Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Mengenal Hypersomnia: Gejala, Penyebab, dan Cara Menanganinya

Banyak tidur tapi tetap lelah

Saat mendengar kata somnia, kamu mungkin akan langsung teringat dengan gangguan tidur insomnia. Insomnia sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak gangguan tidur yang ada di dunia ini. Bersama dengan sleep apnea, narkolepsi dan sindrom kaki gelisah, insomnia termasuk gangguan tidur yang paling umum diketahui banyak orang.

Namun, tahukah kamu selain keempat gangguan tidur itu, ada juga gangguan tidur yang disebut dengan istilah hypersomnia. Apa itu hypersomnia? Simak lebih lanjut yuk di bawah ini!

Apa Itu Hypersomnia?

Stacey Gabrielle Koenitz Rozells via Unsplash

Untuk menjawab pertanyaan apa itu hypersomnia, kamu bisa membandingkannya dengan gangguan tidur yang umum dialami dan dikenal banyak orang yaitu insomnia. Hypersomnia dan insomnia ini bisa disebut sebagai gangguan pada pola tidur normal.

Keduanya dapat mengakibatkan rasa lelah, depresi, dan berkurangnya produktivitas serta kualitas hidup. Keduanya juga dapat meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif serta kecelakaan dan stres biasanya dapat  memperparah gangguan tersebut.

Lalu, apa perbedaan keduanya? Jika saat insomnia kamu akan mengalami kesulitan untuk tidur, hypersomnia justru sebaliknya. Secara kasar, insomnia berarti tidak tidur sementara hypersomnia justru terlalu banyak tidur.

Hypersomnia sendiri mengacu pada rasa kantuk berlebih yang terjadi di siang hari tanpa ada kaitan dengan tidur malam. Selain itu, hypersomnia juga bisa berupa jam tidur malam yang lebih lama. Dengan kata lain, rasa kantuk pada penderita hypersomnia akan tetap datang meski di malam hari sudah cukup tidur. Mereka seolah merasa kurang tidur meski dengan jam tidur lebih banyak sekalipun.

Kondisi ini biasanya terjadi berulang-ulang dan menimbulkan keinginan yang kuat untuk tertidur meski kamu tengah beraktivitas seperti bekerja, makan, berbicara dan bahkan mengemudi. Perlu diingat, hypersomnia ini berbeda dengan rasa lelah berlebih dan juga narkolepsi.

Narkolepsi sendiri sama-sama melibatkan tidur berlebih. Hanya saja, kebutuhan untuk tidur di siang hari biasanya datang secara tiba-tiba dan tanpa peringatan. Sementara itu, penderita hyprsomnia tidak menunjukkan gejala serangan tidur mendadak seperti narkolepsi. Mereka masih bisa menahan rasa kantu dan tetap terjaga namun biasanya akan merasa lelah.

Orang-orang dengan hypersomnia biasanya tidur lebih dari 11 jam sehari dan hal itu membuatnya kesulitan untuk bangun. Kondisi ini tentu akan berpengaruh pada kehidupan sosial, keluarga serta pekerjaan. Bergantung pada jenisnya, hypersomnia bisa terjadi di masa remaja dan awal dewasa.

BACA JUGA: Simak 7 Tips Tidur Siang Agar Kamu Bisa Dapatkan Manfaat Optimalnya

Gejala Hypersomnia

Houcine Ncib via Unsplash

Setelah mengenal apa itu hypersomnia, yuk ketahui juga seperti apa gejalanya. Jika kamu mengalami hypersomnia, gejala umum yang akan kamu rasakan adalah:

  • Sering tidur siang namun tidak merasa segar setelahnya
  • Jam tidur yang lebih panjang
  • Merasa lelah dan lesu meski cukup tidur

Akibatnya, penderita hypersomnia pun tidak jarang mengalami:

  • Kesulitan untuk bangun
  • Rasa bingung
  • Gangguan kecemasan
  • Kesal dan gelisah
  • Berkurangnya energi
  • Hilangnya nafsu makan
  • Proses berpikir dan bicara yang lambat
  • Pikiran berkabut
  • Halusinasi
  • Kesulitan mengingat

Jika dibiarkan, penderta hypesomnia bisa saja mengalami kesulitan untuk mempertahankan pekerjaan serta kehidupan sosialnya.

Penyebab Hypersomnia

Isabella and Zsa Fischervia Unsplash

Selain memahami apa itu hypersomnia, yuk ketahui juga apa yang mungkin menjadi penyebab gangguan tidur satu ini. Hypersomnia bisa dikategorikan ke dalam dua gangguan yakni hypersomnia primer dan sekunder.

