Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Fakta-Fakta Mengenai Disinfektan

Amankah penggunaannya?

Akibat merebaknya virus corona jenis baru atau juga dikenal dengan nama COVID-19, disinfektan kini sangat populer dan diburu di mana-mana.

Disinfektan sendiri adalah cairan yang terbuat dari bahan kimia dan digunakan untuk membersihkan benda-benda mati untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan kuman.

Karena fungsinya tersebut, kegiatan penyemprotan cairan disinfektan pun kian populer. Kamu mungkin sudah sering melihatnya di televisi atau di wilayah tempat tinggal kamu.

Petugas akan menyemprotkan cairan pembersih di tempat-tempat umum seperti jalanan, sekolah, masjid, gereja, pasar, dan tempat lainnya yang sering dikerumuni banyak orang guna memutus penyebaran COVID-19.

Namun belakangan ini, disinfektan tidak hanya disemprotkan pada benda mati melainkan juga disemprotkan langsung pada tubuh manusia, baik dengan menggunakan semprotan atau bilik disinfektan.

Praktik ini makin populer karena dianggap dapat membunuh virus corona yang mungkin menempel pada pakaian dan tubuh manusia.

Lalu, apakah penyemprotan tersebut aman dan efektif atau justru membahayakan tubuh manusia?

Untuk lebih detailnya, yuk simak beberapa fakta tentang disinfektan ini!

Penggunaan Disinfektan

unsplash @honest

Bagi kamu yang belum terlalu mengenal apa itu disinfektan, kamu mungkin sering melihatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Cairan pembersih kuman ini dapat kamu temukan dalam produk-produk pembersih lantai, dapur, pembersih kerak, pemutih, dan pembersih rumah tangga lainnya.

Karena itu, selama pandemi COVID-19 ini, cairan disinfektan banyak diburu untuk digunakan sebagai pembersih benda-benda yang seringkali tersentuh tangan.

Dengan cairan-cairan tersebut, kamu dapat membersihkan permukaan meja, lantai, kaca jendela, gagang pintu, keran, dan benda-benda lainnya yang seringkali disentuh banyak orang.

Dengan begitu, benda-benda tersebut diharapkan dapat terbebas dari virus, kuman, dan bakteri.

Disinfektan sendiri umumnya terbuat dari alkohol, klorin, glutaraldehyde, atau kloroksilenol.

Alkohol sebagai disinfektan dapat digunakan untuk mensterilkan alat-alat medis misalnya termometer oral, sementara itu, klorin umumnya digunakan sebagai kaporit (untuk membersihkan air dalam kolam renang).

Selanjutnya, glutaraldehyde (2%) biasanya digunakan untuk mensterilkan alat-alat operasi yang tidak bisa disterilkan dengan suhu panas.

Sama halnya seperti alkohol dan glutaraldehyde, kloroksilenol (5%) dapat digunakan untuk membersihkan alat-alat medis dengan cara merendamnya dengan campuran alkohol 70%.

Selain bahan-bahan di atas, disinfektan juga dapat dibuat dari hidrogen peroksida, kreosot, iodin, amonium kuartener, formaldehida (formalin), kalium permanganat, dan fenol.

Meski memiliki manfaat yang cukup banyak, ada beberapa mikroorganisme yang memiliki resistansi terhadap cairan disinfektan sehingga cairan tersebut tidak dapat membunuhnya secara menyeluruh.

Efek Samping Penggunaan Disinfektan

insertlive.com

Meskipun manfaatnya cukup besar dalam mencegah penyebaran virus, penggunaan disinfektan juga tidak lepas dari efek sampingnya.

Cairan ini umumnya dapat memberikan efek mual, sakit kepala, sumbatan jalan napas, asma, rinitis, iritasi mata, dermatitis, dan diskolorasi kulit (perubahan warna kulit).

Hal ini biasanya terjadi jika kamu menggunakan disinfektan dengan konsentrasi yang kuat tanpa mencampurnya dengan air atau cairan lain.

Disinfektan yang sudah dicampur sekalipun masih dapat menimbulkan iritasi jika kamu membiarkannya menempel di kulit terlalu lama.

Dengan maraknya bilik disinfektan serta penyemprotan langsung pada tubuh manusia untuk membasmi penyebaran COVID-19, tentu hal itu menimbulkan tanya apakah bijak dan aman jika orang-orang disemprot langsung oleh cairan disinfektan.

Apalagi, efektivitas pembasmian virus dengan penyemprotan pada tubuh belum teruji secara ilmiah baik dari segi konsentrasi yang digunakan serta waktu kontak cairan dengan mikroba.

