Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Jangan Disepelekan! Ini Dia Jenis-Jenis Eating Disorder yang Perlu Kamu Waspadai

Anoreksia, bulimia dan binge-eating adalah yang paling umum

Peringatan: Artikel berikut ini mengandung penjelasan serta gambar terkait eating disorder atau gangguan makan yang mungkin mengganggu atau membuat kamu tidak nyaman.

Eating disorder (gangguan makan) mengacu pada kondisi psikologis yang mengakibatkan kebiasaan makan tidak sehat. Hal tersebut bisa diawali dengan obsesi terhadap makanan, berat badan dan bentuk badan. Dalam kasus-kasus yang parah, eating disorder dapat menyebabkan masalah kesehatan serius dan bisa saja mengakibatkan kematian jika terus dibiarkan. Karena itu, gangguan mental ini terbilang rumit sehingga memerlukan penanganan oleh tenaga medis serta psikologis.

Eating disorder sendiri bisa terjadi pada siapa saja namun umumnya dialami oleh remaja dan wanita muda, sekitar umur 12-35 tahun. Melansir Healthline, eating disorder ini diyakini bisa terjadi akibat berbagai faktor yang di antaranya meliputi:

  • Genetika
  • Ciri-ciri kepribadian, misal, neuroticism, perfeksionisme, dan perilaku impulsif
  • Preferensi budaya terhadap tubuh kurus (penderita mungkin mendapat tekanan agar memiliki tubuh kurus atau memperoleh terpaan atau exposure dari media yang mendukung gagasan tersebut)
  • Faktor biologis seperti struktur otak

Eating disorder juga bisa terjadi bersamaan dengan gangguan lainnya seperti gangguan kecemasan, OCD, atau masalah penyalahgunaan narkoba dan alkohol.

Jenis-Jenis Eating Disorder Umum

Eating disorder sendiri terdiri dari beberapa jenis dengan gejala serta kondisi yang berbeda-beda. Berikut ini adalah jenis-jenis eating disorder yang paling umum dialami.

Anorexia Nervosa

@vgstockstudio via Freepik

Anorexia nervosa bisa dibilang merupakan salah satu dari jenis-jenis eating disorder yang paling banyak dikenal. Gangguan makan ini biasanya berkembang di masa remaja dan lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Orang-orang dengan gangguan ini umumnya beranggapan berat badan mereka berlebih meski kenyataannya mereka sudah ramping atau terlampau kurus (underweight). Karena itu, mereka kerap kali:

  • Memonitor berat badan
  • Menghindari jenis makanan tertentu
  • Olahraga berlebih
  • Membatasi asupan kalori dengan ketat

Baca Juga: Kenali Penyebab Gigi Sensitif Dan Cara Mengobatinya

Selain itu, penderita anoreksia juga menunjukkan sejumlah gejala umum yang meliputi:

  • Pola makan super ketat
  • Keadaan sangat kurus (underweight) dibandingkan dengan orang-orang seusianya
  • Usaha tanpa henti untuk menjadi kurus dan keengganan untuk menjaga berat badan yang sehat
  • Ketakutan berlebih akan kenaikan berat badan atau perilaku mengindari kenaikan berat badan meski dirinya termasuk underweight
  • Distorsi citra tubuh (termasuk menolak kondisi tubuh yang underweight)
  • Memperoleh pengaruh tentang berat badan atau bentuk tubuh yang berdampak pada self-esteem

Pola makan super ketat serta kurangnya asupan kalori pada penderita anorexia selanjutnya dapat menimbulkan:

  • Lanugo (rambut halus yang tumbuh seluruh tubuh)
  • Pengecilan otot dan otot lemah
  • Kulit kering dan menguning
  • Rambut dan kuku rapuh
  • Konstipasi parah
  • Kedinginan akibat suhu tubuh yang rendah
  • Menstruasi tidak teratur atau bahkan tidak mengalami haid
  • Darah rendah
  • Anemia
  • Napas dan detak jantung lambat
  • Tulang keropos (osteopenia atau osteoporosis)
  • Lemas, lesu dan lelah sepanjang waktu
  • Infertilitas
  • Kerusakan pada fungsi dan struktur jantung
  • Kerusakan otak
  • Kegagalan multiorgan

