Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Mengenal Suku Buton, Suku Bermata Biru di Indonesia

Mata indah yang kerap mendapat stigma negatif

Indonesia adalah negara tropis yang identik dengan orang-orang berkulit kuning langsat hingga sawo matang dan berambut hitam. Tak jauh berbeda, mata orang Indonesia juga umumnya berwarna cokelat gelap, meski tidak sedikit yang berwarna cokelat terang.

Hal ini berkaitan dengan faktor iklim Indonesia yang mendapat banyak paparan sinar matahari. Semakin banyak cahaya matahari yang diterima, semakin banyak pigmen melanin yang dimiliki dan artinya semakin gelap warna iris matanya.

Pigmen melanin tersebut digunakan untuk melindungi mata dari kerusakan akibat paparan sinar ultraviolet. Selain itu, mata cokelat gelap juga memang dominan di kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan Afrika.

Meski begitu, tahukah kamu tentang keberadaan orang-orang Indonesia namun bermata biru? Mereka berasal dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara dan dikenal sebagai suku Buton. Penasaran tentang suku ini? Cari tahu lebih lanjut yuk lewat fakta suku Buton berikut ini!

Sindrom Waardenburg

@geo.rock888/Instagram

Secara fisik, suku Buton memiliki karakteristik khas Indonesia seperti warna kulit dan rambut yang gelap. Yang membedakannya dengan suku lain adalah matanya yang berwarna biru cerah khas orang-orang kaukasoid. Efeknya tentu sangat menakjubkan karena warna mata seolah bersinar dan hal ini tentunya merupakan pemandangan langka di kawasan Asia Tenggara.

Fakta suku Buton bermata biru ini ternyata disebabkan oleh kelainan genetika langka yang disebut sindrom Waardenburg. Melansir U.S. National Library of Medicine, sindrom Waardenburg ini merupakan sekelompok kondisi genetik yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan perubahan pada warna rambut, kulit dan mata. Sindrom ini biasanya terjadi pada 1 dari 40.000 orang.

Pada suku Buton, sindrom tersebut menimbulkan warna biru cerah pada kedua mata atau salah satunya salah satunya saja sementara satu mata lain tetap berwarna gelap. Kelainan ini tidak menimbulkan keluhan berarti. Hanya saja, mata akan berair saat menerima kelebihan cahaya.

Sindrom Waardenburg termasuk kelainan kongenital atau bawaan sejak lahir. Sindrom Waardenburg juga tidak menular ataupun diobati dengan obat-obatan. Penyebabnya juga bukan karena faktor gaya hidup atau perkembangan.

Selain itu, orang dengan sindrom Waardenburg belum tentu akan menghasilkan keturunan anak bermata biru. Namun, jika salah satu orang tua memiliki sindrom tersebut, besar kemungkinan ada keturunan yang mewarisinya.

Baca Juga: Jarang Terdengar, Ini Dia 5 Pulau Terpencil Di Dunia

Hasil Perkawinan Silang

Mengingat sejarah pendudukan bangsa Eropa di Indonesia, fakta suku Buton bermata biru juga kerap dikaitkan dengan perkawinan silang. Ada yang berpendapat bahwa mata biru suku Buton merupakan warisan turun temurun dari hasil perkawinan warga lokal dengan bangsa Portugis.

Sejumlah bangsawan dari suku tersebut diketahui terlibat pernikahan dengan bangsa Portugis. Salah satunya adalah Raja Siompu II yang menikahkan putrinya, Wa Ode Kambaraguna, dengan orang Portugis. Hal ini pun diyakini menjadi pangkal lahirnya keturunan suku Buton bermata biru.

Namun, fisik keturunan yang dihasilkan masih memiliki campuran kaukasoid, yaitu postur tubuh tinggi dan warna kulit yang lebih cerah. Anggapan tentang hasil perkawinan silang pun diragukan karena kondisi fisik orang Buton yang masih mengikuti karakteristik Indonesia. Karenanya, sindrom Waardenburg menjadi alasan paling memungkinkan yang menjadi penyebab adanya suku bermata biru.

Baca Juga: 7 Pulau Dengan Bentuk Paling Aneh Yang Unik Dan Tidak Biasa!

Tidak Semua Bermata Biru

@geo.rock888/Instagram

Fakta suku Buton bermata biru sebenarnya tidak berlaku pada seluruh anggota suku tersebut. suku Buton sendiri diperkirakan memiliki populasi di bawah 450.000 orang. Mereka terbagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang tinggal di pedalaman.

