Bobobox Indonesia
Experience More For Less sleep better and be inspired

Alami Pengalaman Budaya Bali yang Sesungguhnya dengan Mengunjungi Desa-Desa Adat Berikut Ini!

Desa yang kental dengan tradisi unik dan sakral

Tak hanya menyuguhkan  pesona alam yang memanjakan mata, Bali juga terkenal dengan masyarakatnya yang menjunjung tinggi budaya dan adat istiadatnya. Untuk bisa mengenal lebih dekat adat dan budaya tersebut, kunjungan ke sejumlah desa adat Bali bisa menjadi pilihan.

Penduduk desa-desa tersebut umumnya merupakan penduduk Bali Mula atau Bali Asli. Mereka menjadi yang pertama kali mendiami Bali sebelum kedatangan penduduk Jawa atau kaum Bali Jawa. Di desa tersebut, penduduk masih memegang teguh aturan pendahulunya, seperti larangan berpoligami dan bercerai.

Selain itu, desa-desa adat Bali itu juga memiliki keunikan tersendiri yang sukses menjadi daya tarik pengunjung baik lokal maupun mancanegara. Apa sajakah desa adat Bali itu? Simak lima di antaranya berikut ini!

Desa Penglipuran

desa adat bali penglipuran
@apartura/iStockphoto

Desa Penglipuran terletak di sekitar kaki Gunung Batur di Kelurahan Kubu, Kabupaten Bangli. Berkunjung ke desa adat Bali ini, kamu akan dimanjakan dengan suasana yang asri, tenang, hijau dan menyejukkan.

Nama Penglipuran berasal dari kata “Pengeling Pura” yang berarti tempat suci untuk mengenang para leluhur. Sesuai dengan namanya, desa adat Bali ini memang masih memegang teguh adat leluhur. Salah satunya adalah pemukiman unik yang telah menjadi warisan budaya Bali kuno.

Pemukiman Desa Penglipuran begitu tertata cantik, rapi dan seragam di sepanjang jalan utama. Setiap rumah memiliki luas yang sama serta pintu gapura tradisional yang juga serupa. Selain itu, kamu juga bisa menikmati rimbunnya hutan bambu yang mengelilingi desa sebagai simbol penyeimbang antara manusia dan alam. Tak hanya soal pemukiman, mereka juga punya aturan unik yang melarang mobil dan motor masuk desa agar desa terbebas dari polusi.

Desa Tenganan

desa adat Bali tenganan
via indonesia.travel

Desa Tenganan adalah desa adat Bali lainnya yang masih mempertahankan budaya dan tradisi tempo dulu. Berlokasi di Kabupaten Karangasem ini, desa satu ini akan menyambut kamu dengan pemandangan rumah-rumah tradisional serta jalanan yang masih berupa tanah dan geladak batu. Meski begitu, desa satu ini cukup terbuka pada hal-hal berbau modern termasuk listrik, transportasi dan alat komunikasi.

Memasuki Desa Tenganan, kamu bisa berkesempatan untuk menyaksikan proses penenunan kain grising. Sebagai informasi, Desa Tenganan menjadi satu-satunya yang memproduksi kain tenun berkualitas tinggi ini. Karenan itu kain ini pun kerap menjadi incaran banyak pelancong.

Selain itu, penduduk desa juga kerap menggelar tradisi unik pada bulan Juni dan Juli, yaitu tradisi Perang Pandan atau mekare-kare. Tradisi ini melibatkan pemuda desa yang saling bertarung menggunakan daun pandan berduri dan tameng dari anyaman rotan.

Lain halnya dengan para pemuda, para gadis Tenganan akan menjalani tradisi ayunan kayu usai Perang Pandan berakhir. Mereka akan mengenakan pakaian tradisional berwarna keemasan lalu duduk di atas ayunan yang digerakkan oleh dua orang pemuda.

Desa Trunyan

desa adat bali trunyan
via tribunnewswki.com

Desa Trunyan berlokasi di pinggir Danau Batur, tepatnya di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Untuk bisa mencapainya, kamu perlu menyebrangi danau tersebut dengan perahu motor. Mengunjungi Desa Trunyan, berarti kamu harus siap menghadapi tradisi pemakaman yang cukup aneh dan terkesan menyeramkan bernama Mepasah atau kubur angin.

Penduduk desa tidak mengubur jenazah di dalam tanah seperti pada umumnya. Mereka justru mebiarkan jenazah di atas permukaan tanah dengan berpagarkan kurungan anyaman bambu untuk melindungi dari serangan hewan buas.

Meski jenazah membusuk, kamu tidak perlu khawatir dengan aroma tidak sedapnya. Jenazah diletakkan di bawah pohon taru menyan yang menguarkan aroma wangi menyengat sehingga bisa menetralisir aroma tidak sedap dari proses pembusukan jenazah.

