Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Virus Marburg Muncul Kembali, Inilah 7 Fakta Virus Marburg yang Wajib Kamu Ketahui

Wajib waspada!

Bobobox.co.id — Belum usan pandemi covid-19, virus Marburg pun kembali muncul. Kasus infeksi virus tersebut muncul di Guinea, Afrika Barat. Untuk pencegahan, kamu wajib mengetahui fakta virus Marburg.

Hal tersebut tentunya demi mencegah penyebaran virus Marburg yang sudah menelan banyak korban. WHO pun sudah mengirimkan tim untuk melacak orang-orang yang menjalin kontak dengan pasien virus Marburg tersebut.

Nah, tanpa berlama-lama lagi, simak tujuh fakta virus Marburg yang wajib kamu ketahui sebagai langkah pencegahan. Fakta virus Marburg termasuk awal muncul, asal muasal, serta gejala dari orang terinfeksi virus Marburg.

Berikut adalah Fakta Virus Marburg

1. Pertama Kali Muncul Pada 1967

Fakta virus Marburg pertama adalah kemunculan pertama kali dari virus satu ini. Virus satu ini yang kembali muncul setelah terdeteksi muncul kasusnya di Gueckedou, Guinea, Afrika bagian Barat.

Hal tersebut bukanlah kemunculan pertama kali dari virus Marburg. Pasalnya, virus tersebut pertama kali terindentifikasi pada tahun 1967. Saat itu, wabah tersebut menimpa di Beogard, Siberia, Marburg dan Frankfurt.

Awalnya, virus tersebut menyebar ke manusia dari laporan pekerja di laboratorium di Jerman. Pekerja tersebut dilaporkan telah melakukan kontak dengan monyet hijau Afrika yang diimpor dari Uganda.

Nah, diduga, monyet tersebut menjadi inang virus tersebut. Berdasarkan WHO, fakta virus Marburg sendiri terbilang mematikan karena memiliki rasio kematian yang mencapai hampir 88 persen.

Muncul Pada 1967 fakta virus Marburg
Muncul Pada 1967 via who.int

2. Berasal dari Uganda

Fakta virus Marburg selanjutnya adalah asal muasal dari virus tersebut. Walaupun teridentifikasi pertama kali di Jerman dan Serbia, virus tersebut justru bukan berasal dari kedua negara tersebut.

Virus Marburg justru berasal dari Uganda. Dugaannya adalah monyek hijau Afrika (Cercopithecus aethiops) yang diimpor dari Uganda dan adanya kontak dengan pekerja laboratorium yang jadi kasus pertamanya.

Saat itu, sebanyak 31 orang jatuh sakit dan tujuh kematian dilaporkan akibat penularan virus Marburg. Setelah diawali oleh pekerja laboratorium, beberapa tenaga medis dan anggota keluarga mereka turut terkena.

Virus ini ditularkan melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh atau jaringan tubuh yang terinfeksi. Tak hanya itu, fakta virus Marburg ini pun bisa menginfeksi saat penanganan hewan terinfeksi yang sakit atau mati.

Berasal dari Uganda fakta virus Marburg
Berasal dari Uganda via voanews.com

Baca Juga: 6 Perbedaan Virus Dengan Bakteri Yang Wajib Kamu Ketahui


3. Inangnya adalah Kelelawar

Sebelumnya, penyebaran virus Marburg terjadi akibat adanya kontak pekerja laboratorium dengan monyet hijau Afrika. Namun, fakta virus Marburg lainnya adalah inangnya sendiri bukanlah monyet tersebut.

Inang atau reservoir dari virus tersebut diketahui adalah kelelawar buah yang banyak tersebar di daratan Afrika. Kelelawar Rousettus ini bisa tinggal di goa dan biasa dengan mudah ditemukan di banyak daerah di Afrika.

Mamalia ini sendiri akan membawa virus Marburg dan menyebarkan ke mamalia lain seperti monyet. Nah, kelelawar yang membawa virus ini sendiri tak diketahui lantaran virusnya tak membuat kelelawar sakit.

WHO pun mencatat kemungkinan penyebaran virus Marburg. Kemungkinan, penyebaran virus Marburg bisa jadi bermula dari pembantaian terhadap kelelawar dengan alasan untuk dikonsumsi sebagai makanan.

Kelelawar fakta virus Marburg
Kelelawar via Jonathan Towner

4. Dapat Menyebar dari Orang ke Orang

Dapat menyebar dari orang ke orang lainnya adalah fakta virus Marburg lainnya. Virus ini bisa menyebar dari satu orang ke orang lainnya melalui kontak langsung dengan darah, organ sekresi, atau cairan tubuh.

Bahkan, kain atau permukaan benda yang terkena cairan orang yang terinfeksi pun bisa menyebarkan virus. Tak heran jika petugas kesehatan pun rentan terinfeksi setelah merawat pasien terinfeksi virus ini.

