Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Sempat Ramai Jadi Pembicaraan, Simak Fakta-Fakta Seputar Pawang Hujan di Indonesia

Tradisi lama yang sedang menjadi sorotan

Baru-baru ini, profesi dan cara kerja pawang hujan tengah menjadi perbincangan. Hal ini berkaitan dengan aksi seorang pawang hujan dalam gelaran MotoGP 2022 di Sirkuit Mandalika, Indonesia.

Pawang perempuan bernama Rara Itiani Wulandari itu tampak berjalan di tengah sirkuit yang diguyur hujan lebat. Lantas, ia pun melaksanakan ritual penangkal hujan dengan memukul-mukulkan pengaduk pada mangkuk emas sambil melafalkan doa. Tak disangka-sangka, ritual itu berhasil menghentikan guyuran air tersebut.

Hal ini sontak menimbulkan beragam reaksi, baik pro maupun kontra. Tidak sedikit juga masyarakat awam yang mempertanyakan bagaimana cara kerja pawang hujan ini.

Apa kamu termasuk yang penasaran dengan cara kerja pawang hujan ini? Biar penasarannya hilang, simak lebih lanjut yuk cara kerja pawang hujan serta fakta-fakta lainnya terkait profesi tersebut!

Profesi Pawang Hujan

via boombastis.com

Istilah pawang hujan mengacu pada sebutan bagi orang yang pandai menolak hujan. Orang tersebut dipercaya memiliki ilmu gaib sehingga dapat mengendalikan cuaca, salah satunya hujan.

Meski dianggap sebagai sebuah profesi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan ilmu yang mendasarinya tidak bisa dipahami secara nalar. Ilmu satu ini tercipta di zaman saat manusia masih memercayai konsep mitologi dalam memahami alam semesta.

Dengan kata lain, pawang hujan ini tidak memiliki lembaga pendidikan tertentu untuk menimba ilmunya. Mereka umumnya mendapatkan ilmu supernatural sendiri dengan melakukan ritual khusus seperti semedi atau tirakat (puasa khusus, pantangan, mengasingkan diri, dan lainnya).

Dengan kemampuannya tersebut, pawang hujan kerap dimintai pertolongan oleh masyarakat untuk acara-acara besar yang mengundang banyak orang. Sebut saja acara pernikahan, sunatan, upacara adat, perayaan hari besar, konser musik, gelaran partai hingga ajang olahraga. Acara yang sukses dan mulus tentunya bisa meredam kecemasan dari para pemilik hajat.

Kendati sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia, tidak sedikit yang masih awam dan mempertanyakan bagaimana cara kerja pawang hujan tersebut. Apa yang sang pawang lakukan sehingga berhasil mengehentikan hujan?


Baca Juga: Pencinta Otomotif Mana Suaranya? Ketahui Fakta Menarik Seputar Sirkuit MotoGP Mandalika Berikut Ini!


Cara Kerja Pawang Hujan

Melansir dari berbagai sumber, cara kerja pawang hujan serta ritual yang mereka pakan akan berbeda-beda  tiap orangnya. Namun, mereka umumnya akana memindahkan atau menggeser, menunda atau membagi hujan.

Pawang biasanya meminta agar hujan dipindahkan dari lokasi A ke lokasi B, dengan catatan B memang tidak akan turun hujan. Jika lokasi di dekat A tengah juga mendapat guyuran hujan, maka pawang hujan tidak bisa memakai opsi ini. Namun, pawang yang sudah hebat biasanya dapat menggeser hujan tersebut ke laut.

Jika memindahkan atau menggeser tidak memungkinkan, pilihan lainnya adalah dengan menahan hujan selama mungkin. Sebelum acara inti dimulai, pawang biasanya akan menurunkan hujan terlebih dahulu agar beban mereka lebih ringan. Risikonya, cara ini mengakibatkan hujan singkat namun ekstrem yang disertai angin dan petir.

Sementara itu, cara ketiga atau membagi sedikit mirip dengan cara pertama. Pawang akan membagi hujan dengan lokasi sekitar. Dengan begitu, hujan yang turun di lokasi acara tidak terlalu banyak. Namun, hal ini bisa dilakukan jika lokasi sekitar tidak sedang hujan.

Dengan kata lain, tugas pawang hujan bukanlah menghentikan hujan. Mereka bekerja untuk menahan, memindahkan atau menggeser, atau membagi hujan yang turun di lokasi acara ke lokasi lain.

Melakukan Survei

Melansir Liputan6, seorang pawang bernama Mbah Bejo mengungkapkan pawang hujan kerap melakukan survei untuk memastikan apakah di lokasi sedang musim hujan atau tidak. Survei ini bukanlah hal wajib, namun cukup berguna. Mendatangi lokasi memungkinkan pawang untuk membaca arah angin sehingga ia tidak perlu mengeluarkan energi terlalu besar.

Selain membaca arah angin, survei juga membantu pawang berkenalan dengan penguasa gaib di tempat berlangsungnya acara. Menurut Mbah Bejo, layaknya Avatar yang mampu mengendalikan unsur air, api, tanah dan angin, unsur-unsur itu juga memiliki penguasanya tersendiri di tempat tersebut.

Seorang pawang mumpuni biasanya bekerja sama dengan penguasa air dan angin. Tak hanya itu, keberadaan pawang di lokasi acara juga sangat berpengaruh dalam keseluruhan proses.

Meski begitu, seorang pawang sebenarnya bisa bekerja dari jarak jauh. Ia bisa mengendalikan cuaca untuk acara di suatu kota, meski dirinya berada di kota lain. Namun, cara kerja pawang hujan ini kurang efisien sebab memakan banyak tenaga, upaya dan biaya. Hal tersebut juga biasanya berlaku bagi pawang dengan energi dalam yang kuat.

