Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

5 Fakta Menarik tentang Budaya Jepang

Ternyata, budaya Jepang tidak seperti yang sudah kamu ketahui lho!

Budaya Jepang adalah salah satu budaya yang paling digemari di dunia. Bahasanya saja menduduki pernigkat ke sembilan paling banyak digunakan di dunia.

Di Indonesia sendiri budaya Jepang cukup populer. Lihat saja tayangan televisi. Kalau kamu lahir di tahun 90-an kamu pasti tidak asing dengan kartun Minggu pagi seperti Doraemon, Chibi Maruko Chan, Let’s and Go, Dragon Ball, dan masih banyak lagi.

Selain itu, makanan Jepang juga bertaburan di berbagai daerah di Indonesia. Kira-kira apa lagi ya budaya Jepang yang menarik untuk dicermati? Nah, berikut adalah 5 fakta menarik budaya Jepang yang perlu kamu ketahui.

Beda musim, beda makanan

budaya jepang
Photo by AJ on Unsplash

Jepang memiliki empat musim berbeda yang cukup signifikan. Ada musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Seiring dengan perubahan musim, budaya Jepang pun ikut mengalami perubahan. Makanan termasuk salah satunya.

Karena jenis makanan yang bisa diperoleh setiap musimnya berbeda, orang Jepang harus terbiasa untuk menyesuaikan makanan mereka dengan bahan yang tersedia. Hal ini bisa terlihat tak hanya di rumah saja. Pasar swalayan, hotel, serta restoran pun mengubah menu makanan mereka sesuai dengan musimnya.

Musim semi

Saat musim semi, cuaca menjadi hangat setelah musim dingin berlalu. Bunga-bunga pun bermekaran. Oleh karena itu, salah satu budaya Jepang yang sering dilakukan di musim semi adalah hanami atau melihat bunga sakura.

Nah, saat melihat bunga sakura, orang Jepang biasanya membawa bento yang berisi bahan makanan khas musim semi seperti fuki, rebung, biji bunga matahari, fatsia, kol, bawang bombay, nasi kerang, dan stroberi.

Musim panas

Musim panas di Jepang terkenal sangat panas. Oleh karena itu tak heran bahwa makanan yang paling banyak diminati adalah makanan yang menyegarkan. Menariknya, makanan ini bukanlah makanan manis.

Somen dingin adalah salah satunya. Mi tipis tersebut disajkan dengan kuah kecap asin yang dicampur dengan jahe. Selain itu, ada juga ramen dingin yang disajikan dengan berbagai sayuran.

Musim gugur

Musim gugur adalah musim paling nyaman di Jepang. Makanan musiman yang ada saat musim gugur adalah buah kastanye, ikan sanma (sauri pasifik), jamur matsutake, dan kue beras. Sama seperti musim semi, budaya Jepang yang sering terlihat adalah orang keluar untuk piknik membawa bento.

Musim dingin

Saat musim dingin budaya Jepang yang umum dilakukan adalah keluarga berkumpul di kotatsu (meja pendek dengan pemanas). Nah, saat momen berkumpul tersebut biasanya orang Jepang menyajikan makanan di nabe (panci panas). Bahan makanan yang dimasukkan ke dalam nabe bermacam-macam seperti sayuran, daging, dan makanan laut.

Bersosialisasi dengan secangkir minuman

budaya jepang
Photo by Danis Lou on Unsplash

Tidak bisa diragukan lagi bahwa orang Jepang sangat suka minum. Budaya Jepang ini pada umumnya dilakukan bersama-sama. Tujuannya biasanya untuk saling mengenal, baik itu teman kuliah atau teman satu komunitas.

Budaya Jepang ini pun umum dilakukan di persuahaan. Untuk memastikan hubungan baik dan pekerjaan berjalan dengan lancar, atasan dan karyawan pergi untuk minum di kedai sepulang kerja. Hal ini bertujuan untuk membuka sekat antara atasan dan karyawan dan tertawa bersama tanpa aturan ketat pekerjaan.

Sake adalah salah satu jenis minuman yang paling sering dikonsumsi. Biasanya sake tidak disajikan begitu saja. Ada makanan pendamping yang turut menyertai seperti edamame, cumi kering, atau kue beras. Cara minum sake pun tidak sembarangan. Ada aturan yang harus diikuti.

