menimbulkan gejala, sistem imun segera  memberikan respons dengan memanggil sel-sel kekebalan tubuh menuju lokasi infeksi. Reaksi tersebut kemudian akan menimbulkan peradangan lokal yang masih wajar.

Namun, dalam beberapa kondisi tertentu, badai sitokin akan terjadi karena adanya ksalahpahaman antar sel. Dalam hal ini, sitokin seharusnya berhenti ketika sistem imun sudah sampai di lokasi yang terinfeksi. Namun, sitokin justru tetap bekerja tanpa kendali sehingga semakin banyak sistem imun aktif. Akibatnya, terjadilah hiperinflamasi atau peradangan parah yang dapat membahayakan pasien.

Selama terjadi peradangan, sistem imun juga akan melepaskan molekul yang sifatnya beracun bagi virus dan jaringan paru-paru. Akibatnya, jaringan paru-paru mengalami kerusakan. Kondisi pasien yang sebelumnya sudah membaik, akhirnya malah memburuk.

Sebagai contoh, pasien yang mulanya memerlukan sedikit oksigen saja, bisa mengalami gagal napas hanya dalam semalam. Karena dampaknya yang sangat cepat, perlu dilakukan penanganan yang tepat agar fungsi paru-paru tidak menurun sehingga pasien pun tidak kesulitan untuk bernapas. Di sisi lain, infeksi semakin bertambah parah dan mengakibatkan kegagalan pada organ.

Penanganan Badai Sitokin

Unsplash @luvqs

Badai sitokin ini sebenarnya sulit diidentifikasi karena peranan sitokin dalam sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. Faktor yang menjadi penyebab sebagian pasien COVID-19 mengalami badai sitokin pun masih belum jelas. Gejala badai sitokin yang ditunjukkan tiap pasien terhadap berbagai jenis infeksi juga berbeda-beda sehingga dokter tidak bisa menanganinya dengan cara yang sama.

Meski begitu, obat-obatan untuk meredakan badai sitokin akibat virus sebenarnya sudah ditemukan. Beberapa di antaranya adalah interleukin-1 (IL-1), IL-6, IL-18, dan interferon-gamma. Untuk penangan COVID-19, laporan dari Tiongkok mengungkapkan bahwa IL-6 digunakan untuk menangani badai sitokin dan dianggap berhasil untuk beberapa pasien.

Dalam satu kasus, seorang pasien yang hampir menggunakan ventilator dapat bernapas lagi setelah mengonsumsi obat tersebut. Pasien lainnya baru sebentar menggunakan ventilator setelah diberi obat tersebut, padahal seharusnya dia memakai alat tersebut selama beberapa minggu. Namun, penggunaannya masih perlu dikaji lebih dalam apakah memang efektif mengatasi badai sitokin atau tidak.

Sedang cari penginapan nyaman tapi terjangkau di daerah Bandung, Jakarta, atau Semarang?

Yuk ke Bobobox! Hotel kapsul ini menawarkan fasilitas lengkap dan nyaman yang akan membuat waktu kamu di sini tak terlupakan.

Selain itu, ada banyak spot foto instragammable buat kamu share di akun media sosial kamu.

Segera unduh aplikasi Bobobox dan dapatkan promo-promo menariknya!

 

You might also like