Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Deretan Rekomendasi Band Indie Lokal Untuk Playlist Jalan-Jalan Kamu!

Jalan-jalan terasa hampa tanpa musik baru di playlist kamu

Musik indie atau independent di ranah industri musik Indonesia kian berjaya. Berbagai musisi di penjuru Indonesia mulai menunjukkan taringnya untuk menyebarkan suara uniknya masing-masing. Tidak jarang pula band indie di Indonesia malah berkibar bebas di luar negeri. Indie atau Independent adalah istilah para musisi menggarap seluruh aspek musik mereka sendiri. Mulai dari proses pengerjaan lagu hingga pemasaran.

Berjayanya band indie saat ini bisa jadi referensi baru untuk playlist kamu yang itu-itu aja. Bob bakal kasih nih, referensi lagu-lagu indie lokal ini. Bisa jadi band-band ini belum ada di playlist jalan-jalan kamu.

.feast

instagram.com/ffeastt

Grup musik asal Jakarta ini beranggotakan Baskara Putra sebagai vokalis, Adnan S.P. dan Dicky Renanda pada gitar, F. Fikriawan pada bass, dan Adrianus Aristo Haryo pada drum. Terbentuk pada tahun 2014, feast merilis debut bertajuk “Camkan”. Pada September 2017, .feast merilis concept album berjudul Multiverses yang berkolaborasi dengan berbagai musisi. Lalu pada pasca bom Surabaya, .feast meresponnya dengan merilis EP bertajuk B.O.M (Beberapa Orang Memaafkan) dengan single utama bertajuk “Peradaban” dan “Berita Kehilangan”.Tak lepas dari situ saja, di akhir 2018, sang vokalis Baskara Putra pun memiliki projek solo dengan nama panggung Hindia.

Coldiac

instagram.com/coldiac

Beranjak dari gaya rock .feast, belum lengkap rasanya jika belum menyentuh indie-pop ala Coldiac. Band indie asal Malang ini mengusung nuansa synth pop dan sophisti-pop revival yang sebelumnya melekat dengan The 1975 dan Ice Choir. Sebelumnya Coldiac merilis single dan MV berjudul “Wreck this Journal” pada 30 Juni 2017. Setelah melejitnya single tersebut, Coldiac pun merilis single bertajuk “Spend the Night”. Walaupun sebenarnya single ini merupakan materi lama mereka, namun pada akhirnya Coldiac merilisnya untuk masuk layanan streaming dengan hasil yang lebih ‘hidup’ dengan adanya penambahan ambience string, synthesizer, dan solo gitar.

Grrrl Gang

instagram.com/grrrlgang

“Band kuliah ujung-ujungnya bakal misah juga”. Oh, tentu tidak untuk band satu ini. Grrrl Gang, salah satu band kuliah yang tidak di stereotype satu ini. Band yang beranggotakan tiga orang dan satu frontwoman yakni Angeeta Sentana dan Edo Alventa pada vokal dan gitar, serta Akbar Rumandung pada Bass bersatu karena ruang lingkup pertemanan kuliah di Yogyakarta.

Single yang bisa kamu nikmati di awal perkenalan Grrrl Gang, kamu bisa simak kemasan musik pop yang cheerPop Princess” dan “Thrills” sebagai pembuka sebelum kamu menikmati musik mereka yang lainnya. Grrrl Gang punya EP “Not Sad, Not Fullfilled” (2018), dan EP “Stop This Madness” (2017) yang dirilis fisik terbatas. Dalam waktu dekat, mereka bakal main di acara SXSW 2020.

NonaRia

instagram.com/nonariamusic

Cinta musik swing jazz dengan kemasan pin-up khas 40-50an yang cantik? NonaRia bisa menyuguhkan seluruhnya dalam satu kemasan. Pasalnya, NonaRia yang berarti ‘Nona-Nona Ceria’ ini memang memiliki konsep unik dari band Jazz lainnya, yaitu menaikkan kembali musik Indonesia era 40-50an.

Band yang dulu digawangi 3 personel yakni Nesia Ardi, Nanin Wardhani dan Rieke Astari ini awalnya membangun NonaRia dengan konsep retro. Hingga pasca Rieke Astari hengkang dan posisinya diisi oleh Yasintha Pattiasina. NonaRia kembali dengan konsep Jazz namun tetap mempertahankan gaya tempo dulu. Pengaruh musik NonaRia pun tak lepas dari musisi-musisi seperti Ella Fitzgerald, Duke Ellington, Bubi Chen, Ismail Marzuki, The Chordettes, The Andrews Sisters dan Dara Puspita.

Penasaran dengan band trio satu ini? Kamu bisa mendengar beberapa cover song mereka, atau sebagai pembuka jalan menuju musik hangat dan jenaka khas NonaRia, kamu bisa mendengar “Antri Yuk” dan “Santai”.