  • Minuman harus dituangkan oleh orang lain
  • Tidak boleh mulai minum sebelum gelas semua orang terisi
  • Tidak boleh langsung minum dari botol
  • Bersulang sambil mengucapkan kata kanpai

Minum teh dengan cara yang unik

budaya jepang
Photo by Roméo A. on Unsplash

Selain sake, minuman lain yang menjadi bagian dari budaya Jepang adalah teh. Upacara minum teh memiliki sejarah panjang di budaya Jepang. Untuk menyelenggarakan satu upacara minum teh secara formal, dibutuhkan waktu berjam-jam.

Upacara dimulai dengan menyantap kaiseki, makanan dengan menu yang beragam/mutli-course. Setelah itu, teh pekat disajikan untuk diminum yang diakhiri dengan teh yang lebih ringan. Dalam penyelenggaraannya, ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi.

Mengenakan pakaian yang mencolok dan menyemprotkan parfum tidak diperkenankan. Pakaian haruslah sopan dan perhiasan yang mungkin merusak peralatan minum teh harus dilepas.

Penyelenggaraan budaya Jepang yang satu ini dilakukan di ruangan teh beralaskan tatami. Bangunannya pun harus dikelilingi kebun. Pasalnya, dulu upacara minum teh diadakan agar tamu yang berkunjung bisa beristirahat dari kepadatan kota.

Meski demikian, budaya Jepang yang satu ini kini dilakukan lebih sebagai hobi. Organisasi yang menyelenggarakannya pun beragam dari yang sangat formal sampai santai sekalipun. Kyoto dan Uji adalah dua daerah paling baik untuk bisa menikmati upacara minum teh.

Origami ternyata bukan asli budaya Jepang

budaya jepang
Photo by Carolina Garcia Tavizon on Unsplash

Jika kamu pernah melipat kertas berwarna saat kecil dulu, kemungkinan besar kamu sudah mengenal origami. Seni melipat kertas ini digunakan dulu di perayaan-perayaan. Botol sake di upacara pernikahan Shinto dibungkus dengan origami yang bernama ocho mecho (kupu-kupu jantan dan betina).

Meskipun banyak yang mengklaim origami sebagai budaya Jepang, seni melipat kertas ini memiliki pengaruh besar dari Eropa. Ialah Friedrich Frobel, penemu taman kanak-kanak itu slelalu memberikan lipatan kertas sebagai hadiah kepada anak-anak yang ia ajar.

Ide ini pun diadopsi oleh berbagai negara termasuk budaya Jepang pada masa restorasi Meiji tahun 1868. Hal ini menyebabkan produksi kertas berukuran 15×15 sentimeter dari Eropa menyebar di Jepang.

Kaya akan festival budaya Jepang

budaya jepang
Photo by Levi Clancy on Unsplash

Matsuri atau festival adalah bagian tak terpisahkan dari budaya Jepang. Sekiranya ada sekitar 200.000 festival di Jepang baik di cakupan lokal atau nasional.

Festival-festival ini biasanya diadakan oleh kuil untuk memperingati dewa-dewa kuil atau peristiwa bersejarah. Festival yang diadakan pun bervariasi mulai dari yang sunyi dan introspektif hingga liar dan berbahaya. Ada juga festival religi, api, dansa, salju, musik, dan lain-lain.

Menginap di hotel kapsul kekinian

Budaya Jepang adalah budaya yang menarik untuk dicermati. Salah satu yang sedang tren adalah hotel kapsul. Nah, jika kamu ingin mencoba tinggal di hotel kapsul, nggak perlu jauh-jau ke Jepang. Di Indonesia juga ada. Di mana lagi kalau bukan di Bobobox?

Hotel kapsul yang satu ini  memiliki suasana tenang dan hening sehingga cocok untuk menghabiskan waktu sendiri. Nggak cuma itu, teknologi yang digunakan juga canggih. Untuk memesan kamar, kamu bisa melakukannya melalui aplikasi Bobobox.

Aplikasi ini, selain untuk memesan, juga berfungsi sebagai kunci kamar lho. Tinggal pindai saja QR code-nya. Sangat mudah dan praktis kan? Jadi, tunggu apa lagi? Ayo menginap di Bobobox sekarang juga!