Hal tersebut memungkinkan karena adanya kontak dekat dengan sang pasien. Tingkat penyebaran pun bisa semakin tinggi saat tindak pencegahan dan pengendalian infeksi tidak dilakukan secara ketat.

Penularan lewat peralatan injeksi yang terkontaminasi pun dikaitkan dengan penyakit yang lebih parah. Pasalnya, kemungkinan kerusakan yang cepat dan tingkat kematian yang lebih tinggi.

Kontak orang ke orang fakta virus Marburg
Kontak orang ke orang via edition.cnn.com

Baca Juga: Masih Bingung Soal Vaksin Covid-19 Yang Beredar Di Indonesia? Ini Dia Perbedaan Jenis Vaksin Di Indonesia


5. Jarang Terjadi di Luar Afrika

Fakta virus Marburg lainnya adalah kasus infeksi virus tersebut yang jarang terjadi di luar Afrika. Selain pertama kali muncul pada 1967, laporan soal virus tersebut di luar Afrika terbilang sedikit.

Kebanyakan dari kasus yang terjadi di luar Afrika pun akibat sepulang dari salah satu negara Afrika. Dua kasus pada tahun 2008 pun mencatat di mana kasus di Belanda dan Amerika bukan asli dari kedua negara tersebut.

Pada tahun tersebut, seorang turis asal Belanda terinfeksi sepulangnya dari Uganda. Masih di tahun yang sama, seorang turis asal Amerika Serikat pun terkena virus Marburg setelah mengunjungi Uganda.

Walaupun begitu, kamu wajib waspada soal hal satu ini. Bisa saja virus Marburg menginfeksimu setelah orang terdekatmu mengunjungi negara yang tengah dilanda virus Marburg dalam waktu dekat-dekat ini.

Jarang terjadi di luar Afrika fakta virus Marburg
Jarang terjadi di luar Afrika via sputniknews.com

6. Belum Ada Vaksin ataupun Obat

Sejak pertama kali muncul pada tahun 1967, fakta virus Marburg yang mesti kamu ketahui adalah belum adanya vaksin untuk orang yang terinfeksi virus tersebut. Hal ini pun diakui oleh WHO.

Walaupun begitu, beberapa perawatan pun saat ini dilaporkan sedang dievaluasi. Beberapa perawatan tersebut antara lain terapi suportif, terapi kekebalan, dan terapi obat menjadi pilihan untuk pengobatan.

Sejauh ini, perawatan medis dan rehidrasi baik orang maupun cairan intravena menjadi altenatif yang dipilih. Keduanya dilakukan untuk meningkatkan peluang hidup dari pasien yang terinfeksi virus Marburg.

Selain itu, Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) memberi izin pemasan Zabdeno dan Mvabea. Vaksin tersebut berpotensi untuk melindungi terhadap penyakit virus Marburg walaupun belum terbukti dalam uji klinis.

Vaksin fakta virus Marburg
Vaksin via pexels.com/@artempodrez

Baca Juga: Tidak Hanya Corona, Berikut Ini 10 Virus Mematikan Lainnya Di Dunia


7. Gejala dari Virus Marburg

Fakta virus Marburg terakhir yang wajib kamu ketahui adalah soal gejalanya. Soal gejalanya sendiri, infeksi virus Marburg dapat menyebabkan banyak gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, dan diare parah.

Tak hanya itu, orang terinfeksi virus tersebut bisa mengalami sakit kepala parah, muntah, sakit perut, dan kelelahan parah. Bahkan, kemungkinan pendarahan hebat antara 5 hingga 7 hari sejak munculnya gejala bisa saja terjadi.

Jika kamu melihat adanya gejala-gejala tersebut terhadap orang terdekatmu, lakukanlah pencegahan. Beberapa langkah pencegahan virus Marburg sendiri hampir mirip dengan pencegahan virus corona.

Melakukan prokotol kesehatan seperti jaga jarak, hindari kontak, dan cuci tangan sesering mungkin. Di samping itu, menghindari barang lain yang mungkin telah disentuh oleh orang terinfeksi virus Marburg.

Gejala dari vrus Marburg fakta virus Marburg
Gejala dari vrus Marburg via pexels.com/@polina-tankilevitch

Menginap dengan Aman di Bobobox

Saat menginap di sebuah penginapan, kamu mungkin kerap khawatir dengan barang bawaanmu. Namun, kekhawatiranmu soal barang hilang tak akan terjadi selama menginap di Bobobox.

Penggunaan QR Code untuk akses masuk pod jadi alasannya. Hanya pemilik QR Code saja yang bisa keluar masuk pod yang menjadikan barang berharga yang kamu bawa tetap aman selama menginap.

Untuk informasi dan pemesanan, unduh aplikasi Bobobox di sini ya!

You might also like