Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Kenali Toxic Masculinity Serta Bahayanya terhadap Diri Sendiri dan Orang-Orang Sekitar

Boys can cry too!

Toxic masculinity merupakan sebuah istilah yang membutuhkan kontekstualisasi yang hati-hati karena sifatnya yang rentan untuk disalahartikan. Namun, sebelum berbicara tentang toxic masculinity, pertama-tama kita perlu tahu perbedaan antara jenis kelamin atau seks dan gender.

Pada simpelnya, seks merupakan jenis kelamin secara biologis yang tersusun atas kromosom x dan y. Kromosom ini yang nantinya akan memengaruhi beberapa aspek fisik seseorang. Sedangkan gender merupakan sebuah konstruksi sosial atas seks seseorang yang menjadi peran atau perilaku seseorang. Gender sering ditumpangtindihkan maksudnya menjadi seks, padahal dua istilah tersebut merupakan hal yang sangat berbeda. Seseorang bisa saja terlahir secara biologis dengan kromosom XY tapi dengan gender perempuan, maupun sebaliknya atau gender-gender lainnya.

Meskipun begitu, ilmuwan menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan atas kerja otak antara kromosom XY (Jantan) dan XX (Betina). Identitas gender seseorang kadang tidak sejalan dengan ekspresi gendernya. Ini bisa diakibatkan oleh konstruksi sosial pada seseorang yang mendorongnya untuk tidak bisa mengekspresikan dirinya dengan baik. Kemaskulinitas dan femininitas seseorang pun merupakan sesuatu yang cair dan bisa berbeda-beda untuk semua orang dan tidak hanya merupakan dua hal biner seperti itu.

 

Apa itu toxic masculinity?

Alex Mihai Via Unsplash

Toxic masculinity merujuk pada tingkah laku maskulin yang represif dan tidak baik. Kemaskulinan oleh toxic masculinity ini didasari oleh kekerasan, jenis kelamin, status, relasi kuasa dan agresivitas. Toxic masculinity ini lahir dari konstruksi dan budaya ideal masyarakat patriarkis di mana kejantanan atau maskulinitas itu selalu berhubungan dengan kekuatan, kekerasan dan represi emosi sedangkan femininitas dilihat sebagai perilaku yang lebih ‘rendah’ karena berhubungan dengan kelemahan dan emosional.

Membahas tentang buruknya toxic masculinity tidak semerta-merta menjelekkan laki-laki atau nosi bahwa men are trash. Meskipun begitu, banyak orang yang merasa tersinggung ketika kata-kata men are trash dilontarkan padanya. Padahal, istilah tersebut merujuk kepada kekuatan yang dimiliki mereka dengan maskulinitas yang pada relasi kuasa duduk lebih atas dari orang lain yang tidak maskulin. Padahal, laki-laki tidak terlahir secara gamblang menjadi seseorang yang keras, agresif dan lainnya.

 

Bagaimana asal usulnya?

Toxic masculinity merupakan istilah yang dibuat oleh seorang psikolog bernama Sheperd Bliss pada tahun 1990. Menurutnya, istilah ini digunakan untuk memisahkan dan membedakan nilai positif dan negatif dari laki-laki.  Dari penelitian yang dilakukan olehnya, ia menemukan adanya efek buruk dari maskulinitas. Ross-Williams berpendapat juga bahwa toxic masculinity, seperti yang tadi sudah dijelaskan, merupakan konstruksi sosial dari masyarakat patriarkis bahwa kemaskulinan seseorang didasari oleh perilaku-perilaku yang represif dan haus akan dominasi.

 

Apa saja contoh-contoh perilaku yang mencerminkan toxic masculinity?

 

Harus merepresi sisi emosionalnya

Siavash Ghanbari via Unsplash

Pada toxic masculinity, seseorang, terlebihnya laki-laki terpaksa harus merepresi sisi emosionalnya. Gagasan bahwa laki-laki tidak boleh cengeng dan harus kuat terus menerus disuapi kepada anak laki-laki sehingga ketika mereka sudah besar, mereka menjadi susah untuk mengekspresikan sisi emosionalnya. Ini juga bisa merupakan salah satu akibat kenapa angka bunuh diri pada laki-laki masih tinggi. Ketika seseorang tidak bisa mengekspresikan dirinya secara emosional dan selalu memendam apa yang mereka rasakan, besar kemungkinan mereka untuk menjadi depresi.

 

Standar ganda terhadap perspektifnya

Christopher Ott via Unsplash

Ketika laki-laki lain menunjukkan sikapnya yang kasar dan punya banyak pacar, ia dielu-elukan. Tapi ketika perempuan yang melakukan hal seperti itu, ia malah direndahkan. Perspektif dengan standar ganda ini malah makin mereduksi femininitas dan mempromosikan toxic masculinity.

