Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Apa Itu Cancel Culture dan Dampaknya Dalam Kehidupan di Dunia Nyata

Menuntut keadilan atau sarana menghujat?

Media sosial kini bisa digunakan oleh siapa saja dari berbagai kalangan dan usia sehingga penggunaannya pun terbilang masif. Postingan berbau penampilan, kesedihan, kemarahan, perjuangan, kontroversi hingga kesalahan pun bisa dengan mudah menyebar atau viral dan mengundang berbagai reaksi dari banyak orang.

Tak jarang, saat seseorang melakukan kesalahan yang dianggap cukup fatal, para pengguna media sosial berbondong-bondong menyerang akun pribadi orang tersebut dengan tujuan menghancurkan citra atau menghentikan pergerakannya. Aksi ini sendiri bisa dikaitkan dengan fenomena cancel culture yang cukup identik dengan para public figure. Apa itu cancel culture? Apa kamu familiar atau justru pernah terlibat dengan aksi tersebut? Simak lebih lanjut yuk tentang apa itu cancel culture dan dampak dari praktik tersebut di bawah ini!

Apa itu Cancel Culture?

@pikisuperstar via Freepik

Selain menjadi media untuk menyebarkan informasi dan inspirasi, media sosial juga terkenal dengan pergerakannya yang cukup masif. Salah satunya adalah yang disebut dengan praktik cancel culture. Apa itu cancel culture?

Sesuai dengan namanya, cancel culture ini dapat diartikan sebagai praktik atau tindakan ‘membatalkan’ seseorang atau suatu hal. Dengan kata lain, cancel culture ini melibatkan tindakan memboikot, menghilangkan pengaruh serta menarik dukungan terhadap seseorang atau sesuatu. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja, namun umumnya ditujukan pada public figure, perusahaan atau brand ternama, hingga acara-acara TV, film dan bahkan buku.

Cancel culture tersebut biasanya terjadi jika orang atau lembaga tersebut telah melakukan atau mengatakan sesuatu yang dianggap menghina atau kurang menyenangkan. Hal kurang menyenangkan ini bisa berupa apa saja seperti hal berbau pelecehan seksual, rasis, seksis, homofobik, transfobik, xenofobik dan masih banyak lagi. Kesalahan yang dilakukan juga tidak melulu baru. Hal terebut bisa saja berupa video, foto, atau komentar lama yang kembali mencuat atau tanpa sengaja ditemukan oleh orang lain dan menimbulkan kegaduhan.

Lebih lanjut, tindakan mencancel ini umum dilakukan melalui media sosial dalam bentuk pergerakan secara masal. Setelah seseorang ketahuan melakukan sesuatu yang dianggap buruk oleh kebanyakan orang, orang-orang akan memulai aksi mereka dengan mengkritisi kesalahan yang kemudian mengarah ke pemboikotan.

Contohnya, jika yang dicancel adalah seorang artis, maka orang-orang akan berhenti menonton film atau mendengarkan musik artis tersebut. Akibatnya, sang artis pun akan kehilangan panggung, kekuasaan, hingga karirnya pun hancur.

Dampak Cancel Culture

Kristina Triplovic via Unsplash

Setelah mengenal secara garis besar apa itu cancel culture, ketahui pula dampak dari praktik tersebut. Seperti yang Bob sebutkan sebelumnya, cancel culture ini bisa memberikan dampak yang cukup signifikan bagi orang yang menjadi target.

Dampak yang ditimbulkan oleh cancel culture ini pun menuai berbagai reaksi tentang apa tujuan dari tindakan ini. Apakah hal tersebut dilakukan untuk meminta  pertanggungjawaban, sebagai taktik untuk menghukum seseorang dengan tidak adil, ajang menghina masal secara daring, atau justru bentuk pengekangan terhadap kebebasan dalam berpendapat.

Karena itu, cancel culture ini seolah-olah seperti sebuah pedang bermata dua. Di satu sisi, hal ini bisa dijadikan alat untuk menuntut keadilan. Di sisi lain, tindakan mencancel justru menjadi ajang untuk mengintimidasi seseorang secara massal dan justru terkesan toxic terutama karena melibatkan ancaman berbau kriminal dan kebencia, serangan terhadap privasi seseorang hingga dapat mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri.

Bullying

Melansir Verywellmind, cancel culture kerap kali berujung perundungan atau bullying bagi target yang dicancel. Dalam kasus cancel culture, orang-orang biasanya tidak memberikan kesempatan pada target untuk meminta maaf dan memperbaiki diri. Orang-orang tersebut seolah menutup segala akses untuk berkomunikasi dua arah sehingga target yang dicancel tidak memiliki kesempatan untuk menyadari, memahami serta mempelajari kesalahan atau ketidakpekaannya untuk dapat menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.

Saat mengutarakan rasa bersalah dan permintaan maaf, kebanyakan orang bisa saja tida memercayainya. Karena itu, mereka mungkin akan merasa terasingkan, sendiri dan terisolasi sebagaimana yang terjadi pada banyak korban perundungan. Hal tersebut kemudian membawanya pada tingkat kecemasan yang tinggi, depresi hingga keinginan untuk bunuh diri.

Dalam hal ini, tentu kamu harus bijak saat hendak sehingga cancel culture tidak dipraktikkan pada orang yang salah. Seperti yang Bob sebutkan sebelumnya, cancel culture ini seperti memiliki dua sisi, yakni positif dan negatif. Di satu sisi, cancel culture dapat digunakan untuk mempertaggungjawabkan kesalahan.

