Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Mengenal Lebih Jauh Soal Hari Film Indonesia

Mari mengenal lebih dalam soal film indonesia

Bobobox.co.id — Manusia pada hakikatnya memiliki kreativitas yang tiada batasnya. Dengan banyak kreativitas yang dimiliki, manusia tentu membutuhkan media untuk mencurahkan kreativitas tersebut.

Film merupakan salah satu media tersebut. Di dalam sebuah film, kamu bisa menangkap ideologi, maksud yang ingin disampaikan, hingga pengenalan budaya ke khalayak banyak.

Sehingga, wajar saja jika film sering juga menjadi media untuk menunjukkan fenomena sosial yang ada di sekitar kita sekarang ini. Tak terkecuali film-film di Indonesia.

Film-film Indonesia seperti Dua Garis Biru yang dirilis tahun 2019 menjadi salah satu media yang bisa menampilkan salah satu fenomena sosial yang ada di Indonesia saat ini.

Setelah film-film Indonesia sudah mendapatkan apresiasi lebih, tentunya Hari Film Nasional wajib diberi apresiasi lebih. Sehingga, untuk itu Bob akan mencoba untuk menilik lebih jauh soal Hari Film Nasional yang mungkin jarang orang ketahui.

Sejarah Hari Film Indonesia

Tanggal 30 Maret menjadi di mana Hari Film Indonesia dirayakan. Banyak yang mungkin tidak tahu jika mengapa tanggal tersebut dipilih sebagai Hari Film Indonesia.

Pada tanggal 30 Maret 1950, sebuah film dengan yang berjudul Dara dan Doa atau Long March of Siliwangi memulai pertama kalinya pengambilan gambar atau shooting.

Disutradarai oleh Bapak Film Indonesia, Usmar Ismail, film ini merupakan film lokal pertama yang menunjukkan ciri khas Indonesia. Tidak hanya itu, film ini pun menjadi film pertama yang disutradarai oleh orang Indonesia asli.

Pada zaman itu sendiri, jarang sekali film Indonesia yang benar-benar diproduksi oleh Indonesia. Sehingga, wajar saja jika saat ada film Indonesia yang benar-benar digarap oleh orang Indonesia, tentu hal tersebut sangatlah membanggakan.

Sebenarnya, film bertemakan Indonesia pun pernah dibuat. Film dengan judul Loetoeng Kasaroeng yang dirilis pada tahun 1926. Namun, film tersebut disutradari oleh L. Heuveldorp, yang bukan merupakan orang Indonesia.

Berbeda halnya dengan Darah dan Doa, yang disutradarai oleh orang Indonesia dan diproduksi oleh Perfini yang merupakan studio film asli Indonesia.

Sehingga, setelah 12 tahun produksi Darah dan Doa, atau pada tanggal 11 Oktober 1962, konferensi Dewan Film Nasional dengan Organisasi Perfilman menetapkan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional.

Tidak hanya ditetapkan oleh kedua lembaga itu saja, keputusan tersebut diperkuat dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Kepres RI) Nomor 25 Tahun 1999 tentang Hari Film Nasional di era Presiden B.J. Habibie.

Alasan Mengapa Film Darah dan Doa yang Dipilih

Sebenarnya tadi sudah dijelaskan mengapa tanggal shooting pertama dari film Darah dan Doa yang dipilih untuk menjadi Hari Film Nasional. Namun, tidak ada salahnya jika kita menyelam lebih dalam terkait alasan utamanya.

Pasalnya, plot film Darah dan Doa ini menceritakan perjalanan panjang tentang perjuangan prajurit Indonesia. Perjuangan itu sendiri berawal dari Yogyakarta hingga Jawa Barat.

Nah, di film tersebut, perjuangan tersebut dipimpin oleh Kapten Sudarto yang menjadi main character dalam film Dara dan Doa. Penggambaran karakter Sudarto pada film tersebut sendiri adalah seorang pemimpin dan juga seorang yang rawan berbuat salah.

via upload.wikimedia.org

Nah, film tersebut sendiri tidak hanya menceritakan perjuangan rakyat dalam melawan penjajah. Pasalnya, Kapter Sudarto sendiri jatuh hati pada seorang wanita berdarah Indo-Belanda.

Walaupun ada bumbu-bumbu romantisme yang bisa dibilang cliche, namun film tersebut mampu menggambarkan bagaimana perjuangan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

darah dan doa hari film indonesia
via historia.id

Sempat Mendapatkan Kecaman dari Berbagai Pihak

Walaupun sekarang ini sudah diketahui bahwa tanggal 30 Maret 1950 menjadi Hari Film Nasional, namun pada saat penetapan pada zamannya, banyak sekali kecaman dari berbagai pihak untuk itu.