Dilansir dari National Institute of Mental Health, anorexia memiliki tingkat kematian tertinggi dari gangguan mental lainnya. Penderita anoreksia ini sebagian bisa meninggal akibat komplikasi terkait kelaparan dan kekurangan gizi sementara lainnya akibat bunuh diri.

Baca Juga: Kenali Apa Itu Peyakit Bradikardia, Gejala, Penyebab, Dan Cara Menanganinya

Bulimia Nervosa

via skinnyms.com

Bulimia nervosa juga termasuk salah satu dari jenis-jenis eating disorder yang paling umum diketahui. Gangguan makan ini meliputi rutinitas makan dalam jumlah besar (binge-eating) yang dibarengi dengan kesulitan untuk berhenti atau  kurangnya kendali untuk menghentikan episode makan tersebut.

Untuk menebus atau mengimbangi binge eating, penderita biasanya memaksa diri untuk melakukan ‘pembersihan’. Hal tersebut bisa berupa memaksa diri memuntahkan makanan, menggunakan pencahar atau diuretik secara berlebihan, enema, puasa, olahraga berlebih, atau gabungan perilaku-perilaku tersebut.

Akibatnya, penderita bulimia ini biasanya dapat mempertahankan berat badan yang cukup normal. Meski begitu, mereka cenderung dilanda ketakutan akan bertambahnya berat badan walaupun memiliki berat badan normal.

Akibat dari makan berlebih tersebut, penderita bulimia bisa mengalami:

  • Sakit dan radang tenggorokan kronis
  • Pembengkakan kelenjar ludah di bagian leher dan rahang
  • Aus pada enamel gigi
  • Gigi sensitif dan membusuk karena paparan dari asam lambung
  • GERD dan masalah pencernaan lainnya
  • Radang usus akibat penyalahgunaan pencahar
  • Dehidrasi parah akibat pembersihan cairan
  • Ketidakseimbangan elektrolit (kadar sodium, kalsium, potasium, dan mineral lainnya yang terlalu rendah atau tinggi) yang dapat mengakibatkan stroke dan serangan jantung

Baca Juga: GERD Adalah Penyakit Maag Orang Kaya, Benarkah? Bob Menguak 5 Mitos Tentang GERD Yang Salah Kaprah!

Binge-Eating  Disorder

via alodokter.com

Binge-eating disorder adalah gangguan lainnya yang termasuk ke dalam jenis-jenis eating disorder. Orang-orang dengan gangguan ini kehilangan kendali akan kegiatan makannya. Berbeda dengan bulimia, binge-eating disorder tidak diikuti dengan pembersihan seperti muntah, penggunaan pencahar, olahraga berlebih atau puasa. Akibatnya, penderita binge-eating disorder biasanya kelebihan berat badan atau obesitas.

Gejala-gejala binge-eating disorder meliputi:

  • Memakan makanan dalam jumlah luar biasa besar dalam kurun waktu tertentu, misal periode dua jam
  • Makan meski sudah kenyang atau tidak lapar
  • Makan cepat saat dalam episode binge-eating
  •  Makan sampai kenyang yang tidak nyaman
  • Makan sendiri atau sembunyi-sembunyi karena malu
  • Merasa tertekan, malu, atau bersalah akibat kebiasan makan tersebut
  • Terkadang melakukan diet namun tanpa hasil

Kondisi satu ini biasanya akan meningkatkan risiko komplikasi terkait berat badan berlebih seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.