Penyebab hypersomnia primer biasanya tidak diketahui namun diperkirakan berkaitan dengan masalah pada fungsi sistem saraf pusat yang mengatur waktu untuk tidur dan terjaga. Gejala utamanya adalah rasa lelah berlebih di siang hari meskipun tidur malam sudah cukup.

Jika dibandingkan, hypersomnia primer cenderung lebih langka. Rasa kantuk berlebih itu datang tanpa sebab namun diperkirakan terjadi akibat faktor lingkungan atau keturunan dan penyakit genetik langka seperti distrofi miotonik, sindrom Prader-Willi dan penyakit Norrie.

Sementara itu, hypersomnia sekunder umumnya diakibatkan oleh kondisi lain yang menyebabkan kamu selalu merasa lelah. Dengan kata lain, hypersomnia ini bisa menjadi gejala dari masalah yang kamu alami. Penyebabnya bisa karena:

  • Gangguan tidur lain seperti sleep apnea dan sindrom kaki gelisah
  • Konsumsi atau penghentian obat-obatan tertentu seperti narkotika, obat penenang dan antihistamin
  • Merokok dan alkohol
  • Masalah kesehatan (seperti sklerosis, depresi, epilepsi, ensefalitis, obesitas, gagal ginjal, hipotiroid, dan riwayat cedera kepala)
  • Kurang tidur

BACA JUGA: Kamu Mudah Merasa Lelah? Mungkin Ini Penyebabnya!

Cara Menangani

@betoframe via Unsplash

Setelah memiliki gambaran umum tentang apa itu hypersomnia, kamu tentu bisa menyimpulkan bahwa gangguan ini tidak bisa dianggap sepele. Karena itu, jika kamu sering tertidur di siang hari dan rasa kantuk tersebut memengaruhi kehidupan kamu, sudah saatnya kamu memberanikan diri untuk berkonsultasi dengan dokter.

Kamu bisa mengunjungi dokter umum dan mereka biasanya akan bertanya tentang kebiasaan tidur seperti seberapa lama kamu tidur, apakah kamu sering terbangun di malam hari, dan apakah kamu tidur di siang hari. Dokter juga akan bertanya tentang kemungkinan penyebab kamu mengalami hypersomnia seperti obat-obatan yang kamu konsumsi atau masalah kesehatan fisik atau mental.

Dokter juga bisa saja menyarankan untuk menulis di dalam buku harian dan mencatatkan kapan saja kamu tertidur. Selanjutnya, mereka akan memberikan rujukan pada dokter yang memang khusus menangani gangguan tidur. Sejumlah tes mungkin harus kamu jalani untuk memastikan kondisi kamu seperti tes darah, CT scan dan polysomnograhy. Jika kamu didiagnosa mengalami hypersomnia, dokter mungkin akan menyarankan terapi (behavioral therapy), obat, atau keduanya. Obat-obatan yang umum diresepkan termasuk stimulan, antidepresan, serta obat-obat seperti Provigil, Xyrem dan Xywav.

Selain berkonsultasi dengan dokter, kamu juga bisa mulai dengan mengubah kebiasaan tidur kamu. Hal ini mungkin tidak bisa menyembuhkan gangguan tersebut, namun bisa saja membuat kamu merasa lebih baik. Langkah yang bisa kamu ambil di antaranya adalah:

  • Tidur malam di jam yang sama
  • Menghindari alkohol dan kafein
  • Menciptakan lingkungan tidur yang menenangkan
  • Menghindari obat yang menyebabkan kantuk (kamu bisa meminta saran untuk mengganti obat tersebut dengan obat yang tidak terlalu membuat kamu mengantuk)
  • Menghindari kerja atau aktivitas hingga malam hari

Bosan di Rumah? Ke Bobobox Saja!

Bosan dengan suasana rumah tapi tidak punya banyak waktu untuk berlibur? Cobain staycation di Bobobox yuk! Hotel kapsul yang satu ini dirancang agar memberikan kenyamanan bagi pelanggan dengan desain minimalis dan futuristik.

Banyak fitur menarik yang dijamin semakin menambah rasa nyaman saat kamu menginap. Sebut saja Wi-Fi yang kencang, keyless access, Bluetooth speaker, hingga moodlamp. Fitur moodlamp ini memungkinkan kamu untuk mengubah warna cahaya LED di dalam pod. Mulai dari terang hingga temaram, putih hingga ungu, bisa kamu coba dan sesuaikan dengan kebutuhan dan suasana hati kamu. Tidur pun aman dan nyaman tanpa gangguan. Tertarik mencoba? Yuk unduh aplikasi Bobobox untuk informasi lebih lanjut!

You might also like