Pada tahun 1964, golongan kiri pada zaman tersebut membentuk Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat (PAPFIAS) dan melakukan serangan-serangan kepada film besutan Usmar Ismail.

Hal tersebut sendiri dilakukan karena film-film Usmar Ismail dianggap tidak nasional bahkan kontra-revolusioner. Tidak hanya itu, PKI dan golongan kiri pun tidak mengakui 30 Maret 1950 sebagai Hari Film Nasional.

via news.detik.com

Keduanya sendiri malah menuntut 30 April 1964 untuk dijadikan sebagai Hari Film Nasional. Pada tanggal tersebut sendiri dipilih karena merupakan berdirinya PAPFIAS.

Kecaman untuk penetapan Hari Film Nasional akhirnya berhenti. Dua tahun selanjutnya atau pada tahun 1966, golongan yang dianggap menjadi biang keladi kecaman tersebut dihabisi.

Dengan demikian, wacana penggantian tanggal Hari Film Nasional ikut lenyap. Sehingga, pada akhirnya tanggal 30 Maret 1950 pun diakui sebagai tanggal di mana lahirnya Hari Film Nasional.

via lokadata.id

Tak Lengkap Jika Tidak Mengenal Bapak Film Indonesia

Setelah tadi disampaikan mengenai film Darah dan Doa yang di mana hari pertama pengambilan gambarnya menjadi Hari Film Nasional, tidak lengkap rasanya jika tidak mengenal sutradara dari film tersebut.

Usmar Ismail merupakan seorang sutradara kelahiran Bukittingi, Sumatera Barat. Ia lahir pada tanggal 20 Maret 1921. Ia dianggap sebagai warga pribumi yang menjadi pelopor perfilman Indonesia.

Pasalnya, pada masanya, jarang sekali warga pribumi yang berkecimpung secara langsung di perfilman Indonesia. Sehingga, dengan jasa yang begitu besar, nama Usmar Ismail dikenang di ajang penghargaan film di Indonesia.

Namun, tidak hanya itu saja, ia pun dinobatkan sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Hal inilah yang menjadikan Usmar Ismail banyak dikenang oleh sineas muda di Indonesia.

via wartakota.tribunnews.com

Semasa hidupnya, Usmar Ismail sendiri menyutradarai kurang lebih 33 film layar lebar. Beberapa film layar lebar yang disutradarai oleh Usmar Ismail antara lain Darah dan Doa (1950), Tiga Dara (1956), dan masih banyak lainnya.

Kontribusi selama hidupnya sendiri tidak hanya dengan terjun langsung menjadi sutradara, tetapi juga di sektor lainnya. Sektor yang dimaksud adalah dengan mendirikan Perfini.

Perfini sendiri merupakan Pusat Perfilman Nasional Indonesia. Studio film ini cukup aktif dalam memroduksi film-film Indonesia pada tahun 1950an.

Namun, Perfini inilah yang diduga menjadi salah satu biang kematian Usmar Ismail. Perlu diketahui bahwa ia meninggal pada usia yang belum genap 50 tahun.

Usut punya usut, Usmar Ismail mengalami stres berat setelah ditipu oleh produser asal Italia saat bekerjasama dalam pembuatan film Adventures in Bali pada tahun 1970.

via studioantelope.com

Menginap dengan Nyaman? Hanya di Bobobox

Saat liburan, salah satu aspek yang pastinya harus diperhitungkan dengan baik adalah soal di mana akomodasi penginapan. Pasalnya, akomodasi penginapanlah yang bisa menjadikan liburanmu enak atau tidaknya.

Pasalnya, jika kamu menginap di akomodasi penginapan yang tidak nyaman untuk diinapi, energimu tidak akan kembali dan tubuhmu akhirnya malah jadi tidak fit.

Sehingga, jika badanmu tidak fit, bisa jadi saat kamu mengunjungi tempat wisata yang ingin kamu kunjungi sedari dulu pun akhirnya menjadi tidak seseru yang kamu bayangkan karena badanmu tidak bisa mengakomodir.

Salah satu akomodasi penginapan yang recommended adalah Bobobobox. Bobobox sendiri merupakan hotel kapsul yang menawarkan teknologi kekinian yang dijamin bisa membuatmu nyaman saat menginap.

Untuk pemesanannya, kamu bisa memesan pod yang kamu mau melalui aplikasi Bobobox yang bisa diunduh di sini.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.