Jenis-Jenis Eating Disorder Lainnya

Pica

via sekilasnews.com

Jenis-jenis eating disorder tidak hanya meliputi anoreksia, bulimia dan binge-eating disorder. Gangguan satu ini juga memiliki pica, yaitu gangguan makan yang melibatkan hal-hal yang bukan makanan. Penderita pica biasanya mendambakan bahan-bahan seperti es, debu, tanah, kapur, sabun, kertas, rambut, kain, kerikil, detergen, dan kerikil.

Akibatnya, penderita pica berisiko keracunan, terkena infeksi, cedera usus, dan malnutrisi. Perlu diingat, seorang dianggap pica bukan karena kegiatan makan tersebut adalah bagian lumrah dalam suatu budaya atau agama.

Gangguan Ruminasi

via Health Jade

Gangguan ruminasi adalah salah satu dari jenis-jenis eating disorder yang terbilang baru diketahui. Gangguan satu ini mengacu pada kondisi saat seseorang memuntahkan makanan yang telah dikunyah atau ditelan, kemudian mengunyahnya kembali. Setelah itu, penderita bisa saja menelannya kembali atau memuntahkannya.

Kondisi tersebut umumnya terjadi tidak lama (sekitar 30 menit) setelah makanan ditelan. Selain itu, kondisi ini juga berlangsung hingga berkali-kali setiap makan. Rasa makanan tersebut bagi penderita gangguan ruminasi dirasa masih normal karena belum terlalu lama di dalam perut sehingga belum dicerna oleh asam lambung.

Gangguan satu ini bisa terjadi pada bayi, anak-anak hingga dewasa. Pada bayi antara 3-12 bulan, gangguan ruminasi biasanya hilang dengan sendirinya. Sementara itu, anak atau dewasa biasanya memerlukan terapi atau obat-obatan tertentu untuk menangani hal tersebut.

Jika gangguan pada bayi tidak tertangani, gangguan ruminasi bisa menyebabkan malnutrisi parah dan menurunnya berat badan. Sementara itu, gangguan satu ini bisa membuat orang dewasa membatasi asupan makanannya terutama di ruang publik. Akibatnya, berat badan bisa menurun dan penderita bisa mengalami underweight.

AFRID

via Psycom.net

Salah satu dari jenis-jenis eating disorder lainnya adalah AFRID (Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder). Gangguan ini umumnya mulai berkembang saat bayi atau masa awal kanak-kanak dan bisa berlanjut hingga dewasa. Gangguan ini juga bisa terjadi pada siapa saja, baik pria maupun wanita.

Gangguan AFRID sendiri biasanya ditandai dengan tidak terpenuhinya nutrisi harian akibat kurangnya nafsu makan atau kebencian pada bau, rasa, tekstur, suhu, atau warna tertentu pada makanan. Akibatnya, penderita AFRID pun:

  • Tidak memperoleh asupan kalori atau nutrisi yang cukup
  • Mengalami penurunan berat badan
  • Bermasalah dalam kegiatan sosial (makan bersama orang lain)
  • Perkembangan yang buruk (misal pada tinggi badan)
  • Malnutrisi atau kertegantungan pada suplemen atau selang makanan (sonde/selang nasogastrik)

Reklasasi diri bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga pikiran dan tubuh tetap fresh. Dari sekian banyak pilihan, tidak ada salahnya kamu memilih staycation untuk melarikan diri dari penat, jenuh dan stres karena rutinitas yang padat. Untuk akomodasi, serahkan saja pada Bobobox! Hotel kapsul yang satu ini dirancang agar memberikan kenyamanan bagi pelanggan dengan desain minimalis dan futuristik.

Banyak fitur menarik yang wajib kamu coba saat menginap di sini. Salah satunya adalah fitur moodlamp yang memungkinkan kamu untuk mengubah warna cahaya LED di dalam pod. Suasana terang hingga temaram bisa kamu coba dan sesuaikan dengan kebutuhan, kenyamanan dan mood kamu. Yuk unduh aplikasi Bobobox untuk informasi lebih lanjut!

You might also like