 

Memaksakan standar maskulinitas yang berarti tidak boleh menunjukkan sisi feminim

Hermes Rivera via Unsplash

Ketika seseorang menunjukkan sisi femininitas, baik itu dari perempuan maupun laki-lakinya sendiri, orang-orang dengan toxic masculinity akan menjelek-jelekkannya. Mereka akan menganggap bahwa tingkah laku seperti itu akan mereduksi maskulinitas seseorang. Selain itu, mereka pun sering mengopresi orang-orang yang tidak mempunyai orientasi seksual heteroseksual.

 

Kasar dan mendominasi

icons8 Team via Unsplash

Orang-orang dengan toxic masculinity seringkali menunjukkan tindakan-tindakan yang kasar. Kalau kalian ingat-ingat masa ospek di sekolahan maupun perkuliahan, banyak terjadi perundungan. Tidak sedikit juga mereka yang rasis. Hal ini dikarenakan pada sifat maskulinitas yang toksik di mana kekuatan dan kuasa merupakan hal nomor satu. Mereka merupakan orang yang sering berpikir bahwa jalan keluar dari suatu masalah adalah kekerasan dan agresivitas. Selain itu dalam hubungan heteroseksual, peran laki-laki makin dikuatkan oleh patriarki ini membuat mereka menjadi kasar terhadap pasangannya. Tindakan inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa hubungan bisa menjadi tidak sehat. Banyak sekali tanda-tanda yang bisa membantu kita menghindari hubungan seperti ini.

 

Tidak berpartisipasi dalam tindakan yang berhubungan dengan mengurus rumah

Masyarakat patriarkis menilai bahwa pekerjaan rumah seperti mencuci, mengepel dan segala hal yang berhubungan dengan dapur merupakan pekerjaan perempuan dan tidak ada artinya. Padahal, pekerjaan-pekerjaan tersebut sama saja dengan pekerjaan pada biasanya dan juga menguras tenaga. Gagasan seperti ini sangat harmful untuk perempuan atau para pekerja domestik. Orang dengan toxic masculinity termakan oleh gagasan ini dan membuatnya jadi enggan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan domestik. Mereka menilai bahwa pekerjaan seperti ini merupakan pekerjaan yang tidak berarti dan harus dikerjakan oleh perempuan.

 

Apa aspek-aspek yang bisa memengaruhi terjadinya toxic masculinity?

Hermes Rivera via Unsplash

Sebelum meng-address masalah yang ditimbulkan oleh toxic masculinity, kita harus terlebih dulu tahu bahwa hal itu merupakan suatu masalah.  Maskulinitas tidak semena-mena merupakan karakteristik yang buruk. Tapi, ketoksikan pada maskulinitas ini dapat mengganggu kelangsungan hidup yang harmonis.

 

Memahami bahwa kekerasan itu suatu masalah yang sering berhubungan dengan laki-laki

Seperti yang sebelumnya sudah dijelaskan, gagasan bahwa laki-laki adalah orang yang harus tetap kuat dan emotionless membuat mereka rentan untuk menjadikan kekerasan sebagai jawaban atas segala hal. Selain itu, kejahatan juga rentan untuk dilakukan oleh laki-laki. Perlu adanya diskusi terhadap hal seperti ini dengan anak laki-laki sehingga mereka tidak tumbuh besar menjadi seseorang yang melanggengkan toxic masculinity.

 

Hubungannya dengan kekerasan dalam rumah tangga

Orang-orang dengan toxic masculinity bisa saja merupakan respons dari pengalaman mereka semenjak kecil. Jika seseorang, terlebihnya laki-laki, tumbuh besar di lingkungan yang tidak sehat dan sering mengalami atau melihat kekerasan dalam rumah tangga, ia akan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut. Jadi tidak aneh jika banyak orang dengan toxic masculinity mengalami masa kecil yang buruk. Namun hal ini tidak semerta-merta dijadikan alasan atau excuse.

 

Bisakah kita mengakhirinya?

Hannah Busing via Unsplash

Mereka yang mematuhi standar toxic masculinity menggunakan institusionalisasi maskulinitas toksik sebagai perlindungan mereka. Dengan mengimani mitosnya, mempraktikan nilai-nilainya, para pemegang kekuasaan jadi bebas mempertahankan posisinya dalam hierarki laki-laki.

Untuk mengakhirinya, tentu harus adanya kerja sama yang besar antara kita semua dan ini merupakan PR yang cukup berat untuk dilakukan. Cara paling mudahnya untuk berubah adalah sadar secara masing-masing bahwa hal ini merupakan hal yang buruk. Ketika kita mulai ambil sikap dan menolak agresifitas, dominasi, serta karakteristik maskulinitas toksik lainnya sebagai norma maskulin, barulah hierarki tersebut akan runtuh.

 

Staycation nyaman dan murah? Bobobox jawabannya!

Untuk mengakhiri pekan kalian yang super sibuk, cobalah untuk staycation bersama Bobobox! Karena setiap podsnya dilengkapi dengan bluetooth speaker dan adjustable LED lights, kalian bisa menginap dengan nyaman tanpa ribet. Yuk download aplikasinya sekarang dan dapatkan promo menarik lainnya!

 

 

You might also like