Mayoritas penduduk memiliki warna mata normal, yakni mata cokelat sebab sindrom Waardenburg ini hanya memengaruhi sekelompok kecil saja yang dikaruniai dua mata biru atau satu mata biru dan satu mata cokelat. Jika kamu berkunjung ke Buton, kamu mungkin bisa membuktikan fakta suku Buton tersebut.

Suku Buton sendiri diketahui menjadikan perikanan sebagai mata pencaharian utama mereka. Terlepas dari keunikan sejumlah kelompoknya yang bermata biru, suku Buton juga memiliki budaya turun temurun yang menjadi daya tarik wisatwan baik lokal maupun internasional.

Salah satunya adalah tradisi kande-kandean. Tradisi ini berupa acara makan bersama untuk memperingati kemenangan perang oleh pasukan kesultanan Buton. Kande-kandean juga menjadi ajang pencarian jodoh sebab kerap melibatkan acara suap-suapan dari para gadis kepada para lelaki.

Selain itu, kunjungan ke Pulau Buton juga tak hanya akan membawa kamu pada keunikan suku mata birunya. Pulau Buton juga tercatat menjadi rumah bagi hewan tarsius, primata terkecil di dunia.

Rendahnya angka perburuan dan penebangan d Pulau Buton mengakibatkan pesatnya perkembangan hewan tersebut. Hal ini tentu merupakan kabar baik mengingat tarsius merupakan hewan yang setia pada satu pasangan hingga mati.

Baca Juga: Terisolasi Sejak 20 Juta Tahun Yang Lalu, Ini Dia Misteri “Pulau Alien” Bernama Socotra

Dianggap Negatif

@geo.rock888/Instagram

Fakta suku Buton lainnya yang mungkin belum kamu tahu adalah stigma negatif yang disematkan pada mereka yang bermata biru. Kelainan tersebut dianggap tidak wajar sehingga mereka kerap mendapat ejekan dan intimidasi di lingkungan sekolah. Karena itu, mereka cenderung pendiam, rendah diri dan pemalu. Mereka juga tertutup dan enggan berinteraksi dengan dunia luar.

Stigma buruk tersebut ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Kabarnya, stigma ini dipelopori oleh kedatangan bangsa Belanda. Dengan politik adu domba, Belanda berhasil mengusir semua yang berhubungan dengan Portugis, termasuk suku Buton bermata biru yang harus keluar dari kediaman mereka Benteng Keraton.

Belanda juga menyebarkan rumor tentang mata biru yang dianggap terkutut dan tidak bisa dipercaya alias pengkhianat. Buntut pengusiran membuat suku Buton bermata biru tersebar di beberapa desa di Kabupaten Buton. Di antaranya adalah Desa Kaimbulawa (Pulau Siompu), Desa Tira dan Mambulu (Kecamatan Sampolawa dan Dongkala), hingga ke Liya di Wakatobi, Ambon dan Malaysia.

Anak hasil perkawinan Buton Portugis pun termarginalkan, bermental inlander serta menjadi rendah diri, minder dan tertutup terhadap orang baru. Mereka juga memilih menghindari keramaian dan komunikasi dengan orang asing.

Anggapan buruk itu terus membekas sehingga suku Buton bermata biru kerap menjadi bahan ejekan, tertawaan dan sindiran. Namun, stigma itu kini mulai memudar. Suku bermata biru itu mulai membuka diri.

Foto mereka bahkan pernah viral lewat unggahan akun Instagram @ geo.rock888, seorang geolog Indonesia pada September 2020 lalu. Unggahan tersebut menarik perhatian dan menimbulkan kekaguman dari banyak orang yang terkesan dengan keindahan mata tersebut. Masyarakat sekitar pun kini mulai terbuka pikiran dan pandangannya terhadap suku tersebut.

Tenangkan Diri di Bobocabin

Ingin melarikan diri dari kepenatan sambil berwisata alam? Yuk cobain Bobobocabin, layanan terbaru Bobobox untuk menemani kamu merasakan tenangnya alam dalam balutan teknologi canggih.

Kabinnya dirancang dengan konsep futuristik yang dilengkapi dengan teknologi Internet of Things. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk pengaturan lampu, pintu, dan Bluetooth speaker.

Ada jua smart glass yang memberi kamu pilihan untuk beristirahat dalam kesendirian atau sambil menikmati pemandangan alam di hadapan kamu. Jangan khawatir soal masalah internet. Bobocabin juga dilengkapi dengan Wi-Fi kencang lho!

Selain itu, Bobocabin juga dilengkapi dengan area parkir, kamar mandi bersama dengan akses QR code serta pembersihan berkala. Unduh dulu yuk aplikasi Bobobox untuk informasi lebih lanjut!

You might also like