Ambil saja contoh kasus Harvey Weinstein yang selama lebih dari 25 tahun berhasil lolos dari tuduhan kekerasan seksual. Namun, dengan adanya gerakan cancel culture, keadilan pun didapat dan Harvey pada akhirnya didakwa atas kasus pemerkosaan serta beberapa kasus pelecehan seksual lainnya.

Namun, di sisi lain, hal ini dijadikan sebagai pembenaran untuk menghujat tanpa alasan. Bisa saja orang yang dicancel merupakan korban salah tuduh. Karena itu, penting banget untuk melakukan research terlebih dahulu agar tidak berakibat buruk.

@enioku via Unsplash

Kehilangan Pekerjaan

Tindakan cancel culture dapat mengubah hidup seseorang secara drastis dalam sekejap saja. Salah satunya adalah dalam hal karir atau pekerjaan. Saat seseorang menjadi target cancel, perusahaan yang menaungi mereka atau brand-brand yang mereka promosikan akan memutus kontrak kerja karena termakan opini publik atau tidak luput dari serangan ancaman boikot massal.

Hal seperti ini pun sudah banyak terjadi pada sejumlah public figure. Salah satunya adalah kasus Kevin Spacey yang diberhentikan dari serial “House of Card” karena kasus pelecehan seksualnya. Kamu juga bisa mengambil contoh beberapa aktor serta idol Korea yang belakangan terlibat kasus bullying di masa lalu. Mereka harus mundur dari drama yang tengah atau akan dibintangi, rela pensiun dini, serta diputus kontrak oleh agensi atau pun berbagai brand yang sebelumnya menggunakan jasa mereka.

Saat seseorang berisiko kehilangan pekerjaan akibat cancel culture, kamu juga perlu mengingat bahwa setiap orang berhak bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kamu mungkin tidak tahu jika sebenarnya orang tersebut merupakan tulang punggung keluarga atau dia hanya memiliki pekerjaan tersebut untuk menggantungkan hidupnya.

Dampak pada Bystander

Selain dapat menghancurkan kehidupan orang lain, cancel culture ini juga secara tidak langsung memiliki dampak pada para bystander. Maraknya kasus orang-orang yang dicancel karena berbagai macam kasus serta mencuatnya masa lalu yang dianggap tidak baik bisa saja memengaruhi kesehatan mental para bystander tersebut. Mereka mungkin mengalami ketakutan dan kecemasan berlebih bahwa giliran mereka bisa terjadi kapan saja. Mereka khawatir bahwa orang-orang akan menemukan sesuatu di masa lalu yang akan digunakan untuk menyerangnya.

Karena itu, para bystander cenderung bersikap diam saat orang lain mengamali cancel culture agar tidak menarik perhatian khalayak umum. Namun, setelah perisitiwa tersebut lama berlalu, mereka mungkin akan terbebani oleh rasa bersalah karena tidak memiliki keberanian untuk berbicara atau membela saat masih ada kesempatan.

Budaya Tanpa Pertimbangan

Maraknya gerakan mengcancel membuat masyarakat menerima keburukan orang tanpa adanya pertimbangan dari berbagai sudut pandang. Karenanya, tidak jarang kasus cancel culture ini cenderung berat sebelah karena orang-orang terlebih dulu menghujat tanpa mencari tahu terlebih dulu kebenaran atau sudut pandang masalah dari sisi lainnya. Selain itu, orang-orang pun jadi terbiasa mempermalukan orang lain tanpa memikirkan bagaimana perasaan target cancel.

Kebebasan Berpendapat

Setelah mengetahui apa itu cancel culture, kamu mungkin bisa menyimpulkan bahwa tindakan satu ini juga berpengaruh pada kebebasan orang untuk berpendapat. Dalam hal ini, orang-orang akan selalu merasa khawatir jika apa yang mereka ucapkan akan salah di mata orang lain.

Pasalnya, sudah banyak kasus orang dicancel karena mengutarakan pendapat yang dirasa kurang menyenangkan atau tidak sejalan dengan kelompok tertentu meskipun sebenarnya pendapat tersebut tidak merugikan. Akibatnya, kebebasan untuk mengutarakan pendapat pun menjadi terbatas dan mungkin saja akan hilang dengan dalih bermain aman atau menghindari konflik.

Salah satu yang cukup menyita perhatian sehingga menimbulkan anggapan bahwa cancel culture ini mengekang kebebasan berpendapat adalah kasus J.K. Rowling akibat komentarnya tentang komunitas transgender. Dalam kasus ini, cancel culture dianggap tidak memiliki toleransi terhadap sudut pandang yang berbeda. Kebebasan berpendapat pun seolah hilang karena pendapat yang berbeda dengan mayoritas dipaksa untuk bungkam.

Butuh me time untuk menetralisir dan menjauhkan diri dari pengaruh para toxic people di media sosial? Staycation saja di Bobobox. Bobobox ini memang dirancang sedemikian rupa untuk membuat pengunjung nyaman dan betah berlama-lama.

Salah satu fitur yang berperan dalam kenyamanan pengunjung adalah moodlamp, yakni fitur lampu yang bisa kamu ganti warna cahayanya sesuai dengan mood kamu. Ada sekitar 15 warna yang bisa kamu pilih seperti putih, kuning, pink, hijau, biru, hingga ungu. Selain memberikan tampilan Instagrammable saat berfoto, fitur moodlamp ini juga dimaksudkan untuk memberi kenyamanan terutama saat tidur. Lampu ini memang diatur agar pengunjung memperoleh quality sleep saat menginap di Bobobox.

Tertarik mencoba? Unduh dulu yuk aplikasi Bobobox untuk booking dan informasi serta promo terbaru dari Bobobox!

You might also like