Melibatkan Ritual hingga Makhluk Gaib

via merdeka.com

Cara kerja pawang hujan hingga bisa memanipulasi cuaca melibatkan perlakuan dan ritual tertentu. Pawang hujan diyakini memiliki tenaga dalam yang cukup besar untuk memengaruhi awan.

Selain tenaga dalam, cara kerja pawang hujan lainnya melibatkan tenaga batin. Hal ini mereka dapatkan melalui rapalan doa atau mantra dan diperkuat dengan berbagai ritual dan lelaku prihatin. Di antaranya adalah puasa, mutih, ngebleng, patigeni, dan masih banyak lagi. Pawang hujan juga diyakini meminta bantuan atau bekerja sama dengan ‘khodam’, yakni makhluk gaib yang mendiami benda pusaka.


Baca Juga: Tidak Hanya Indah, Ini Dia Tarian-Tarian Tradisional Yang Sarat Akan Unsur Mistis


Setiap pawang hujan juga akan menjalani ritual yang berbeda-beda untuk menyukseskan acara. Selain yang Bob sebut di atas, pawang hujan juga mungkin melakukan ritual berikut ini:

  • Meletakkan sesajen
  • Membakar kemenyan atau dupa
  • Menggunakan minuman tertentu untuk persembahan pada makhluk halus
  • Memakai media seberti mangkuk, rantang hingga payung hitam
  • Mebalikkan lidi dan menancapkan cabai dan bawang merah pada lidi itu
  • Menggunakan persembahan linting rokok dari daun nipah
  • Mencancapkan keris di tanah
  • Tidak mandi sepanjang hari (bagi pawang dan pengguna jasa)
  • Berziarah ke makam orang yang dianggap memiliki kelebihan

Tradisi Pawang Hujan di Berbagai Daerah

Meski mendadak menjadi sorotan, istilah pawang hujan bukanlah hal baru di Indonesia. Hal ini bahkan sudah ada sejak lama dan bisa kamu jumpai di berbagai daerah di Indonesia. Saking lamanya, sejarah awal tradisi ini tidak diketahui hingga terus berakar sampai sekarang.

Nama di tiap daerah pun cukup beragam untuk tradisi satu ini, seperti:

  • Nyarang hujan di Banten
  • Dukun pangkeng di Betawi
  • Nerang  hujan di Bali
  • Bomoh di Riau
  • Pangngissengang di Bugis, Sulawesi Selatan

Baca Juga: Selamat Hari Raya Nyepi! Pelajari Makna, Budaya Dan Tradisi Perayaan Nyepi Berikut Ini!


Ritual di Banten, Betawi dan Jawa

Melansir detikedu, hasil riset UIN Sultan Maulana Hasanudin menunjukkan adanya perbedaan ritual sebelum bertugas meski pawang hujan berasal dari kawasan yang sama. Pawang hujan di Cimanuk, Pandeglang, Banten contohnya. Dia akan memulai tugas dengan berziarah terlebih dulu ke makam leluhur yang memiliki kemuliaan.

Sementara itu, pawang lainnya dari Bunut Gunung Putri, Banjar, Pandeglang, mengawali kegiatan dengan tawassul ke hadirat Nabi SAW, Khulada Ar Rasyidin, nabi-nabi terdahulu, serta para aulia dan leluhur. Hal ini kemudian berlanjut dengan bacaan surat pendek.

Tak jauh dari Banten, pawang hujan juga cukup melekat dalam budaya Betawi. Mereka menamai pawang hujan dengan sebutan dukun pangkeng.

Melansir Kompas, proses pemindahan awan dalam budaya ini melibatkan sesajen serta doa-doa Islami. Sesajen tersebut biasanya berisi nasi kuning, bekakak ayam, bisong, telur bebek, ayam, kopi pahit, pisang raja, kue apem dan kembang tujuh rupa. Sang dukun akan menjalan ritual sambil duduk di atas gerabah dalam ruangan khusus. Ia tidak akan keluar sebelum acara selesai.

Beralih ke Jawa, tradisi pawang hujan di daerah ini biasanya melibatkan primbon. Berdasarkan primbon, seseorang hanya perlu melemparkan celana dalam perempuan ke atas genteng untuk menghentikan hujan.

Tak hanya itu, Jawa juga memiliki praktik menusuk cabai dan bawang merah dengan lidi lalu dilemparkan ke atas. Meski sederhana, tidak semua orang bisa melakukannya. Dia harus terlebih dulu memenuhi persyaratan seperti membersihkan jiwa, puasa, tirakat, hingga melengkap sesajen.

Menyatu dengan Alam Bersama Bobocabin

Mau liburan ke tempat yang seger-seger? Mampir ke Bobocabin, yuk! Masih bagian dari Bobobox, Bobocabin siap menemani kamu merasakan tenangnya alam berbalut teknologi canggih.

Dengan teknologi Internet of Things, kamu bisa mengatur penggunaan lampu, pintu, jendela dan Bluetooth speaker. Tempat tidurnya juga nyaman dengan jendela besar yang memudahkan kamu untuk benar-benar bisa meresapi keindahan alam di depan mata.

Meski berada di tengah alam, jangan khawatir soal masalah internet. Fasilitas Wi-Fi akan setia menemani ketenangan kamu di tengah sejuknya alam. Untuk informasi lebih lanjut, yuk unduh dulu aplikasi Bobobox!

You might also like