Seperti yang Bob bilang sebelumnya, disinfektan ini terbuat dari bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit manusia.

Selain itu, saat terjadi penyemprotan, virus kemungkinan akan menyebar ke area yang tidak tersemprot atau terbasahi oleh cairan tersebut.

Dengan begitu, penularan virus kepada orang lain masih bisa terjadi meskipun sudah dilakukan penyemprotan.

Menurut Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB), penyemprotan cairan disinfektan pada tubuh manusia dapat kerusakan pada saluran pernafasan, kulit, atau mata.

Misalnya, bahan klorin dioksida dapat merusak saluran pernapasan, larutan hipoklorit akan berpengaruh pada kulit, electrolyzed salt water dapat merusak saluran pernapasan serta kulit, dan kloroksilenol akan berdampak pada mata.

Umumnya, cairan tersebut dapat membunuh virus dan bakteri dengan efektif pada permukaan benda mati dengan waktu kontak sekitar 15 detik sampai 10 menit.

Saat penyemprotan, tidak diketahui apakah virus masih menempel di luar atau malah sudah masuk ke dalam tubuh.

Jika sudah masuk, tentu percuma melakukan penyemprotan karena cairan disinfektan tidak dapat membunuh virus yang sudah masuk ke dalam tubuh.

Bilik Disinfektan

nova.grid.id

Maraknya penggunaan bilik disinfektan sebagai salah satu upaya untuk mencegah COVID-19 mendapatkan sorotan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) .

Mereka mengungkapkan bawah disinfektan yang mengandung klorin atau alkohol hanya boleh digunakan pada permukaan benda saja, tentu dengan petunjuk pemakaian yang tepat.

Meski begitu, Ketua Departemen Farmasetika Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga Surabaya (Unair), Retno Sari melontarkan pernyataan yang berbeda pada tanggal 29 Maret lalu.

Menurutnya, penyemprotan melalui bilik disinfektan yang ada di Surabaya dinilai aman karena bahan yang digunakan adalah benzalkonium klorida yang merupakan kelompok ammonium quarterner.

Ammonium quarterner ini bersifat surfaktan seperti sabun dan kadar yang digunakan pun aman sehingga tidak menimbulkan efek samping.

Profesor Nidom Foundation (PNF) juga menyampaikan hal yang serupa mengenai penggunaan bilik disinfektan ini.

Dia mengungkapkan bahwa penggunaan benzalkonium klorida aman digunakan pada manusia asalkan campurannya tepat.

Bilik disinfektan sendiri merupakan sebuah tempat untuk menyemprotkan cairan disinfektan pada manusia dari berbagai arah.

Bilik tersebut dilengkapi dengan sinar atau radiasi ultraviolet di dalamnya.

Sebenarnya, bilik disinfektan umumnya digunakan di pintu laboratorium medis dan digunakan pada orang yang akan masuk ke sana.

Hanya saja, orang tersebut memakai alat pelindung diri lengkap seperti baju hazmat, masker, dan sarung tangan.

Maka dari itu, penggunaan bilik disinfektan tidak bisa sembarang dan harus dipakai sesuai dengan standar keamanan yang tepat.

Sementara itu, penyemprotan langsung pada masyarakat dilakukan tanpa memakai alat pelindung diri sehingga cairan pun kontak langsung dengan kulit.

Lalu, apakah penggunaan bilik disinfektan ini efektif?

Seperti yang Bob sebutkan sebelumnya, penggunaan disinfektan juga memiliki efek samping tersendiri yang justru akan merusak tubuh.

Belum adanya penelitian secara ilmiah tentang penggunaan bilik ini juga menjadikannya langkah yang tidak recommended.

Selain itu, penggunaan sinar ultraviolet dengan jumlah besar dalam bilik dengan tujuan untuk membunuh virus, bakteri, atau mikroorganisme lainnya dalam jangka panjang justru berpotensi menimbulkan kanker kulit.

Long Stay Bersama Bobobox

Terpaksa keluar rumah karena tuntutan pekerjaan padahal sedang pandemi global COVID-19? Jangan panik, tetap tenang dan berpikir positif agar kamu tidak tertekan.

Biar lebih tenang, nyaman, dan tentunya senang, yuk coba long stay dan work from Bobobox aja!

Bobobox adalah hotel kapsul dengan konsep minimalis namun futuristik dan kini sudah tersebar di tiga kota besar di Indonesia.

Kamu bisa menemukannya di Bandung, Jakarta dan Semarang.

Cukup unduh aplikasi Bobobox di ponsel pintar kamu dan dapatkan kemudahan dalam booking, akses pod, sampai check-out!

You might also like