Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Tidak Hanya Rian, Ini Dia Pembunuh Berantai Kejam di Indonesia

Balas dendam, tersinggung, kelainan seksual atau penyempurnaan ilmu hitam?

Meski kejam, pembunuhan nyatanya sudah banyak terjadi bahkan sejak zaman Adam dan Hawa dengan berbagai alasan seperti amarah, rasa dendam, kepuasan seksual, ilmu hitam dan masih banyak lagi. Pembunuhan sekali saja sudah bikin banyak orang usap dada, apalagi pembunuhan yang dilakukan berkali-kali hingga menghilangkan lebih dari satu korban jiwa atau juga disebut pembunuhan berantai.

Pembunuhan berantai sendiri sudah banyak terjadi di dunia ini, termasuk di Indonesia yang baru-baru ini dihebohkan dengan kasus pembunuhan oleh Rian Bogor yang menelan dua korban jiwa. Sebelum kasus Rian sendiri, sebenarnya sudah ada sejumlah pembunuh berantai kejam di Indonesia yang menggegerkan publik dan berikut adalah 10 di antaranya.

Ahmad Suradji (1986-1997)

via grid.id

Salah satu pembunuh berantai kejam di Indonesia yang juga pemegang rekor korban terbanyak adalah Ahmad Suradji alias Dukun AS. Dukun asal Desa Sei Semayang, Seli Serdang, Sumatera Utara ini diketahui telah menjagal sekitar 42 orang wanita muda.

Pembunuhan ini sendiri didasari oleh keinginan Dukun AS untuk menyempurnakan ilmu hitamnya dengan menumbalkan perempuan-perempuan tersebut. Dia meyakini jika berhasil membunuh 70 orang wanita lalu menghisap air liur mayatnya, maka tubuhnya akan menjadi sakti.

Ajaran itu ia peroleh saat berumur 12 tahun dari sang ayah namun baru didalami saat menginjak usia 20-an. Selain membunuh, dia juga mengaku memutilasi tubuh korbannya dengan bantuan sang istri, Tumini. Pembunuhan itu sendiri sudah dimulai sejak tahun 1986 dan mulai terendus pada tahun 1997 sehingga membuatnya dijatuhi hukuman mati pada tahun 2008 lalu.

Baekuni (1993-2010)

via kompas.com

Pembunuh berantai kejam di Indonesia lainnya adalah Baekuni, pria kelahiran Magelang 1961 yang memulai aksi kejinya sejak tahun 1993 hingga tertangkap pada 2010. Akrab disapa Babeh oleh para anak jalanan, Baekuni telah menghilangkan sekitar 14 nyawa anak jalanan dengan rentang usia 4-14 tahun dan empat di antaranya dimutilasi.

Kasus ini sendiri akhirnya terkuak karena adanya laporan orang tua korban yang kehilangan anaknya. Sehari setelah pelaporan, anak tersebut ternyata ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa dan terpotong menjadi beberapa bagian.

Babeh mengakui dia kerap melakukan pelecehan seksual hingga menggauli mayat korban. Hal ini sendiri terjadi akibat trauma masa kecil yang juga menjadi korbaan perkosaan saat menjadi anak jalanan oleh para preman sehingga dia tumbuh menjadi pedofil kejam dan keji.

Lebih mengerikannya lagi, Babeh mengakui merasa senang saat melihat korbannya menderita sampai meregang nyawa. Akibat perilaku tersebut, Baekuni pun dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Desember 2010 silam dan sampai sekarang masih menunggu pelaksaan hukuman tersebut.

Astini (1992-1996)

via liputan6.com

Pembunuh berantai kejam di Indonesia lainnya adalah Astini, seorang wanita yang membunuh lalu memutilasi tiga tetangga wanitanya menjadi 10 bagian. Bagian tubuh korban kemudian dibuang secara terpisah ke tempat sampah dan sungai di Surabaya.

Aksi kejamnya dilandasi rasa tersinggung akibat ditagih hutang secara kasar oleh ketiga korban yang masing-masing terjadi pada tahun 1992, 1993 dan 1996. Pembunuhannya sendiri berhasil terendus pada tahun 1996 setelah warga menemukan potongan kepala di dalam kantong plastik. Sama halnya dengan pembunuh berantai pendahulunya, Astini juga dijatuhi hukuman mati dan meregang nyawa pada 2005 silam.

