Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Simak Fakta Seputar Dewi Penguasa Lautan Mitologi Indonesia Berikut Ini

Simak Fakta Seputar Dewi Penguasa Lautan Mitologi Indonesia Berikut Ini

Sama halnya dengan mitologi Yunani dan Romawi, mitologi Indonesia juga sarat akan kisah dewi-dewi dengan asal-usul unik dan kekuatan supernatural yang di luar nalar. Mengingat Indonesia sebagai negara bahari, kisah dewi penguasa lautan pun menjadi salah satu mitologi Indonesia yang cukup populer dan diyakini keberadaannya.

Tak hanya itu, tidak sedikit masyarakat lokal yang menyegani dan bahkan memuja penguasa laut tersebut. Dengan beragamnya kisah-kisah melegenda di Indonesia, tentu masih banyak fakta menarik seputar dewi penguasa lautan ini yang mungkin kamu lewatkan. Simak lebih lanjut, yuk!

Tak Hanya Nyi Roro Kidul

Putri Mandalika via regional.kompas.com

Tidak sedikit orang mengasosiasikan dewi penguasa lautan dengan legenda Nyi Roro Kidul. Nama satu ini memang sudah malang melintang dalam mitologi Indonesia dan sangat populer di berbagai kalangan.


Baca Juga: Power Within Beauty: 10 Makhluk Mitologi Yang Cantik Namun Mematikan


Namun, dewi penguasa lautan dalam mitologi Indonesia sebenarnya bukan Nyi Roro Kidul saja. Di berbagai daerah di Indonesia, kamu juga bisa menjumpai berbagai legenda menarik terkait dewi-dewi penguasa lautan. Di antaranya adalah:

Putri Hijau

Legenda Putri Hijau cukup lekat dengan daerah Sumatra Utara dan Aceh. Sosok dalam mitologi Indonesia ini konon merupakan putri Kerajaan Tanah Deli yang memancarkan cahaya berwarna hijau.

Ia terkenal dengan kecantikan dan pesona yang berhasil memikat hati Raja Aceh. Namun, Putri Hijau yang belum siap untuk diperistri memberikan penolakan pada lamaran sang Raja. Sayang, ia merasa terhina dan mencetuskan peperangan untuk mendapatkan Putri Hijau.

Ia pun memboyong Putri Hijau dengan kapalnya. Nahas, di perjalanan, seekor naga dari lautan datang dan memporakporandakan segalanya. Naga itu membawa sang Putri ke sebuah istana di bawah laut. Masyarakat setempat meyakini sang Putri menjadi dewi penghuni negeri di dasar laut yang lokasinya berada di sekitar Pulau Berhala.

Dewi Lanjar

Jika di selatan ada Kanjeng Ratu Kidul, pantai utara Jawa memiliki dewi penguasa lautan bernama Dewi Lanjar. Sosok dalam mitologi Indonesia ini diyakini memiliki kerajaan gaib di tepi Pantai Slamaran, Pekalongan, Jawa Tengah.

Konon, Dewi Lanjar mulanya merupakan wanita biasa yang kehilangan suami di usia muda dan belum mempunyai anak. Duka akibat kehilangan sang suami membawanya bertapa ke pantai selatan hingga akhirnya menjadi anak buah Kanjeng Ratu Kidul.

Kegagalan dalam sebuah misi membuatnya meminta izin kepada sang Ratu untuk tinggal di Pekalongan. Sejak itu, ia pun menjadi dewi penguasa lautan utara.

Dewi Penguasa Laut di Bali

Melansir Indonesia.go.id, AA Kade Sri Yudari dalam disertasinya yang berjudul Persepsi Masyarakat terhadap Mitos Ratu Kidul di Pesisir Bali Selatan, Kajian Wacana Naratif mengungkapkan Bali memiliki dua versi dewi penguasa lautan.

Salah satunya adalah versi yang sama dengan Penguasa Laut Selatan Jawa. Hal ini berkenaan dengan adanya aksara Jawa dan Bali yang menunjukkan kesamaan informasi terkait penguasa pantai selatan tersebut. Bahkan, hotel Grand Inna Bali Beach menyediakan kamar suci untuk sosok dalam mitologi Indonesia tersebut.