Reality Club

instagram.com/realityclub

Bagi yang menonton channel youtube Fathia Izzati, mungkin seharusnya sudah tahu band satu ini. Reality Club, yang dibentuk pada tahun 2016 awalnya berformasi tiga orang, Fathia Izzati (vokal), Era Patigo (drum) dan Mayo (bas). Kemudian pada akhirnya Faiz Novascotia Saripudin (gitar/vokal), Iqbal Anggakusumah (gitar), dan Nugi Wicaksono – yang tergabung untuk menggantikan Mayo, setelah enam bulan terbentuk.

Reality Club sendiri di awal terbentuknya sudah mengeluarkan 5 single, di antaranya The Things I Don’t Know, Fatal Attraction, Is It the Answer?, Okay dan Elastic Heart. Dan pada tahun 2017, mereka pun merilis album pertamanya bertajuk Never Get Better. Bagi yang menyukai band seperti The Strokes, Last Dinosaurs dan Arctic Monkey seharusnya bakal suka dengan band satu ini. Pasalnya, tiga band tersebut merupakan influence dari Reality Club. Sebelum pada akhirnya mengalir ke jalur indie-pop. Tahun 2019, Reality Club baru rilis album terbarunya, “What Do You Really Know?” dengan vibe yang lebih gelap, jauh jika dibandingkan album pertamanya yang terdengar lebih manis.

The Panturas

instagram.com/thepanturas

Jika mendengar kata Surf-Rock, mungkin selintas akan terdengar riff gitar yang ada pada soundtrack film 90an Pulp Fiction karya Quentin Tarantino. Misirlou dari Dick Dale mungkin satu dari banyaknya surf-rock di barat. Yang lebih familiar lagi selain Dick Dale pun beragam, mulai dari The Beach Boys The Ventures, hingga The Tornadoes pun hidup dari surf-rock. Namun siapa sangka jika Indonesia pun punya band indie surf-rock? The Panturas adalah penerus dari kemunculan surf-rock yang sebelumnya Berjaya di tahun 60an oleh Eka Sapta.

Terbentuk di tahun 2010, band asal Jatinangor – yang beranggotakan 4 personel yaitu Abyan (vokal/gitar), Rizal (gitar), Bagus Patria (bass) dan Surya (drum) – telah mengeluarkan album bertajuk Mabuk Laut. Dari album tersebut, The Panturas mengeluarkan 3 single berjudul  Fisherman’s Slut, Gurita Kota dan Sunshine. Ketiga single ini bisa menjadi perkenalan awal kamu untuk menelusuri lebih jauh The Panturas. Sunshine sudah menjadi semacam anthem sobat indie masa kini, dari anak SMA-kuliah, dan masyarakat indie pada umumnya tentu tahu lagu ini.

Hulica

dokumentasi hulica

Siapa bilang di Indonesia tidak ada yang mengusung indie math-rock? Band indie trio asal Bandung ini berinovasi menggabungkan math-rock asal Jepang dengan genre emotive yang sering dikumandangkan di Amerika Serikat sana. Ciri khas yang benar-benar dimunculkan pada musik jenis ini pun tidak tanggung-tanggung, rhytm drum dan bass yang ganjil, riff gitar cenderung twinkly, gaya vokal beragam menjadikan konsep yang diusung hulica begitu unik dan segar.

Jika kamu penasaran bagaimana musik yang disuguhkan oleh Djodi Fauzan Rachman (vokal/bass), Yana Setya Nugraha (gitar/vokal), Dimaz Ramadhan Putra (drum). Kamu bisa dengarkan Pokemon Hype Club, Hokaido’s Electone Girl, dan single teranyar mereka bertajuk the soldiers that generate farewell.

Sebenarnya masih banyak lagi musik-musik indie lokal yang sayang kalau sampai kamu lewatkan. Terlebih, musik indie lokal kini kian beragam dan inovatif gayanya. Bahkan, tak jarang hasil eksperimental mereka menjadi gaya musik yang segar untuk pendengar musik di Indonesia.

bobobox hotel kapsul indonesia

Bob, sudah kasih referensi musik oke nih. Jadi, mana nih band sudah kamu dengar dan nongkrong di playlist perjalanan kamu? Setelah atur playlist jalan-jalan, jangan sampai kamu lupa tidak atur akomodasi perjalanan kamu juga ya! Pastikan kamu sudah booking pods di Bobobox dan kamu pun bisa nikmatin playlist indies kamu di dalam pod, lho! Seru kan? Kamu bisa booking pod lewat bobobox.co.id atau unduh aplikasi Bobobox dari Apple Store atau Playstore.

You might also like
Comments
Loading...