Siswanto (1994-1996)

via 2.bp.blogspot.com

Tak kalah kejam dari Baekuni, Siswanto alias Robot Gedek adalah seorang pedofil sekaligus pembunuh berantai kejam di Indonesia. Memulai aksi kejamnya pada tahun 1992, Siswanto telah melenyapkan sekitar 12 anak laki-laki jalanan berusia 9-15 tahun yang didahului dengan tindakan sodomi.

Selain melakukan kekerasan seksual, dia juga tega membelah perut korban hingga terbuka lalu meminum darahnya dan memutilasi tubuh korban untuk menghilangkan jejak. Sama halnya dengan Baekuni, Siswanto juga menikmati aksi kejinya tersebut. Dia bahkan mengambil beberapa bagian tubuh korban untuk dijadikan kenang-kenangan.

Anehnya, Siswanto mengaku tidak menyadari perbuatan tersebut dan beranggapan sedang membunuh ayam saat melakukan pembunuhan. Sebagai hukuman, Siswanto dijerat hukuman mati namun lebih dahulu meninggal akibat serangan jantung pada tahun 2007 di Nusa Kambangan.

Antonius Rio Alex Bulo (1997-2001)

via sejarahkelamindonesia.blogspot.com

Pembunuh berantai kejam di Indonesia selanjutnya adalah Antonius Rio Alex Bulo alias Rio Martil. Sesuai dengan julukannya, Rio melakukan aksi pembunuhan dengan menggunakan dua buah martil kepada empat korban yang merupakan pemilik rental mobil. Martil tersebut akan dihempaskan pada kepala para korban hingga tewas sehingga Rio dapat membawa kabur mobil sewaannya.

Rio pun kemudian divonis hukuman mati pada tahun 2001 lalu mendekam di Nusa Kambangan. Sembari menunggu hukuman tersebut, Rio ternyata kembali membunuh pada tahun 2005. Kali ini korbannya merupakan tersangka kasus korupsi bernama Iwan Zulkarnaen. Tiga tahun setelah itu, Rio pun akhirnya tewas setelah dibombardir oleh para regu tembak.

Garibaldi Handayani (1999-2004)

via anehdidunia.com

Selanjutnya, ada pembunuh berantai kejam di Indonesia bernama Garibaldi Handayani. Dia adalah seorang anggota Kepolisian Polda Jambi yang telah melenyapkan tujuh nyawa dalam kurun waktu enam tahun.

Aksinya pembunuhan berantainya kemudian terbongkar pada 2004 saat sisa tubuh korban terakhirnya ditemukan polisi dalam keadaan mengenaskan akibat luka tembak dan dibakar. Korban terakhir tersebut selanjutnya diketahui sebagai istri muda Garibaldi yang melarkan diri dari kediaman orang tuanya sebelum ditemukan dalam bentuk mayat.

Selain istri muda, salah satu korban juga ternyata adalah istri lainnya yang dia klaim sedang merantau ke Jakarta. Sementara itu, satu lainnya merupakan pacar yang tengah hamil tiga tahun. Diketahui, sebagian besar korban meninggal akibat luka tembak. Garibaldi pun akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup namun meninggal saat dalam masa tahanan.

Very Idham Henyansyah (2006-2008)

via grid.id

Very Idham Henyansyah  alias Ryan Jombang mungkin merupakan pembunuh berantai kejam di Indonesia yang paling populer. Pria satu ini mengaku telah membunuh dan memutilasi 11 orang. Dua di antaranya adalah seorang wanita dan anaknya berumur tiga tahun sementara sisanya didominasi oleh pria gay. Karenanya, Ryan pun terindikasi sebagai penyuka sesama jenis.

Potongan tubuh salah satu korban yang merupakan pemicu terungkapnya kesadisan Rian Jombang ditemukan di wilayah Jakarta, yakni belakang Kebun Binatang Ragunan pada 2008 silam. Sementara itu, 10 korban lainnya dikuburkan di halaman belakang rumah orang tua Ryan. Motif pembunuhannya sendiri dilaporkan akibat masalah asmara, sakit hati serta materi dan ekonomi. Akibatnya, dia pun dijatuhi hukuman mati pada 2009 lalu dan hingga sekarang masih menunggu proses hukuman tersebut.