Putri Mandalika

Putri Mandalika merupakan sosok dalam mitologi Indonesia yang amat dianggap sakral oleh masyarakat etnis Sasak, Pulau Lombok. Kebaikan dan kecantikan sang Putri membuahkan lamaran dari pangeran di berbagai kerajaan.

Namun, Putri Mandalika memilih untuk mengorbankan dirinya dengan menceburkan diri ke laut agar tidak menimbulkan perpecahan di antara banyak kerajaan. Tubuhnya pun hilang tanpa jejak.

Tak lama setelah itu, muncullah cacing panjang yang dipercaya sebagai jelmaan sang Putri. Saking sakralnya, legenda ini pun berkembang menjadi ritual Bau Nyale, yakni upacara menangkap sejenis cacing laut.

Masyarakat etnis Sasak menjalani ritual ini sekitar bulan Februari-Maret setiap tahunnya. Hingga kini, mereka masih meyakini kemunculan cacing aneka warna sebagai perwujudan Putri Mandalika.

Ratu Junjung Buih

Beralih ke Kalimantan, tepatnya Kalimantan Selatan, kamu akan mendengar kisah dewi lainnya dalam mitologi Indonesia dengan sebutan Ratu Junjung Buih. Masyarakat setempat meyakini bahwa Ratu Junjung Buih ini merupakan penguasa di Selat Karimata.

Konon, ia merupakan putri angkat dari Raja Tua Kerajaan Amuntai. Uniknya, sang Raja mendapatkan Putri Junjung Buih dari hasil pertapaan di Candi Agung lalu menemukannya dalam tumpukan buih di sungai.


Baca Juga: Penggemar Dunia Supranatural Wajib Tahu! Ini Dia Hantu Asal Kalimantan Yang Bakal Bikin Kamu Merinding


Ina Kabuki

Masyarakat etnis Buru, Pulau Buru, Kepulauan Maluku juga meyakini adanya dewi penguasa lautan bernama Ina Kabuki. Sosok dalam mitologi Indonesia ini disebut-sebut bertahta di dasar Teluk Kayeli.

Dua Sosok yang Berbeda

Membahas mitologi Indonesia tak lengkap rasanya tanpa menyertakan Ratu Laut Selatan. Jika ditanya mengenai hal ini, tidak sedikit orang yang mengasosiasikannya dengan sosok Nyi Roro Kidul.

Namun, rupanya ada dua nama yang muncul terkait penguasa laut selatan dalam mitologi Indonesia, yaitu Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul. Lantas, apa yang membedakan keduanya?

Kanjeng Ratu Kidul

Kanjeng Ratu Kidul diyakini sebagai keturunan para dewa yang berasal dari langit. Ia memiliki sifat mulia dan baik hati serta kerap turun ke dunia dengan wujud tertentu.

Sang Ratu biasanya menampakkan diri hanya untuk memberi peringatan atau isyarat akan datangnya kejadian penting. Ia juga diyakini memiliki istana di Samudra Hindia dan berkuasa atas ombak lautan tersebut. Bisa dikatakan, Kanjeng Ratu Kidul ini adalah Dewi Penguasa Laut Selatan.

Dalam mitologi Jawa, masyarakat setempat meyakini sang Ratu sebagai pasangan spiritual dari para Raja Mataram berikut keturunannya di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Nyi Roro Kidul

Di sisi lain, mitos yang beredar menyebutkan Nyi Roro Kidul mulanya merupakan seorang putri raja Sunda. Dalam salah satu versinya, Nyi Roro Kidul ini terlahir dengan nama Dewi Kandita atau Kadita. Ia terkena guna-guna dari dukun sakti yang mendapat perintah dari pihak kerajaan yang iri dengan kecantikannya.

Akibatnya, wajah rupawan Kandita berubah buruk rupa. Ia pun terusir dari kerajaan lalu melompat ke lautan untuk mendapatkan kembali kecantikannya. Meski kembali jelita, dewi dalam mitologi Indonesia ini tidak bisa kembali ke tempat asalnya.