Meski begitu, jumlah jenazah di bawah pohon tidak boleh lebih dari 11 jenazah. Saat ada jenazah baru, tulang belulang jenazah paling lama akan dipindahkan untuk mengakomodasi jenazah baru tersebut.


Baca Juga: Sakral Dan Penuh Makna, Ini Dia Tradisi Pemakaman Paling Unik Di Dunia


Prosesi pemakaman ini juga tidak berlaku bagi semua orang dan memiliki syarat-syarat tertentu, yaitu:

  • Meninggal dengan wajar (karena sakit atau sudah tua)
  • Telah berumah tangga
  • Bujangan (teruna) dan perawan (debunga)
  • Anak kecil yang gigi susunya sudah tanggal (mekutus)
  • Aggota tubuh lengkap

Mereka yang menjalani proses mepasah akan diletakkan di wilayah pamakaman yang disebut Sema Wayah, terutama untuk yang sudah menikah. Selain itu, ada juga wilayah Sema Nguda dan Sema Bantas.

Sema Nguda adalah wilayah khusus bayi yang meninggal dan jenazahnya akan dikubur. Selain itu, Sema Nguda juga digunakan untuk kuburan mepasah jenazah yang berstatus belum menikah dan mekutus. Sementara itu, Sema Bantas adalah untuk jenazah yang meninggal akibat kecelakaan dan selanjutnya harus dikubur.

Desa Tigawasa

via obyekwisataterlengkap.blogspot.com

Desa Tigawasa berlokasi di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.Berada di ketinggian antara 500-700 mdpl, desa adat Bali satu ini sudah pasti menyuguhkan hawa segar serta pemandangan asri perkebunan dan sawah.

Di desa ini, kamu juga bisa menyaksikan keindahan alam dari gardu pandang berbahan bambu sambil menikamti kopi robusta hasil petikan langsung dari kebun para petani. Desa Tigawasa juga terkenal sebagai penghasil kerajinan anyaman bambu. Karena itu, jangan lewatkan kesempatan untuk membeli anyaman berupa sokasi dan bedeg.

Sebagai desa adat Bali, Tigawasa juga menjadi lokasi yang tepat untuk mempelajari berbagai tradisi, budaya dan adat istiadat yang sudah ada sejak lama. Salah satunya adalah tradisi pemakaman yang cukup berbeda dengan desa lain di Buleleng.

Di desa adat Bali satu ini, penduduk tidak mengenal tradisi pembakaran mayat dalam upacara ngaben. Alih-alih dibakar, jenazah akan dikuburkan setelah dibungkus dengan kain batik. Tradisi ini konon berkaitan dengan kepercayaan Dewa Swambu yang dianut penduduk desa. Selain itu, Desa Tigawasa ini juga memiliki tradisi Meboros Kidang, yaitu berburu kijang atau rusa untuk sarana pecaruan dalam menyambut hari raya Nyepi desa.


Baca Juga: Selamat Hari Raya Nyepi! Pelajari Makna, Budaya Dan Tradisi Perayaan Nyepi Berikut Ini!


Desa Cempaga

via dispar.bulelengkab.go.id

Masih di Kecamatan Banjar, Buleleng, kamu akan menjumpai desa adat Bali lainnya dengan sebutan Desa Cempaga. Desa satu ini terutama terkenal dengan berbagai jenis tarian sakral yang bisa kamu saksikan di waktu-waktu tertentu. Tarian tersebut meliputi:

  • Jangkang
  • Baris (Baris Jojor dan baris Dadap)
  • Pendet
  • Selir
  • Tapel
  • Rejang (Beneh, Tuding Pelayon, Lilit Nyali, Sirig Buntas, Embung Kelor, Kepet, Galuh, Pengecek Galuh, Dephe, Bungkol, Renteng, Lilit, Legong, dan Unda)

Selain itu, Cempaga juga memiliki Upacara Mecacar. Penduduk menjalani upacara tersebut di pura sekitar pukul 01.00 WITA saat Upacara Galungan, Upacara Kuningan dan Karya Agung Muayon.


Baca Juga: Tidak Hanya Indah, Ini Dia Tarian-Tarian Tradisional Yang Sarat Akan Unsur Mistis


Bobocabin Ada di Bali!

Sudah tahu belum, Bobocabin dari Bobobox kini ada di Kintamani, Bangli, Bali! Hadir dengan 30 unit kabin, Boobocabin siap menemani liburan kamu di tengah indahnya alam Kintamani, tentu dengan balutan teknologi canggih khas Bobobox.

Bobocabin satu ini akan memanjakan kamu dengan pemandangan Gunung Batur, Gunung Agung hingga Danau Batur di depan mata. Tertarik menikmati keindahan dan keseruannya? Yuk unduh dulu aplikasi Bobobox untuk reservasi dan informasi lebih lanjut!

You might also like