Tubagus Yusuf Maulana (Mei – Juli 2007)

via boombastis.com

Selanjutnya, ada Tubagus Yusuf Maulana alias Dukun Usep, pembunuh berantai kejam di Indonesia dengan korban sebanyak delapan orang. Lima korban pertama dibunuh pada Mei 2007 lalu sisanya di bula Juli.

Para korban tersebut merupakan klien dari Dukun Usep yang mengklaim bisa menggandakan uang dengan cara gaib. Pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan matang dengan bantuan lima kawannya.

Dukun Usep akan meminta para korban untuk menyiapkan setidaknya Rp 20 juta, kemudian menggali lubang yang cukup dalam. Setelah itu, korban diminta untuk berdiri dalam lubang tersebut sambil meminum cairan hitam yang ternyata adalah racun. Setelah meninggal, korban dapat dengan mudah dikubur. Akibat kekejiannya tersebut, Dukun Usep pun diganjar hukuman mati pada Juli 2008 oleh regu tembak Brimob Banten.

Yulianto (2010)

via kusakata.com

Yulianto adalah seorang dukun pijat asal Kartasura, Sukoharjo yang membunuh tujuh orang pelanggan yang terdiri dari enam warga sipil dan satu Kopasus pada Agustus 2010 silam.

Di balik sikapnya yang ramah, jenaka, dan pekerja keras, Yulianto ternyata menyimpan dendam karena para korban dianggap tidak menghargai jasanya dengan tidak mebayar atau hanya membayar setengah harga saja. Yulianto kerap kali menagih namun tidak membuahkan hasil.

Kasusnya pun terungkap setelah ditemukannya gundukan tanah di rumah pelaku yang ternyata merupakan tempat anggota Kopasus dikubur. Aksi pembunuhan pada anggota Kopasus tersebut diawali dengan memberikan ramuan herbal dari buah kecubung. Korban kemudian dipijat dari pundak ke bawah dan naik lagi ke punggung, pundak  dan berakhir di leher. Di bagian tersebut, Yulianto akan memiting korban hingga tewas. Saat ini, Yulianto tengah menunggu eksekusi matinya.

Muhammad Delfian, Dita Desamala, dan Supiyan (2013-2014)

via goriau.com

Berbeda dengan kasus pembunuhan sebelumnya, pembunuhan berantai di Siak, Bengkalis dan Rokan Hilir sejak tahun 2013 hingga 2014 justru dieksekusi oleh lebih dari satu orang. Korbanya sendiri dilaporkan terdiri dari enam orang anak laki-laki (5-10 tahun) dan satu pria dewasa usia 40  yang menderita keterbelakangan mental.

Pada tahun 2013, korban berjumlah empat orang dengan pembunuh Delfi dan Dita (suami istri) atas perintah seorang dukun yang tak lain adalah ayah kandung Delfi. Lalu, pada tahun 2014, bertambah tiga korban dengan tambahan tersangka Supiyan dan Diky.

Sebagai dalang utama pembunuhan, Delfi mengakui bahwa para korban mengalami kekerasan seksual setelah diculik. Korban kemudian dimutilasi dan dagingnya dijual sebagai daging biawak. Lebih mengerikannya lagi, alat vital korban dipotong dengan pisau kater saat korban masih dalam keadaan hidup untuk diberikan pada pada dukun sebagai syarat menjadi dukun hebat.

Dalam kasus ini, pemotongan alat vital dilakukan oleh Dita. Setelah itu, Delfi akan menggorok leher korban kemudian tubuhnya akan dipotong-potong oleh Supiyan. Sementara itu, Diky bertugas mengumpulkan daging cincang dan memasukkannya ke dalam plastik serta mengumpulkan tulang belulang untuk ditutup daun. Atas aksi bejadnya tersebut, ketiga pelaku pun dijerat hukuman mati.

Kasus pembunuhan berantai sudah banyak dijadikan inspirasi untuk berbagai film. Kalau kamu penasaran ingin mengenal lebih dalam tentang kasus pembunuhan berantai namun ingin suasana berbeda dan nyaman, menginap saja di Bobobox!

Wi-Finya kencang sehingga kamu akan puas melahap berbagai filma atau serial TV berbau kriminal. Selain itu, terdapat fasilitas lainya yang akan menjamin kenyamanan serta keamanan kamu selama bersama Bob seperti keyless access, moodlamp, Bluetooth speaker, dan masih banyak lagi. Unduh dulu yuk aplikasinya biar mudah untuk bookingnya!

You might also like