Ia pun diangkat menjadi ratu oleh para lelembut yang menghuni pantai selatan Jawa. Selain menjadi ratu para lelembut, pendapat lain menyebutkan bahwa Nyi Roro Kidul merupakan bawahan Kanjeng Ratu Kidul.

Ia menjabat sebagai patih yang mengurusi dunia luar dan bertugas menjaga pantai selatan. Hal inilah yang membuat Nyi Roro Kidul dikenal lebih luas dan dianggap sebagai penguasa laut selatan.

Kemunculan Mitos Penguasa Laut Selatan

Berdasarkan sejarah, Ratu Pantai Selatan dalam mitologi Indonesia memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Mataram-Islam. Sastrawan kenamaan Pramoedya Ananta Toer menyebutkan munculnya mitos itu  sebagai buntut dari kekalahan Sultan Agung.

Sultan Agung ini merupakan raja ke-3 Kesultanan Mataram yang Memerintah sejak tahun 1613-1645. Ia mengalami kekalahan dalam operasi militernya terhadap Batavia yang dikuasai Belanda sekaligus kegagalan untuk menguasai jalur perdangan Pantai Utara Jawa.

Akibatnya, para pujangga istana Mataram menciptakan mitos seputar Nyi Roro Kidul untuk menutupi kegagalan tersebut. Hal itu tertuang dalam karya sastra “Babad Tanah Jawi” yang berisi kisah tentang Mataram dan isinya serta silsilah para raja Jawa.

Kerajaan Mataram sendiri didirkan oleh Panembahan Senopati yang menjadi titik awal hubungan Mataram dengan Penguasa Pantai Selatan. Dari sana, timbullah anak mitos lain yang mengatakan Panembahan Senopati beserta keturunannya memiliki hubungan khusus dengan Ratu Pantai Selatan.

Konon, setiap penobatan raja sekaligus menjadi momen pernikahan spiritual dengan sang Ratu. Beredarnya mitos ini pun membantu memperkuat legitimasi kekuasaan raja-raja Mataram dan mengukuhkan bahwa Mataram masih menguasai Laut Selatan (Samudra Hindia).

Singkatnya, laut menjadi salah satu sumber penghidupan yang membuat masyarakat bisa makan dan menghidupi keluarga. Mereka tidak bisa memperlakukannya secara sembarangan dan meyakini adanya kekuatan besar di dasar laut.

Kekuatan tersebut tak hanya menentukan besar kecilnya tangkapan, namun juga keselamatan. Hal tersebut kemudian terwujud dalam sosok Ratu Pantai Selatan. Alhasil, masyarakat percaya akan keberadaan dan kekuatan sang ratu, yang dengan demikian menjadi dasar legitimasi kekuasaan Panembahan Senopati dan keturunan-keturunannya.

Dengan kata lain, rakyat yang tidak mau tunduk terhadap kekuasaan raja justru terpaksa tunduk di bawah mitos Kanjeng Ratu Kidul sebagai istri gaib raja. Hal ini tak pelak semakin memperkuat kepercayaan masyarakat akan sosok penguasa lautan tersebut. Dalam Babad Tanah Jawi itu bahkan tersirat janji sang Ratu untuk menjaga Kerajaan Mataram beserta para sultan, keluarga kerajaan dan masyarakatyna dari segala malapetaka.

Hotel Tengah Kota, Ya Bobobox!

Tak perlu pusing-pusing mencari penginapan di tengah kota karena Bobobox hadir untuk menemani momen liburan, staycation hingga belajar dan bekerja saat jauh dari rumah. Dengan desain futuristik, hotel kapsul ini menawarkan berbagai fasilitas menarik dan canggih sehingga pengalaman menginap kamu jauh dari kata bosan.

Ada keyless access, Wi-Fi kencang, Bluetooth speaker, moodlamp untuk pengaturan cahaya dalam pod, vending machine hingga spot Instragmmable. Yuk, langsung unduh saja aplikasi Bobobox untuk reservasi dan informasi lebih lanjut!

You might also like